Konsep zero waste dan ekonomi sirkular membuka peluang pemanfaatan kulit buah, kulit biji dan daun kakao menjadi produk pertanian, pangan, pakan hingga industri kreatif bernilai tambah.
AGRICOM, JAKARTA – Industri kakao nasional memiliki ruang besar untuk meningkatkan nilai tambah dengan mengembangkan seluruh bagian tanaman, bukan hanya mengandalkan biji sebagai produk utama. Konsep zero waste dan ekonomi sirkular dinilai dapat membuka sumber pendapatan baru dari berbagai hasil samping kakao.
Gagasan tersebut mengemuka dalam materi “Diversifikasi Kakao Menjadi Produk Bernilai Tambah: Dari Pangan hingga Produk Non-Pangan” yang disampaikan Ketua Umum Dewan Kakao Indonesia, Soetanto Abdoellah, Senin (14/9/2026).
BACA JUGA: Harga Referensi Kakao September 2026 Naik 3,89% Jadi USD5.635,76 per Ton
Dalam konsep tersebut, kakao dipandang bukan semata sebagai komoditas, tetapi sebagai ekosistem produk yang dapat menghasilkan sejumlah aliran pendapatan. Biji tetap menjadi sumber nilai ekonomi utama, tetapi kulit buah, kulit biji, daun dan hasil samping pengolahan juga memiliki peluang untuk dikembangkan.
“Satu tanaman, lebih banyak sumber pendapatan,” menjadi gagasan utama pengembangan model bisnis tersebut.
Dari Biji hingga Kulit Buah
Pada produk berbasis biji, peluang pengolahan dapat dikembangkan mulai dari cokelat batang, praline dan truffle, bubuk kakao, minuman cokelat, cookies, brownies, selai hingga produk kosmetik.
Produk tersebut dapat diperkuat melalui penggunaan bahan baku lokal, inovasi rasa, kemasan premium serta cerita mengenai asal-usul kakao dan petani yang memproduksinya.
BACA JUGA: Indonesia Turun ke Peringkat 7 Produsen Kakao, Pemerintah Kejar Peremajaan 247.260 Ha
Sementara itu, kulit buah kakao yang selama ini menjadi hasil samping dapat diarahkan menjadi kompos dan pupuk organik. Potensi lain mencakup pemanfaatannya sebagai sumber bahan untuk produk turunan, termasuk sumber karbohidrat dan pektin.
Namun, pengembangan produk tersebut membutuhkan formulasi, stabilitas dan pengujian keamanan sesuai tujuan penggunaannya.
Kulit buah juga berpotensi dikaji sebagai sumber mineral, termasuk kalium, setelah melalui proses yang tepat. Bahan tersebut dapat dikembangkan sebagai bagian dari formulasi pupuk maupun produk nonpangan seperti sabun, dengan syarat proses kimia dan aspek keamanan telah diuji.
BACA JUGA: Kekeringan Ancam Lahan Pertanian, BRMP Kaltim Petakan Sumber Air untuk Irigasi
Kulit Biji dan Daun Ikut Bernilai
Peluang diversifikasi juga terbuka dari kulit biji kakao atau cocoa shell. Hasil samping pengolahan biji tersebut dapat dikembangkan sebagai bahan campuran pakan ternak maupun ikan, termasuk melalui proses fermentasi.
Namun, pemanfaatannya tetap harus memperhatikan kandungan nutrisi, senyawa antinutrisi, jenis ternak atau ikan, keamanan serta ketentuan regulasi.
BACA JUGA: Kementan Dorong Potensi Pangan Lokal Papua Jadi Kekuatan Baru Ketahanan Pangan Nasional
Bagian tanaman lainnya, seperti daun kakao, juga dapat diarahkan menjadi bahan pewarna alami maupun material kreatif. Penggunaannya berpotensi masuk ke pasar tekstil, kerajinan, kemasan, dekorasi dan produk gaya hidup.
Dengan demikian, nilai ekonomi kakao tidak berhenti pada produk pangan, tetapi dapat berkembang ke sektor pertanian, peternakan, industri kreatif hingga pariwisata.
Produk Kakao Bisa Masuk Sektor Wisata
Salah satu konsep yang ditawarkan adalah pemanfaatan kulit buah kakao sebagai bahan wadah penyajian makanan penutup, seperti es krim dan dessert.
Konsep tersebut menggabungkan pengalaman farm-to-table, agrowisata dan desain produk. Pasarnya dapat diarahkan ke kafe, restoran, hotel, pusat oleh-oleh dan destinasi wisata.
BACA JUGA: Mentan Amran Ungkap 90% Beras Fortifikasi Bermasalah, Konsumen Bisa Dirugikan
Selain menjual produk, pendekatan tersebut memungkinkan pelaku usaha menjual cerita mengenai asal bahan baku dan proses pengolahannya.
Model semacam ini dapat dikembangkan melalui sistem sederhana dari kebun, panen dan sortasi. Setelah dipisahkan, biji kakao diarahkan untuk produk pangan dan kosmetik, sedangkan kulit buah, kulit biji dan daun dialokasikan untuk berbagai produk lain.
Dengan model tersebut, satu sumber bahan baku dapat menghasilkan multiple revenue streams dari sektor pangan, pertanian, produk kreatif hingga experience product.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 9–15 September 2026 Naik, Tertinggi Rp3.943,46/Kg
Butuh Validasi Sebelum Dikomersialkan
Meski peluang bisnisnya besar, pengembangan hasil samping kakao tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan potensi bahan. Setiap produk perlu melalui tahapan validasi, terutama terkait keamanan, kualitas, formulasi, stabilitas dan legalitas.
Materi tersebut menempatkan keterbatasan teknologi pengolahan, kebutuhan riset dan pengujian sebagai salah satu kelemahan pengembangan bisnis kakao berbasis ekonomi sirkular.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumsel Periode I September 2026 Tembus Rp3.823,99/Kg, Ini Rinciannya
Di sisi lain, tren produk ramah lingkungan, ekonomi sirkular, agrowisata serta peluang kolaborasi antara UMKM dan industri menjadi ruang pertumbuhan yang cukup besar.
Karena itu, pengembangan bisnis diarahkan dimulai dari produk yang paling layak secara teknis dan ekonomis sebelum diperluas menjadi ekosistem circular cocoa.
Strategi pemasaran juga perlu membangun merek yang tidak hanya menjual produk, tetapi sekaligus menjual cerita mengenai asal-usul kakao, petani dan manfaat lingkungan. Storytelling melalui media sosial, kolaborasi dengan kafe dan agrowisata hingga paket pengalaman kakao dapat menjadi bagian dari strategi tersebut.
BACA JUGA: RUU Komoditas Strategis: Menguasai atau Membangun?
Pada akhirnya, pendekatan zero waste membuka peluang untuk mengubah hasil samping yang sebelumnya dianggap limbah menjadi sumber nilai ekonomi baru. Bagi pelaku usaha kakao, tantangannya bukan sekadar menemukan sebanyak mungkin produk turunan, tetapi memilih produk yang layak diproduksi, aman, memenuhi regulasi dan memiliki pasar.
Jika pendekatan tersebut dapat dikembangkan secara konsisten, kakao berpotensi bergerak dari sekadar komoditas menjadi ekosistem bisnis dengan sumber pendapatan yang lebih beragam. (A3)
