AGRICOM, KUALA LUMPUR — Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) berjangka di Bursa Malaysia Derivatives kembali melemah pada perdagangan Rabu (2/9/2026), setelah menguat dalam dua sesi sebelumnya. Tekanan harga dipicu aksi ambil untung pelaku pasar di tengah permintaan ekspor yang masih belum menunjukkan perbaikan.
Mengutip Reuters, kontrak CPO Malaysia paling aktif untuk pengiriman November 2026 ditutup turun RM13 per ton atau 0,26% menjadi RM4.960 per ton di Bursa Malaysia Derivatives Exchange. Harga tersebut setara sekitar US$1.226,81 per ton.
Pelemahan juga dipengaruhi oleh prospek ekspor produk sawit Malaysia yang masih tertekan. Berdasarkan estimasi sejumlah surveyor kargo, ekspor produk sawit Malaysia sepanjang Agustus 2026 diperkirakan turun antara 6,5% hingga 14,9% dibandingkan bulan sebelumnya.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Rabu (2/9) Turun Tipis menjadi Rp16.000 per Kg
Harga CPO KPBN Ikut Melemah
Di pasar domestik, harga CPO dalam tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) pada Rabu (2/9) juga mengalami penurunan.
Harga CPO KPBN ditetapkan sebesar Rp16.000 per kilogram, turun Rp18 per kilogram dibandingkan perdagangan Selasa (1/9) yang berada di level Rp16.018 per kilogram.
Pergerakan tersebut menunjukkan harga CPO domestik masih mengikuti dinamika pasar global, meskipun perubahan harga dipengaruhi pula oleh kondisi perdagangan dan permintaan di pasar dalam negeri.
BACA JUGA: Agrinas Palma Nusantara Salurkan Bantuan untuk 1.560 Warga Terdampak Gempa NTT
Pasar Minyak Nabati Global
Sentimen dari pasar minyak nabati global turut memengaruhi pergerakan CPO Malaysia.
Di Bursa Dalian, kontrak minyak kedelai (soybean oil) paling aktif tercatat menguat 0,45%, sementara kontrak minyak sawit (palm oil) melemah 1,04%.
Di Chicago Board of Trade (CBOT), harga minyak kedelai turun 0,34%.
Pergerakan yang beragam di antara minyak nabati utama tersebut membuat pasar CPO tetap menghadapi tekanan, terutama ketika prospek permintaan ekspor belum menunjukkan penguatan yang berarti.
Dengan demikian, pelaku pasar masih mencermati perkembangan ekspor Malaysia, pergerakan harga minyak nabati pesaing, serta aksi perdagangan di pasar berjangka sebagai faktor utama yang akan menentukan arah harga CPO dalam perdagangan berikutnya. (A3)







