Harga CPO Malaysia Senin (21/9) Turun 0,84%, Tertekan Ringgit dan Ekspor

AGRICOM
Dok. Agricom / Harga CPO Malaysia kembali melemah untuk sesi kedua, sementara harga CPO KPBN justru naik tipis Rp13 menjadi Rp15.721 per kg.

AGRICOM, JAKARTA — Harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali melemah pada perdagangan Senin (21/9/2026). Kontrak CPO untuk pengiriman Desember 2026 turun untuk sesi kedua berturut-turut, tertekan penguatan ringgit, penurunan harga minyak mentah dunia, serta indikasi perlambatan ekspor produk sawit Malaysia.

Mengutip Reuters, kontrak CPO Desember 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup turun RM41 per ton atau sekitar 0,84% menjadi RM4.857 per ton. Sehari sebelumnya, kontrak tersebut juga terkoreksi 0,77%.

Bacaan Lainnya

Pelemahan tersebut terjadi di tengah tekanan dari pasar energi global. Harga minyak mentah turun ke level terendah dalam 11 hari, seiring investor mencermati kemungkinan kemajuan diplomatik terkait konflik Iran serta peluang pulihnya sebagian pengiriman minyak dari Arab Saudi.

BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Jumat (18/9) Turun 0,77%, Pasar Nabati Global Tertekan

Penguatan ringgit turut membatasi daya tarik komoditas sawit yang diperdagangkan dalam mata uang ringgit. Bagi pembeli berbasis dolar AS, penguatan ringgit dapat membuat harga CPO Malaysia menjadi relatif lebih mahal.

Dari sisi fundamental, pasar juga mencermati perkembangan ekspor produk sawit Malaysia. Berdasarkan estimasi sejumlah surveyor kargo, pengiriman produk sawit Malaysia selama 1–20 September 2026 diperkirakan turun sekitar 12,8% hingga 24,7% dibandingkan periode yang sama pada bulan sebelumnya.

Perkembangan tersebut menjadi sinyal bahwa permintaan ekspor belum cukup kuat untuk memberikan dukungan terhadap harga CPO di pasar berjangka.

BACA JUGA: Harga Referensi CPO September 2026 Naik 1,10% Jadi USD1.007,51 per Ton

Tekanan juga datang dari pasar minyak nabati pesaing. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 0,11%, sedangkan kontrak minyak sawit di bursa yang sama melemah 0,92%. Di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai terkoreksi 0,45%.

Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa sentimen negatif tidak hanya berasal dari faktor internal pasar sawit Malaysia, tetapi juga dari pelemahan komoditas minyak nabati dan energi global.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Senin (21/9) Naik 0,08% ke Rp15.721/kg

CPO KPBN Bergerak Berlawanan

Di pasar domestik Indonesia, harga CPO yang ditetapkan PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) justru bergerak naik.

Harga CPO KPBN pada Senin (21/9/2026) ditetapkan sebesar Rp15.721 per kg, naik Rp13 per kg atau sekitar 0,08% dibandingkan harga Jumat (18/9/2026) sebesar Rp15.708 per kg.

BACA JUGA: Konferensi Nasional Perkebunan Rakyat II: Ini 3 Tuntutan Petani Sawit kepada Pemerintah

Dengan demikian, pergerakan harga CPO domestik relatif bertahan positif di tengah tekanan yang terjadi di pasar berjangka Malaysia.

Perbedaan arah tersebut menunjukkan bahwa dinamika harga CPO domestik tidak sepenuhnya mengikuti pergerakan kontrak berjangka Malaysia dalam jangka pendek. Faktor pasokan, permintaan domestik, nilai tukar, serta mekanisme perdagangan dan penetapan harga di pasar Indonesia turut memengaruhi harga CPO di dalam negeri.

Sementara itu, pasar global masih akan mencermati perkembangan ekspor Malaysia, pergerakan harga minyak mentah, nilai tukar ringgit, serta arah harga minyak nabati pesaing sebagai faktor utama yang dapat memengaruhi perdagangan CPO dalam beberapa sesi ke depan. (A3)

Pos terkait