Komisi IV DPR RI memastikan pasokan beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) tetap lancar dan harga terkendali. BPS mencatat produksi padi mencapai 43,89 juta ton gabah kering giling (GKG) pada Januari–Agustus 2026, sedangkan produksi beras untuk konsumsi masyarakat mencapai 25,29 juta ton.
AGRICOM, JAKARTA — Komisi IV DPR RI memastikan ketersediaan beras nasional dalam kondisi aman setelah melakukan kunjungan kerja ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Jumat (2/10/2026). Pemantauan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi stok, kelancaran pasokan, dan perkembangan harga beras di pasar.
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto mengatakan, hasil pemantauan menunjukkan pasokan beras di PIBC berjalan lancar. Beras dari sejumlah sentra produksi, termasuk Jawa Barat dan Jawa Tengah, tersedia di pasar dengan harga yang dinilai masih terkendali.
BACA JUGA: Mentan Amran: Produksi Beras Aman di Tengah El Nino, SPHP Ditambah 1 Juta Ton
“Kami hadir di sini untuk memastikan stok beras cukup, ada, aman, dan harganya juga stabil serta terjaga untuk masyarakat,” ujar Titiek, dikutip Agricom dari laman Kementerian Pertanian (Kementan), Jumat (9/10/2026).
Menurut Titiek, ketersediaan beras di PIBC menunjukkan kondisi pasokan masih berjalan normal. Dialog dengan pedagang juga memperlihatkan beras dari daerah sentra produksi terus mengalir ke pasar.
“Kami lihat tadi stoknya lancar. Stok berasnya ada, dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan harganya pun baik, tidak tinggi,” katanya.
BACA JUGA: 25 Merek Beras Fortifikasi Bermasalah Ditarik, Mentan Amran Siapkan Proses Hukum
Ia menegaskan, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh besarnya stok, tetapi juga oleh kelancaran distribusi dari produsen dan Perum Bulog hingga ke konsumen. Distribusi yang efektif diperlukan agar masyarakat memperoleh beras dengan harga terjangkau dan kualitas yang baik.
“Masalah beras ini bukan hanya masalah stok, tetapi bagaimana kita memastikan beras didistribusikan dari produsen dan Bulog ke pasar secara efektif dan efisien, kemudian sampai ke masyarakat dengan harga terjangkau dan kualitas yang baik,” jelasnya.
Produksi Padi 2026 Capai 43,89 Juta Ton GKG
Kondisi pasokan tersebut sejalan dengan perkembangan produksi padi nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi Indonesia selama Januari–Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton gabah kering giling (GKG). Berdasarkan angka tetap BPS yang dirujuk dalam keterangan tersebut, produksi meningkat 0,07% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Pada periode yang sama, produksi beras untuk konsumsi pangan masyarakat tercatat mencapai 25,29 juta ton, atau meningkat 0,07% dibandingkan Januari–Agustus 2025.
BACA JUGA: IPOC 2026: GAPKI Bahas Harga Sawit 2027, Ketahanan Pangan dan Energi di Tengah Geopolitik Global
Titiek menilai produksi dalam negeri menjadi faktor penting dalam menjaga ketersediaan beras nasional. Ia juga mengapresiasi kemampuan produksi pangan domestik dalam memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa mengandalkan impor beras.
“Yang penting kita ini tidak impor lagi. Semuanya sudah diproduksi dalam negeri. Alhamdulillah. Dengan produksi yang sekian banyak berarti petaninya maju dan mudah-mudahan bisa makmur,” ujarnya.
Kementan Perkuat Dukungan kepada Petani
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, terjaganya produksi padi nasional didukung berbagai upaya pemerintah untuk mempertahankan produktivitas petani. Salah satunya melalui penguatan sarana produksi dan pengelolaan air untuk menghadapi tantangan cuaca.
“Kami turun, pasang pompa-pompa, kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh membiarkan petani jalan sendiri, kita harus turun tangan,” tegas Amran.
BACA JUGA: Harga Karet SGX–SICOM Jumat (9/10) Naik Rp169, Tembus Rp46.105 per Kg
Menurutnya, pemerintah akan terus memperkuat intervensi di lapangan agar petani dapat mempertahankan kegiatan produksi. Langkah tersebut sekaligus ditujukan untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional di tengah berbagai tantangan pertanian.
Bulog Pastikan Pasokan Beras di Pasar Memadai
Dari sisi distribusi, Kepala Bulog Ahmad Rizal Ramdhani juga memastikan pasokan beras di PIBC tersedia dalam jumlah memadai. Ia menyampaikan bahwa hasil kunjungan Komisi IV DPR RI menunjukkan beras tetap tersedia di pasar, meskipun sebelumnya muncul informasi mengenai dugaan kelangkaan.
“Awalnya ada info katanya ada kelangkaan beras, ternyata beras cukup berlimpah. Pemerintah maupun teman-teman swasta sudah semaksimal mungkin menyediakan kebutuhan beras masyarakat. Buktinya beras-beras itu ada di pasaran,” ujar Rizal.
Ia menjelaskan, Bulog menyiapkan sekitar 507 ton beras premium per hari untuk memenuhi kebutuhan nasional. Menurutnya, volume tersebut setara sekitar 10% dari kebutuhan nasional, sedangkan sekitar 90% lainnya dipenuhi melalui pasokan pelaku usaha swasta.
“Bulog per hari menyiapkan beras premium seluruh Indonesia lebih kurang 507 ton per hari. Ini baru sekitar 10 persen dari kebutuhan nasional, sisanya 90 persen didukung dan disuplai oleh teman-teman pihak swasta,” jelasnya.
Selain beras premium, Bulog juga menyalurkan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke berbagai wilayah. Volume penyalurannya disebut mencapai hampir 4.000 ton per hari.
BACA JUGA: Hadapi EUDR, Kementan Perkuat Ketertelusuran Sawit, Kakao, dan Kopi Indonesia
“Untuk beras SPHP, Bulog tiap hari ada lebih kurang hampir 4.000 ton per hari yang kita salurkan ke seluruh tanah air,” ujarnya.
Cadangan Beras Nasional Disebut 4,8 Juta Ton
Sementara itu, Titiek menyebut cadangan beras nasional berada di kisaran 4,8 juta ton. Menurutnya, cadangan yang besar menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga ketersediaan beras sekaligus membantu meredam gejolak harga di masyarakat.
“4,8 jutaan ton per hari ini. Jadi tidak usah khawatir bahwa kita akan kelaparan beras. Kalau stoknya banyak berarti harganya bisa terkendali, tidak fluktuasi,” tegas Titiek.
BACA JUGA: Komisi IV DPR Dorong Anggaran Kementan 2027 Diperkuat untuk Jaga Swasembada Pangan
Kunjungan Komisi IV DPR RI ke PIBC menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara produksi, cadangan, dan distribusi beras. Ketiga aspek tersebut menjadi faktor utama dalam memastikan pasokan pangan tetap tersedia dan harga beras terjangkau bagi masyarakat.
Meski demikian, angka produksi, cadangan, dan pasokan harian yang disampaikan masing-masing pihak memiliki cakupan berbeda. Karena itu, pemantauan berkelanjutan terhadap distribusi dan perkembangan harga di tingkat pasar tetap diperlukan untuk menjaga stabilitas pangan nasional. (A3)




