Agricom.id

Pertemuan Bilateral Indonesia-Eurasia: Untuk Kerja Sama Ekonomi Yang Lebih Luas




Pertemuan Bilateral Indonesia-Eurasia: Untuk Kerja Sama Ekonomi Yang Lebih Luas
Agricom.id

18 October 2019 , 06:28 WIB

Agricom.id, TENGERANG – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Angota Dewan Menteri untuk Integrasi Ekonomi dan Makroekonomi Eurasian Economic Commission (EEC) Eurasian Economic Union (EAEU) Sergey Glasyev melakukan pertemuan bilateral membahas perdagangan dan investasi dalam rangka peningkatan kerja sama ekonomi Indonesia dengan Negara anggota EEC. Pertemuan dilakukan di sela-sela rangkaian kegiatan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-34 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Indonesia, pada hari ini, Kamis (17/10/2019). Sebelum pertemuan bilateral dimulai, Menteri Sergey menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa stan di TEI 2019.

Pertemuan dilanjutkan dengan penandatanganan Memorandum Kerja Sama (Memorandum of Cooperation/MOC) antara Indonesia dan EEC, sebagai bentuk komitmen kedua pihak mempererat hubungan ekonominya.

“Pertemuan ini merupakan implementasi dari visi Presiden Joko Widodo dalam meningkatan ekspor, yaitu dengan membuka pasar baru bagi produk Indonesia, dan EAEU adalah pasar nontradisional,” ujar Mendag dalam keterangan resmi diterima Agricom.id, belum lama ini.

Lebih lanjut Mendag menegaskan bahwa MOC akan dijadikan landasan bagi kedua pihak untuk memulai kerja sama teknis di berbagai bidang guna peningkatan perdagangan dan investasi, seperti pertukaran informasi dan pengalaman, studi bersama dan mendorong interaksi bisnis. Bidang kerja sama MOC mencakup 18 sektor antara lain perdagangan barang, jasa, investasi, industri, pertanian, transportasi, energi, persaingan usaha dan hak kekayaan intelektual.

“Penandatanganan ini merupakan tonggak sejarah baru bagi kedua pihak. Menteri Sergey baru saja dilantik dan kunjungan ini merupakan kunjungan pertama Menteri Sergey ke luar negeri. Hal ini memperlihatkan komitmen kedua pihak dalam peningkatan hubungan perdagangan Indonesia dengan Negara-negara anggota EEC,” jelas Engggar.

EEC sebelumnya sudah menandatangani MOC serupa dengan negara ASEAN lainnya. Pada pertemuan bilateral hari ini, kedua Menteri juga membahas tentang kerja sama dalam konteks ASEAN-EEC Dialogue.

“Untuk itu, kita harus memanfaatkan kerja sama ini untuk membangun momentum dan mendorong daya saing Indonesia, khususnya dengan EEC. Indonesia dan EEC akan melakukan pertemuan pertama Joint Working Group pada semester pertama 2020 untuk mengidentifikasi kerja sama konkrit yang dapat dilakukan oleh kedua pihak,” jelas Mendag.

Pada pertemuan ini kedua Menteri juga membahas isu-isu hambatan perdagangan diantaranya eksportasi kelapa sawit yang merupakan produk ekspor komoditas unggulan Indonesia ke negara EEC.

EAEU adalah pasar tunggal yang beranggotakan lima negara, yaitu Armenia, Belarusia, Kazakhstan, Kirgistan, dan Federasi Rusia. Kelompok negara EAEU memiliki populasi sekitar 183 juta jiwa dan produk domestik bruto (PDB) per kapita sebesar US$ 27 ribu.

Pada 2018, perdagangan Indonesia-EAEU mencapai US$ 2,85 miliar dengan ekspor Indonesia ke EAEU sebesar US$ 1,04 miliar dan impor sebesar US$ 1,81 miliar. Secara umum tren perdagangan kedua pihak dari 2014—2018 meningkat sebesar 3,37 persen.

Ekspor utama Indonesia ke negara EAEU pada 2018 adalah minyak kelapa sawit dan turunannya (US$ 403,19 juta), kelapa kopra, biji sawit atau minyak babasu (US$ 69,32 juta), margarin (US$ 49,62 juta), amino oksigen (US$ 42,71 juta) dankaret alam (US$ 34,85 juta). Sementara impor utama Indonesia dari negara EAEU adalah produk besi/baja setengah jadi (US$ 513,09 juta), pupuk kalium mineral atau kimia (US$ 421,63 juta), gandum dan meslin (US$ 291,65 juta), batu bara dan bahan bakar padat lainnnya (US$ 130,24 juta) danpupuk bkn nitrogen mineral atau kimia (US$ 75,02 juta). (A2)

 


TOP