Harga CPO Malaysia kembali melemah akibat aksi ambil untung dan tekanan pasar minyak nabati global, sementara risiko El Niño terhadap produksi sawit masih menjadi penyangga harga.
AGRICOM, JAKARTA — Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) berjangka di Bursa Malaysia Derivatives kembali melemah pada perdagangan Rabu (9/9/2026). Penurunan terjadi untuk sesi kedua berturut-turut seiring aksi ambil untung pelaku pasar, meski kekhawatiran terhadap dampak El Niño terhadap produksi sawit masih menjadi penyangga harga.
Kontrak acuan CPO Malaysia untuk pengiriman November 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup turun RM9 per ton, atau sekitar 0,18%, menjadi RM4.967 per ton.
BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Menguat Tiga Sesi, Kontrak November Dekati RM5.000
Tekanan terhadap harga CPO juga datang dari pergerakan minyak nabati lainnya di pasar global. Harga kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian Commodity Exchange melemah 0,73%, sedangkan kontrak minyak sawit Dalian turun lebih dalam sebesar 1,09%.
Di sisi lain, harga minyak kedelai (soybean oil) di Chicago Board of Trade (CBOT) bergerak berlawanan arah dengan menguat 0,35%.
Pergerakan tersebut menunjukkan pasar minyak nabati global masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen perdagangan CPO. Pelemahan harga di Dalian memberikan tekanan terhadap CPO Malaysia, sementara penguatan soybean oil di Chicago menjadi faktor penahan penurunan yang lebih dalam.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Rabu (9/9) Turun Menjadi Rp15.900/Kg, CIF Rotterdam US$1.600/Ton
Harga CPO KPBN Turun
Di pasar domestik, harga CPO dalam tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) pada Rabu (9/9/2026) ditetapkan sebesar Rp15.900 per kg.
Harga tersebut turun Rp57 per kg, atau sekitar 0,36%, dibandingkan harga penawaran tertinggi pada perdagangan Selasa (8/9/2026) yang mencapai Rp15.957 per kg.
BACA JUGA: Harga Referensi CPO September 2026 Naik 1,10% Jadi USD1.007,51 per Ton
Dengan demikian, baik pasar berjangka Malaysia maupun tender CPO domestik sama-sama mencatat pelemahan pada perdagangan Rabu.
Meski demikian, kekhawatiran terhadap potensi dampak El Niño terhadap produksi sawit masih menjadi faktor yang membatasi tekanan jual. Risiko terhadap produksi dan pasokan dapat menjadi penyangga harga apabila kondisi cuaca berkembang menjadi lebih kering dan berdampak pada produktivitas perkebunan.
BACA JUGA: Harga Referensi Kakao September 2026 Naik 3,89% Jadi USD5.635,76 per Ton
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati perkembangan produksi dan ekspor negara produsen utama serta arah pergerakan minyak nabati global untuk menentukan sentimen harga CPO berikutnya. (A3)
