Agricom.id

Perkuat Sektor Pangan, Saatnya Gunakan Bioteknologi




Perkuat Sektor Pangan, Saatnya Gunakan Bioteknologi
Agricom.id

02 October 2019 , 06:34 WIB

Agricom.id, JAKARTA - Indonesia dan juga dunia kedepan akan menghadapi permasalahan kekurangan pangan. Hal ini bisa disebabkan perubahan cuaca, alih guna lahan pertanian hingga makin bertambahnya populasi manusia. Jika tidak ada langkah antisipasi yang tepat, maka bahaya kelaparan bakal melanda dunia.

Hal tersebut disampaikan  Prof. Bambang Sugiharto dari Center for Development of Advanced Science and Technology (CDAST) Universitas Jember Pada acara Focus Group Discussion (FGD) yang bertema, "Akselerasi Penerapan Teknologi Pertanian Indonesia, Khususnya Manfaat Bioteknologi untuk kedaulatan Pangan" di Jakarta, yang dihadiri Agricom.id, Selasa (1/10/2019).

Menurut Bambang, penerapan teknologi pertanian, seperti persilangan dan seleksi tanaman untuk menghasilkan varietas baru dengan pertumbuhan dan produksi tinggi sudah dilakukan sejak dahulu kala. Masalah, peningkatan produksi dengan  persilangan (green revolution) diikuti pula dengan input tinggi seperti pupuk dan obat-obatan. Jika terus-menerus dilakukan akan menimbulkan masalah pada lingkungan dan manusia.

"Penggunaan pestisida menyebabkan lingkungan menjadi tercemar dan membahayakan pekerja pertanian, hewan liar dan insekta. Kemudian, penggunaan pupuk berlebihan menyebabkan pencemaran air dan ledakan pertumbuhan alga. Penurunan nilai nutrisi makanan," jelas Bambang.

Kemudian bagaimana untuk mengatasinya. Produktivitas pertanian tetap tinggi namun tanpa merusak lingkungan dan manusia.

Bambang menjelaskan, salah satu usaha yang tengah dikembangkan oleh pemerintah bersama akademisi dan pihak terkait adalah pemanfaatan bioteknologi untuk pertanian. Namun, lanjutnya, pemanfaatan produk pertanian hasil bioteknologi terutama hasil rekayasa genetika harus tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian yang berlandaskan pada keamanan pangan, keamanan pakan dan keamanan lingkungan sebelum masuk ke tahapan komersialisasi.

"Saat ini masih ada kekhawatiran di kalangan masyarakat akan bahaya yang mungkin ditimbulkan bagi kesehatan manusia, maupun keamanan lingkungan dari Produk Rekayasa Genetika atau PRG untuk tujuan pemenuhan kebutuhan pangan maupun sebagai bahan tanam pada usaha budidaya pertanian," kata Bambang.

Bambang mengakui, keraguan akan keamanan tanaman PRG akan tetap ada selama jaminan keamanan masih belum bisa diberikan,” tutur Bambang. (A2)


TOP