Harga CPO Bursa Malaysia Melemah Pada Selasa (6/1), Pasar Tunggu Rilis Data Stok MPOB

Harga CPO Bursa Malaysia Melemah Pada Selasa (6/1), Pasar Tunggu Rilis Data Stok MPOB
Agricom.id

07 January 2026 , 07:43 WIB

Harga kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia ditutup melemah pada perdagangan Selasa (6/1/2026), tertekan penguatan ringgit dan sikap wait and see pelaku pasar menjelang rilis data resmi produksi, ekspor, dan stok minyak sawit Malaysia oleh MPOB pekan depan. Foto: Agricom

 

AGRICOM, JAKARTA — Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia ditutup melemah pada perdagangan Selasa (6/1/2026). Penguatan nilai tukar ringgit menekan pergerakan harga dan menutupi sentimen positif dari kenaikan minyak nabati pesaing di Bursa Dalian, China.

Pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menjelang rilis data resmi dari Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) yang dijadwalkan pekan depan, mencakup angka produksi, ekspor, dan stok akhir Desember 2025.

Berdasarkan laporan Reuters, kontrak acuan CPO pengiriman Maret di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun RM 22 per ton atau 0,55 persen ke level RM 3.992 per ton pada penutupan perdagangan.

BACA JUGA: 

- Tender KPBN Inacom Selasa (6/1) Masih Withdraw, Penawaran Tertinggi  CPO Dumai Naik Tipis

- Harga CPO Malaysia Menguat Tipis di Awal Pekan, Terbantu Ringgit Melemah

Di Bursa Dalian Commodity Exchange, harga kontrak minyak kedelai paling aktif tercatat naik 0,71 persen, sementara kontrak minyak sawit menguat tipis 0,09 persen. Sebaliknya, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) melemah 0,1 persen, mencerminkan pergerakan pasar minyak nabati global yang masih bervariasi.

Dari sisi fundamental, pasar mencermati perkiraan kenaikan stok minyak sawit Malaysia ke level tertinggi hampir tujuh tahun pada Desember 2025. Lonjakan produksi yang tidak sepenuhnya diimbangi oleh perbaikan kinerja ekspor menjadi faktor utama penumpukan persediaan.

Sementara itu, dari pasar konsumen utama, impor minyak sawit India dilaporkan turun ke level terendah dalam delapan bulan pada Desember 2025. Penurunan tersebut dipicu melemahnya permintaan selama musim dingin serta pergeseran pembelian kilang ke minyak nabati pesaing, terutama minyak kedelai dan minyak bunga matahari, menurut keterangan lima pedagang. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP