Harga CPO Malaysia Tertahan, Pasar Cermati Stok dan Kebijakan Sawit Indonesia

Harga CPO Malaysia Tertahan, Pasar Cermati Stok dan Kebijakan Sawit Indonesia
Agricom.id

09 January 2026 , 13:17 WIB

Harga kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia bergerak nyaris tanpa perubahan pada Kamis (8/1/2026), tertekan ekspektasi kenaikan stok meski mendapat dukungan dari penguatan minyak nabati pesaing dan pelemahan ringgit. Foto: Agricom

 

AGRICOM, KUALA LUMPUR –  Pasar minyak sawit global bergerak hati-hati pada perdagangan Kamis (8/1/2026). Kontrak berjangka minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia nyaris tidak berubah setelah gagal mempertahankan penguatan di awal sesi. Tekanan dari ekspektasi kenaikan stok domestik menahan laju harga, meski sentimen pasar sempat ditopang oleh penguatan minyak nabati pesaing dan pelemahan nilai tukar ringgit.

Harga kontrak acuan CPO untuk pengiriman Maret 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange tercatat turun tipis RM 1 per ton atau 0,02% menjadi RM 4.032 per ton pada jeda tengah hari. Pergerakan yang relatif datar ini mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar di tengah tarik-menarik sentimen fundamental, seperti dilansir dari Reuters.

BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Menguat, Dipacu Kenaikan Soyoil dan Pelemahan Ringgit

Dari sisi regional, perhatian pasar tertuju pada Indonesia yang berpotensi menaikkan pungutan ekspor minyak sawit guna menopang pembiayaan program biodiesel nasional. Seorang pejabat Kementerian Energi menyebutkan opsi tersebut tengah dikaji di tengah pengetatan pendanaan.

Data kementerian menunjukkan konsumsi biodiesel berbasis sawit sepanjang 2025 mencapai 14,2 juta kiloliter, meningkat 7,6% dibandingkan tahun sebelumnya, seiring penerapan mandatori campuran biodiesel 40% (B40). Kebijakan ini mempertegas peran sawit sebagai tulang punggung transisi energi Indonesia, sekaligus faktor penting bagi keseimbangan pasokan ekspor.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Kamis (8/1) Naik Lagi, Tertinggi Rp 14.302 per Kg

Pergerakan minyak nabati pesaing terpantau bervariasi. Di Bursa Dalian, kontrak minyak kedelai paling aktif menguat 0,18%, sementara kontrak minyak sawit melonjak 1,27%. Sebaliknya, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade justru melemah 0,16%. Dinamika ini menunjukkan pasar global masih mencari arah di tengah kombinasi faktor energi, pangan, dan kebijakan.

Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang pada Rabu menyebut pemerintah mempertimbangkan penyitaan tambahan 4 hingga 5 juta hektare perkebunan sawit tahun ini, setelah sebelumnya menyita sekitar 4,1 juta hektare pada tahun lalu. Wacana tersebut menjadi sorotan karena berpotensi memengaruhi struktur pasokan jangka menengah, tata kelola industri, serta iklim investasi di sektor sawit.

Dengan kombinasi sentimen stok, kebijakan biodiesel, dan arah regulasi, pasar CPO diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Pelaku industri kini menunggu sinyal yang lebih jelas, baik dari data pasokan maupun kepastian kebijakan, sebelum harga menemukan arah yang lebih tegas. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP