Harga CPO kontrak Desember 2026 di Bursa Malaysia turun 0,79% menjadi RM4.524 per ton, sementara harga CPO KPBN terkoreksi Rp41 menjadi Rp14.625 per kg pada Rabu (7/10/2026). Tekanan pasar dipicu kekhawatiran lonjakan persediaan minyak sawit Malaysia.
AGRICOM, JAKARTA — Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali melemah pada Rabu (7/10/2026). Penurunan terjadi untuk sesi kedua berturut-turut, di tengah kekhawatiran terhadap meningkatnya persediaan minyak sawit Malaysia.
Mengutip Reuters, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Desember 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup turun RM36 per ton atau sekitar 0,79% menjadi RM4.524 per ton. Harga tersebut setara sekitar US$1.107,20 per ton.
BACA JUGA: Kontrak CPO Bursa Malaysia Selasa (6/10) Turun, Harga KPBN Naik Tipis
Tekanan terhadap harga CPO terutama berasal dari kekhawatiran meningkatnya stok minyak sawit Malaysia. Berdasarkan survei Reuters, persediaan minyak sawit Malaysia diperkirakan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada September 2026.
Persediaan tersebut diperkirakan melampaui rekor yang sebelumnya tercatat pada Desember 2018. Kondisi ini terjadi setelah produksi minyak sawit Malaysia meningkat ke level rekor, sementara permintaan ekspor masih relatif lesu.
Kenaikan harga minyak mentah global menjadi salah satu faktor yang membatasi tekanan terhadap CPO. Namun, sentimen dari potensi peningkatan persediaan tetap menjadi perhatian utama pelaku pasar.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Rabu 7 Oktober 2026 Turun ke Rp14.625/Kg, Bursa Malaysia Melemah
Harga CPO KPBN Ikut Melemah
Di pasar domestik, harga CPO yang ditetapkan PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) juga mengalami penurunan pada Rabu (7/10/2026).
Harga CPO KPBN ditetapkan sebesar Rp14.625 per kg, turun Rp41 per kg atau sekitar 0,28% dibandingkan harga pada Selasa (6/10/2026) sebesar Rp14.666 per kg.
BACA JUGA: Harga Referensi CPO Oktober 2026 Naik Jadi USD 1.042,15/MT, BK USD 178 dan PE USD 130,269 per MT
Dengan demikian, pelemahan harga CPO terjadi baik di pasar berjangka Malaysia maupun pasar domestik Indonesia. Pergerakan tersebut mencerminkan tekanan dari sisi fundamental, khususnya kekhawatiran terhadap meningkatnya pasokan dan persediaan minyak sawit.
Perkembangan stok Malaysia menjadi perhatian karena peningkatan persediaan dapat memberikan tekanan terhadap harga CPO apabila pertumbuhan produksi tidak diimbangi dengan peningkatan ekspor dan konsumsi.
Sementara itu, pergerakan harga minyak mentah masih menjadi salah satu faktor eksternal yang dapat memberikan dukungan terhadap pasar minyak nabati, termasuk CPO.
Data harga CPO:
| Pasar | Kontrak/Periode | Harga | Perubahan |
| Bursa Malaysia Derivatives | Desember 2026 | RM4.524/ton | -RM36 (-0,79%) |
| KPBN | 7 Oktober 2026 | Rp14.625/kg | -Rp41 (-0,28%) |
| KPBN | 6 Oktober 2026 | Rp14.666/kg | — |
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar akan mencermati perkembangan data persediaan dan produksi minyak sawit Malaysia, serta kinerja ekspor untuk melihat arah harga CPO selanjutnya. (A3)








