Petani kakao di Kabupaten Lombok Utara menerima bantuan bibit dari Kementerian Pertanian RI untuk program peremajaan tanaman kakao seluas 1.000 hektare yang tersebar di seluruh kecamatan. Foto: Istimewa
AGRICOM, Lombok Utara – Pemerintah terus memperkuat upaya pemulihan produktivitas kakao rakyat. Petani kakao di Kabupaten Lombok Utara (KLU) menerima bantuan bibit kakao dari Kementerian Pertanian RI untuk mendukung program peremajaan tanaman kakao seluas 1.000 hektare yang tersebar di seluruh kecamatan.
Program strategis ini menyasar kebun kakao rakyat yang mengalami penurunan produktivitas akibat usia tanaman yang sudah tidak optimal. Kakao yang dikenal sebagai “emas cokelat” merupakan salah satu komoditas unggulan masyarakat Lombok Utara, namun dalam beberapa tahun terakhir produksinya menurun karena sebagian besar tanaman telah berumur lebih dari 30 tahun.
BACA JUGA:
- Pupuk Subsidi 2026 Siap Digelontorkan, Pupuk Indonesia Pastikan Distribusi Tepat Sejak Awal Tahun
- Bupati Jembrana Lantik 94 Pejabat di Kebun Kakao, Tegaskan Birokrasi Harus Membumi
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Lombok Utara, Tresnahadi, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah pusat terhadap pengembangan kakao di daerahnya. Menurut dia, bantuan tersebut sangat membantu petani yang selama ini terkendala biaya dan sarana untuk melakukan peremajaan secara mandiri.
“Seluruh bantuan bibit kakao telah kami salurkan kepada petani sesuai laporan distribusi di lapangan. Selain bibit, petani juga menerima dukungan sarana produksi berupa pupuk dan obat-obatan yang disediakan langsung oleh pemerintah pusat,” ujar Tresnahadi, dikutip Agricom.id dari KBRN RRI, Senin (5/1/2026).
Ia menjelaskan, program peremajaan dilakukan secara bertahap agar tidak mengganggu penghasilan petani. Tanaman kakao tua tidak langsung ditebang, melainkan dibiarkan sementara sebagai tanaman penaung bagi bibit baru yang ditanam. Pola ini dinilai efektif untuk melindungi bibit muda dari paparan sinar matahari berlebih sekaligus menjaga kelembapan lahan.
BACA JUGA:
- Wamentan Sudaryono Salurkan Bantuan HKTI Peduli Tahap II Senilai Rp2,4 Miliar untuk Aceh
Bibit kakao hasil peremajaan diperkirakan mulai berproduksi dalam kurun waktu sekitar dua tahun. Dengan metode tersebut, produktivitas kakao di Lombok Utara diharapkan meningkat secara berkelanjutan tanpa menimbulkan jeda pendapatan bagi petani selama masa transisi.
Tresnahadi menambahkan, program peremajaan kakao bukan kali pertama diterima Lombok Utara. Daerah ini sebelumnya juga telah memperoleh bantuan serupa. Alokasi peremajaan seluas 1.000 hektare tahun ini merupakan hasil usulan resmi DKP3 Lombok Utara melalui skema Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) kepada pemerintah pusat.
Dengan dukungan program tersebut, pemerintah daerah optimistis sektor perkebunan kakao Lombok Utara akan kembali bergairah dan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan petani ke depan. (A3)