Harga karet SGX–SICOM terkoreksi menjadi 254,3 US cent/kg dengan kurs Rp17.957/US$. Harga indikatif karet berdasarkan KKK 100% turun menjadi Rp45.665/kg, sedangkan KKK 70% mencapai Rp31.965/kg.
AGRICOM, PALEMBANG — Harga karet acuan SGX–SICOM pada Jumat, 23 Oktober 2026, kembali melemah. Harga tercatat sebesar 254,3 US cent/kg, turun dari 256,0 US cent/kg pada Kamis (22/10/2026). Pelemahan tersebut membuat harga indikatif karet dengan kadar karet kering (KKK) 100% turun Rp149/kg menjadi Rp45.665/kg dari sebelumnya Rp45.814/kg.
Sekretaris Jenderal APKARINDO Sumatera Selatan, Rudi Arpian, menyampaikan bahwa pergerakan harga tersebut terjadi ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak dari Rp17.896/US$ pada Kamis menjadi Rp17.957/US$ pada Jumat.
BACA JUGA: Harga Karet SGX–SICOM Kamis (22/10) Turun Rp427, KKK 100% Terkoreksi Jadi Rp45.814 per Kg
“Kenaikan nilai tukar rupiah per dolar AS tersebut belum mampu mengimbangi penurunan harga karet SGX–SICOM. Akibatnya, harga indikatif karet dalam rupiah tetap terkoreksi dibandingkan hari sebelumnya,” kata Rudi, dalam keterangan yang diperoleh Agricom, Jumat (23/10).
Pergerakan ini menunjukkan bahwa perubahan harga di pasar internasional masih menjadi faktor penting dalam pembentukan harga acuan karet domestik. Meski demikian, koreksi dalam satu hari belum cukup untuk memastikan arah pergerakan pasar selanjutnya.
Pelaku pasar masih perlu mencermati sejumlah faktor, antara lain permintaan industri, kondisi ekonomi global, harga minyak, ketersediaan pasokan karet alam, serta perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
BACA JUGA: Mentan Amran Pastikan Pupuk Subsidi Tersedia dan Terjangkau, Dukung Percepatan Swasembada Pangan
Harga Karet Berdasarkan Kadar Karet Kering
Berdasarkan harga acuan SGX–SICOM pada Jumat (23/10/2026), berikut harga indikatif karet berdasarkan tingkat kadar karet kering (KKK).
| Kadar Karet Kering (KKK) | Harga (Rp/kg) |
| 100% | 45.665 |
| 70% | 31.965 |
| 60% | 27.399 |
| 50% | 22.832 |
| 40% | 18.266 |
| 30% | 13.699 |
Sumber: SGX Sicom, Apkarindo Sumsel, diolah Agricom.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Kamis (22/10) Naik Tipis Jadi Rp15.130 per Kg
Mutu Bokar dan Transparansi Pemasaran Perlu Dijaga
Lebih lanjut Rudi menjelaskan, harga acuan SGX–SICOM tidak serta-merta menjadi harga bersih yang diterima di tingkat kebun. Nilai transaksi aktual tetap dipengaruhi oleh KKK, mutu bahan olah karet (bokar), biaya produksi, sistem pemasaran, ketepatan penimbangan, serta potongan yang diberlakukan dalam transaksi.
Karena itu, petani perlu menjaga mutu bokar, meningkatkan KKK, menggunakan bahan pembeku yang dianjurkan, serta menghindari campuran tatal, kayu, dan material lain yang dapat menurunkan kualitas karet.
Di sisi pemasaran, penguatan peran Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) juga penting untuk mendorong transparansi penimbangan, penerapan potongan yang wajar, dan terciptanya persaingan yang sehat antarpembeli.
Dengan demikian, perbaikan mutu bokar dan tata niaga yang transparan menjadi langkah penting agar petani dapat memperoleh harga yang lebih kompetitif di tengah fluktuasi pasar karet global.
Sebagai informasi, SGX-SICOM merupakan salah satu bursa komoditas utama di Asia yang memperdagangkan berbagai jenis karet alam. Bursa ini menjadi acuan bagi harga karet di pasar internasional, sehingga pergerakan harga di SGX Sicom sering kali mencerminkan kondisi pasar global. (A3)







