Harga CPO Bursa Malaysia Menguat, Ekspor Sawit Naik hingga 37,73%

AGRICOM
Dok. Sawit Fest 2021 / Wahyu Karbadi / Pergerakan harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives ditutup mayoritas menguat pada Senin (12/10/2026), didukung kenaikan estimasi ekspor Malaysia. Namun, harga CPO di tender KPBN Inacom berakhir withdraw (WD) dengan penawaran tertinggi Rp14.808/kg.
Harga CPO kontrak Desember 2026 di Bursa Malaysia naik RM45 menjadi RM4.637 per ton setelah estimasi ekspor sawit Malaysia meningkat 33,51%–37,73% pada periode 1–10 Oktober 2026. Sementara itu, harga CPO KPBN Inacom pada Senin (12/10) mengalami withdraw dengan penawaran tertinggi Rp14.808/kg, turun Rp42/kg dibandingkan perdagangan sebelumnya.

AGRICOM, JAKARTA — Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives ditutup mayoritas menguat pada perdagangan Senin (12/10/2026). Kenaikan ini didukung oleh meningkatnya estimasi ekspor minyak sawit Malaysia pada awal Oktober 2026, meskipun kenaikan stok dan produksi pada September masih menjadi perhatian pasar.

Mengutip laporan Bernama, seorang pedagang mengatakan penguatan harga CPO didukung oleh peningkatan permintaan ekspor yang tercermin dalam data terbaru lembaga survei kargo.

Bacaan Lainnya

BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Jumat (9/10) Anjlok hingga RM86 per Ton, Kontrak Oktober Jadi RM4.362

Amspec Agri Malaysia memperkirakan ekspor minyak sawit Malaysia mencapai 491.954 ton selama periode 1–10 Oktober 2026. Angka tersebut meningkat 37,73% atau bertambah 134.760 ton dibandingkan 357.194 ton pada periode yang sama September 2026.

Estimasi lebih tinggi dilaporkan Intertek Testing Services. Perusahaan inspeksi independen tersebut mencatat ekspor minyak sawit Malaysia mencapai 525.071 ton pada 1–10 Oktober 2026, naik 33,51% atau bertambah 131.776 ton dibandingkan 393.295 ton pada periode yang sama bulan sebelumnya.

Kenaikan estimasi ekspor dari kedua lembaga tersebut memberikan sinyal positif terhadap permintaan minyak sawit Malaysia pada awal Oktober. Meski demikian, perkembangan ekspor perlu dicermati bersama kondisi pasokan, terutama setelah produksi dan stok minyak sawit Malaysia meningkat pada September.

BACA JUGA: IPOC 2026: GAPKI Bahas Harga Sawit 2027, Ketahanan Pangan dan Energi di Tengah Geopolitik Global

Stok dan Produksi CPO Malaysia Meningkat

Berdasarkan data Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang dilaporkan pada Senin (12/10/2026), stok CPO Malaysia meningkat 31,88% atau bertambah 522.905 ton menjadi sekitar 2,16 juta ton pada September 2026, dari 1,64 juta ton pada Agustus 2026.

Dari sisi produksi, MPOB mencatat produksi CPO Malaysia naik 16,48% atau bertambah 299.451 ton menjadi sekitar 2,11 juta ton pada September 2026.

BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Turun Empat Sesi, Stok dan Lemahnya Permintaan Jadi Tekanan

Peningkatan produksi dan stok menunjukkan pasokan minyak sawit Malaysia bertambah menjelang kuartal terakhir 2026. Kondisi tersebut menjadi faktor yang perlu diperhatikan pelaku pasar dalam menilai keberlanjutan penguatan harga, terutama apabila kenaikan ekspor tidak diikuti penyerapan pasokan yang seimbang.

Dengan demikian, arah harga CPO masih dipengaruhi oleh dua perkembangan utama, yakni peningkatan permintaan ekspor pada awal Oktober dan besarnya persediaan setelah produksi September meningkat.

 

Kontrak CPO Bursa Malaysia Mayoritas Menguat

Pada penutupan perdagangan Senin (12/10/2026), pergerakan harga kontrak CPO di Bursa Malaysia Derivatives bervariasi, tetapi mayoritas kontrak ditutup menguat.

Kontrak Oktober 2026 menjadi pengecualian dengan penurunan RM162 menjadi RM4.200 per ton. Sementara itu, kontrak November 2026 naik RM33 menjadi RM4.498 per ton, dan kontrak Desember 2026 menguat RM45 menjadi RM4.637 per ton.

BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Kamis 8 Oktober 2026 Naik hingga RM4.925 per Ton, KPBN Naik menjadi Rp14.850/Kg

Penguatan berlanjut pada kontrak tahun depan. Kontrak Januari 2027 naik RM49 menjadi RM4.758 per ton, kontrak Februari 2027 meningkat RM52 menjadi RM4.862 per ton, sedangkan kontrak Maret 2027 bertambah RM53 menjadi RM4.955 per ton.

Kenaikan pada sebagian besar kontrak menunjukkan penguatan harga terkonsentrasi pada kontrak pengiriman November 2026 hingga Maret 2027. Sementara itu, penurunan kontrak Oktober perlu dibaca dalam konteks perbedaan periode penyerahan dan kondisi perdagangan masing-masing kontrak.

Harga Penutupan CPO Bursa Malaysia, 12 Oktober 2026

Kontrak Perubahan Harga penutupan
Oktober 2026 Turun RM162 RM4.200/ton
November 2026 Naik RM33 RM4.498/ton
Desember 2026 Naik RM45 RM4.637/ton
Januari 2027 Naik RM49 RM4.758/ton
Februari 2027 Naik RM52 RM4.862/ton
Maret 2027 Naik RM53 RM4.955/ton

Sumber: Bernama

 BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Jumat (9/10) Bertahan di Rp14.850/kg, Bursa Malaysia Turun hingga RM86 per Ton

Harga CPO KPBN Inacom Turun Rp42/kg, Berakhir Withdraw

Berbeda dengan mayoritas kontrak CPO di Bursa Malaysia yang menguat, perdagangan CPO di PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) Inacom pada Senin (12/10/2026) berakhir withdraw (WD), dengan harga penawaran tertinggi sebesar Rp14.808/kg.

Penawaran tertinggi tersebut turun Rp42/kg atau sekitar 0,28% dibandingkan harga CPO KPBN pada Kamis (8/10/2026) yang mencapai Rp14.850/kg.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Kamis (8/10) Naik Rp225 Jadi Rp14.850/Kg, Bursa Malaysia Menguat hingga RM4.925 per Ton

Status withdraw menunjukkan transaksi tender tidak menghasilkan kesepakatan pada harga yang ditawarkan dalam proses tersebut. Karena itu, Rp14.808/kg merupakan harga penawaran tertinggi, bukan harga transaksi final yang berhasil disepakati.

Perbedaan arah pergerakan antara Bursa Malaysia dan KPBN memperlihatkan bahwa harga di pasar internasional dan hasil tender domestik tidak selalu bergerak sejalan pada hari yang sama. Selain dipengaruhi perkembangan permintaan dan pasokan global, harga tender domestik juga mencerminkan proses penawaran serta kondisi perdagangan pada masing-masing titik penyerahan.

Pelaku industri sawit akan mencermati perkembangan ekspor Malaysia pada periode berikutnya, data persediaan dan produksi, serta pergerakan kontrak berjangka sebagai indikator untuk melihat arah pasar CPO menjelang akhir 2026. (A3)

Pos terkait