Harga kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia ditutup turun pada Jumat (9/1/2026) akibat aksi ambil untung, namun secara mingguan masih mencatatkan kenaikan 1,18% dengan dukungan penguatan minyak nabati global dan rencana penyesuaian pungutan ekspor sawit Indonesia. Foto: Agricom
AGRICOM, KUALA LUMPUR – Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia ditutup melemah pada perdagangan Jumat (9/1/2026). Pelemahan ini dipicu oleh aksi ambil untung pelaku pasar setelah pergerakan positif sebelumnya. Meski demikian, secara akumulatif harga CPO masih berhasil mencatatkan penguatan sepanjang pekan.
Sentimen pasar tetap mendapat dukungan dari penguatan harga minyak nabati pesaing di bursa global, khususnya di Dalian dan Chicago. Selain itu, rencana Indonesia untuk menaikkan pungutan ekspor minyak sawit turut menjadi perhatian pelaku pasar, karena berpotensi memengaruhi struktur pasokan dan arus perdagangan internasional.
BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Tertahan, Pasar Cermati Stok dan Kebijakan Sawit Indonesia
Mengutip Reuters, kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman Maret 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun RM 5 per ton atau 0,12% menjadi RM 4.038 per ton pada penutupan perdagangan. Kendati terkoreksi secara harian, kontrak tersebut masih mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 1,18%.
Di pasar minyak nabati global, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian Commodity Exchange tercatat naik 0,33%, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama menguat 0,6%. Sejalan dengan itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga mengalami kenaikan sebesar 0,51%, memperkuat sentimen positif di pasar minyak nabati dunia. (A3)