Harga karet SGX–SICOM menguat ke Rp46.055 per kg dengan kurs Rp17.962 per dolar AS. Kenaikan ini menjadi sinyal pemulihan setelah koreksi pekan lalu, tetapi petani tetap perlu menjaga kualitas bokar dan memperhatikan harga bersih yang diterima.
AGRICOM, PALEMBANG — Harga karet acuan SGX–SICOM pada Senin, 19 Oktober 2026, menguat Rp571 per kg menjadi Rp46.055 per kg untuk kadar karet kering (KKK) 100%. Kenaikan ini dibandingkan dengan harga Jumat (16/10/2026) sebesar Rp45.484 per kg.
Berdasarkan data harga acuan SGX–SICOM sebesar 256,4 sen dolar AS per kg dan kurs Rp17.962 per dolar AS, penguatan tersebut menjadi sinyal pemulihan harga setelah mengalami koreksi pada pekan sebelumnya.
BACA JUGA: Harga Karet SGX–SICOM Jumat (16/10) Turun Lagi Rp570 Jadi Rp45.484 per Kg
Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Karet Indonesia (APKARINDO) Sumatera Selatan, Rudi Arpian, mengingatkan petani agar tetap mencermati perkembangan pasar dan tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya berdasarkan kenaikan harga harian.
“Pergerakan harga karet dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain permintaan industri, kondisi ekonomi global, nilai tukar rupiah, harga minyak, serta keseimbangan pasokan dan kebutuhan karet alam,” kata Rudi, dalam keterangan yang diperoleh Agricom, Senin (19/10).
Karena itu, kenaikan harga acuan perlu disikapi dengan tetap memperhatikan kualitas bahan olah karet (bokar) dan hasil bersih yang diterima petani.
BACA JUGA: Agricom Raih Penghargaan Bronze di Trade Expo Indonesia 2026
Rincian Harga Karet Berdasarkan KKK
Dengan harga acuan Rp46.055 per kg untuk KKK 100%, perkiraan harga karet berdasarkan tingkat kadar karet kering pada Senin (19/10/2026) adalah sebagai berikut.
| Kadar Karet Kering (KKK) | Harga (Rp/kg) |
| 100% | 46.055 |
| 70% | 32.238 |
| 60% | 27.633 |
| 50% | 23.027 |
| 40% | 18.422 |
| 30% | 13.816 |
Sumber: SGX Sicom, Apkarindo Sumsel, diolah Agricom.
BACA JUGA: BPDP Promosikan Sawit, Kelapa, dan Kakao di TEI 2026, Raih Penghargaan Booth Terbaik Ketiga
Mutu Bokar dan Transparansi Transaksi Perlu Dijaga
Rudi menekankan bahwa petani perlu menjaga mutu bokar untuk memperoleh harga yang lebih baik. Upaya tersebut antara lain dilakukan dengan meningkatkan KKK, menggunakan bahan pembeku yang dianjurkan, serta menghindari campuran tatal, kayu, dan bahan pengotor lainnya.
Selain kualitas hasil, transparansi transaksi juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan pendapatan pekebun. Penimbangan yang jujur, potongan harga yang terbuka, serta persaingan antarpembeli melalui Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) perlu terus diperkuat.
BACA JUGA: Mendag Busan Tutup TEI 2026, Potensi Transaksi Tembus USD 22,94 Miliar Lampaui Target 31,1 Persen
Langkah tersebut diharapkan membantu petani memperoleh harga yang lebih adil sekaligus meningkatkan daya saing bokar di tingkat pemasaran.
Sebagai informasi, SGX-SICOM merupakan salah satu bursa komoditas utama di Asia yang memperdagangkan berbagai jenis karet alam. Bursa ini menjadi acuan bagi harga karet di pasar internasional, sehingga pergerakan harga di SGX Sicom sering kali mencerminkan kondisi pasar global.
BACA JUGA: PT Oxytane Mitra Indonesia: Hadirkan Solusi Aditif Bahan Bakar Berstandar Global Tanpa Emisi Karbon
Harga karet di Sicom SGX ini bisa menjadi acuan petani karet, selain harga patokan resmi yang dikeluarkan oleh Dinas Perkebunan setempat yang bisa jadi berbeda di setiap daerah. (A3)







