Kementan Dorong Produksi Daging Nasional, Kontes Sapi APPSI 2026 Tampilkan Ternak Unggul Berbobot 1 Ton

AGRICOM
Dok. Istimewa / Kontes Sapi APPSI Piala Presiden 2026 di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, menjadi ajang menampilkan sapi unggulan sekaligus mendorong peningkatan kualitas genetik, produktivitas ternak, dan produksi daging nasional.
Kementerian Pertanian memperkuat pengembangan sapi unggul melalui perbaikan genetik, produktivitas, kesehatan ternak, dan akses pasar. Kontes Sapi APPSI Piala Presiden 2026 di Bogor menjadi ajang promosi ternak berkualitas sekaligus mendorong penguatan peternakan sapi potong dan sapi perah.

AGRICOM, BOGOR — Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong peningkatan produksi daging nasional melalui perbaikan kualitas genetik dan produktivitas ternak. Upaya ini dinilai penting agar peternak mampu menghasilkan sapi dengan performa lebih baik, bobot optimal, serta nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Dilansir Agricom dari Kementan, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan pentingnya pengembangan sapi unggul berbasis teknologi genetika untuk mendorong peningkatan produksi daging nasional. Salah satu upaya yang dikembangkan adalah pemanfaatan sapi Belgian Blue yang memiliki potensi pertumbuhan dan bobot badan tinggi.

Bacaan Lainnya

BACA JUGA: Mentan Amran Percepat Lima Kawasan Peternakan Terintegrasi, Ditargetkan Rampung 2027

Hal tersebut sejalan dengan semangat Kontes Sapi APPSI Piala Presiden 2026 yang digelar di kawasan Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (4/10/2026). Ajang ini tidak sekadar mencari sapi terbaik, tetapi menjadi ruang untuk menampilkan hasil kerja peternak dalam meningkatkan kualitas bibit, reproduksi, pakan, kesehatan, perawatan, hingga performa ternak.

Ratusan peternak dari berbagai daerah hadir membawa sapi-sapi unggulan mereka. Kontes yang digelar Asosiasi Peternak dan Penggemuk Sapi Indonesia (APPSI) tersebut mempertemukan peternak, komunitas, pelaku usaha, pemerintah, akademisi, dan pecinta sapi dalam satu ekosistem pengembangan peternakan nasional.

Ketua MPR RI sekaligus Ketua Dewan Pembina APPSI, Ahmad Muzani, mengatakan tingginya partisipasi peternak dari berbagai daerah menunjukkan semakin kuatnya minat masyarakat untuk mengembangkan usaha peternakan sekaligus meningkatkan kualitas ternak.

BACA JUGA: Mentan Amran Sambut Wamentan Saleh Mustafa, Speed Kerja Kementan Dipacu Jadi 200

Menurut Muzani, para peternak terus melakukan berbagai inovasi, termasuk melalui persilangan berbagai jenis sapi unggul untuk menghasilkan ternak dengan kualitas dan produktivitas yang semakin baik.

Kontes ternak, kata dia, juga menjadi sarana untuk mendorong peternak agar semakin kreatif dan mengembangkan pola peternakan yang lebih modern.

“Karena ternyata beternak sapi itu menyenangkan, menggembirakan, menguntungkan dan memberi harapan terhadap masa depan,” kata Muzani.

BACA JUGA: Hadapi EUDR, Kementan Perkuat Ketertelusuran Sawit, Kakao, dan Kopi Indonesia

Muzani juga menyoroti meningkatnya partisipasi peternak Jawa Barat dalam kontes tahun ini. Dari lebih dari 250 peserta, lebih dari 100 peserta berasal dari Jawa Barat. Kondisi tersebut dinilai positif karena selama ini kontes ternak banyak didominasi peternak dari Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Menurutnya, peningkatan partisipasi tersebut membuka peluang bagi peternak Jawa Barat untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan daya saing.

“Sehingga Jawa Barat ingin mengambil pasar itu dan itu saya kira bagus, sehingga ada persaingan sehat di antara para peternak,” ujarnya.

BACA JUGA: Kementan Targetkan 600 Ribu Sapi Perah Tambahan hingga 2029 untuk Kejar Swasembada Susu Nasional

Kabupaten Bogor sendiri dinilai memiliki potensi untuk mendukung pengembangan usaha sapi, terutama dari sisi lingkungan dan ketersediaan pakan. Kondisi tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat kawasan peternakan dan meningkatkan skala usaha peternak.

Di sisi lain, penguatan peternakan nasional tidak hanya diarahkan pada sapi potong. APPSI juga mulai memperluas perhatian pada pengembangan sapi perah untuk menjawab kebutuhan susu nasional yang terus meningkat, terutama seiring pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Setelah ini APPSI akan berkonsentrasi kepada upaya untuk melakukan swasembada susu karena ini sangat penting,” kata Muzani.

BACA JUGA: TEI 2026 Hadirkan Zona Khusus Kopi, Teh, dan Kakao, Permudah Buyer Temukan Produk Indonesia

Ia menilai kebutuhan susu dalam negeri menjadi peluang besar bagi peternak untuk meningkatkan produksi sekaligus memperkuat usaha peternakan rakyat.

“Kebutuhan susu kita kurang itu sejak sebelum ada MBG, apalagi ada MBG, lebih banyak lagi,” ujarnya.

Karena itu, Muzani berharap pengembangan peternakan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, hingga peternak kecil, menengah, dan besar.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Kamis (8/10) Naik Rp225 Jadi Rp14.850/Kg, Bursa Malaysia Menguat hingga RM4.925 per Ton

“Harapannya ke depan pemerintah daerah terlibat semua, peternak kecil, besar, menengah terlibat dan kita semua terlibat,” katanya.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda hadir mewakili Mentan Amran dalam kegiatan tersebut. Ia menegaskan pemerintah terus memperkuat ekosistem peternakan dari hulu hingga hilir, termasuk peningkatan mutu genetik, produktivitas, kesehatan ternak, pembiayaan, pakan, hingga akses pasar.

Penguatan genetik menjadi salah satu fondasi penting karena produktivitas ternak sangat ditentukan oleh kualitas bibit. Kementan sendiri tengah memperkuat sistem seleksi genetik sapi pedaging dan sapi perah agar proses pemuliaan ternak semakin terukur dan berbasis data.

BACA JUGA: Harga Karet SGX–SICOM Hari Ini 8 Oktober 2026 Turun Rp432, KKK 100% Jadi Rp45.936/Kg

Dukungan konkret juga diberikan melalui Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang yang menghibahkan dua ekor sapi kepada APPSI. Masing-masing sapi memiliki bobot sekitar 1 ton.

Hibah tersebut menjadi bentuk dukungan pemerintah terhadap komunitas dan peternak yang aktif mendorong peningkatan kualitas ternak sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi sapi unggul kepada masyarakat.

Bagi Kementan, ukuran keberhasilan pengembangan peternakan bukan hanya terlihat dari sapi yang tampil sebagai juara di arena kontes. Lebih jauh, peningkatan kualitas genetik harus bermuara pada produktivitas yang lebih tinggi, efisiensi usaha, kesehatan ternak, kepastian pasar, dan peningkatan pendapatan peternak.

Dengan demikian, kontes ternak dapat menjadi etalase inovasi sekaligus pemicu lahirnya lebih banyak peternak yang mampu menghasilkan sapi berkualitas dan berdaya saing untuk memperkuat kemandirian protein nasional. (A3)

Pos terkait