Soal Jagung Mahal, Mendag Lutfi Salahkan Kementan, Tak Becus Jaga Produksi

Soal Jagung Mahal, Mendag Lutfi Salahkan Kementan, Tak Becus Jaga Produksi
Agricom.id

22 September 2021 , 10:18 WIB

Agricom.id, JAKARTA - Menteri Perdagangan RI Muhammad Lutfi bersuara soal harga jagung di dalam negeri yang belakangan ini tinggi dan membuat peternak menjerit. Dia salahkan Kementerian Pertanian.

Ia mengatakan kenaikan terjadi karena memang stok jagung tidak ada. "Masalah harga jagung, kalau kita punya sekarang 2,3 juta ton jagung, mungkin tidak harganya naik meroket seperti itu. Jadi kalau ada barangnya, sekarang kita jangan bicara jutaan, bicara 7.000 saja tidak ada untuk kebutuhan 1 bulan di Blitar," kata Lutfi dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR, dikutip dari CNNIndonesia, Selasa (21/9/2021).

Pernyataan Lutfi ini berbeda 180 derajat jika dibandingkan dengan yang disampaikan oleh Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi. Anak buah Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo ini, pernah mengklaim adanya persediaan jagung sebanyak 2,3 juta ton. Jumlah ini tersebar di Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) sebanyak 722 ribu ton. Lalu, di pengepul 744 ribu ton, di agen 423 ribu ton, dan sisanya di usaha lain sampai eceran ke rumah tangga.

Lutfi mengaku Kementerian Perdagangan sebenarnya sudah meramal harga jagung naik. Sebelum kenaikan terjadi, kementeriannya juga sebenarnya telah menyurati Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sejak Maret agar mewaspadai fenomena itu.

Sebagai informasi, harga jagung di pasaran belakangan ini melambung jadi Rp6.000 per kilogram. Itu jauh di atas harga acuan pembelian sebesar Rp4.500 per kilogram yang ditetapkan Kementerian Perdagangan.

Anggota DPR RI Komisi VI Mufti Anam mempertanyakan kenaikan harga jagung itu. "Fakta sebenarnya harga jagung ini sudah meningkat bahkan jauh sebelum Juni 2021 dan sudah mulai merangkak naik pada bulan Juni. Sudah melewati poin harga yang ditetapkan," ujar Mufti.

Mufti menyampaikan agar pemerintah tidak melakukan impor sebagai jawaban atas kelangkaan dan mahalnya komoditas jagung tersebut. "Apakah solusinya kita harus impor begitu? tidak harapan kami karena jangan setiap persoalan yang ada di lapangan selalu solusinya impor dan impor," pungkas Mufti.

 


TOP