Dengan produksi 813 ribu ton dan ekspor menembus US$1,63 miliar pada 2024, pemerintah memperkuat strategi dari hulu hingga hilir guna meningkatkan produktivitas, mutu, serta kesejahteraan pekebun kopi nasional. Foto: Istimewa
AGRICOM, JAKARTA – Pemerintah menegaskan komitmennya memperkuat industri kopi nasional hingga 2026 melalui strategi terpadu dari hulu hingga hilir. Fokus kebijakan tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga pada produktivitas kebun rakyat, perbaikan mutu, keberlanjutan, serta percepatan hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa kopi merupakan komoditas strategis yang menopang jutaan pekebun sekaligus menjadi salah satu penopang ekspor subsektor perkebunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, produksi kopi nasional tercatat sekitar 813 ribu ton kopi berasan.
BACA JUGA:
- Harga TBS Kalbar Naik Tipis di Periode II Februari 2026
- Kementan Percepat Hilirisasi Jagung Pangan, Bidik Swasembada dan Pasokan Industri 2026
Angka tersebut menjadi dasar penguatan kebijakan pengembangan kopi nasional ke depan. Pemerintah menilai, peningkatan volume produksi saja tidak cukup untuk menjaga daya saing di tengah persaingan pasar global yang semakin ketat.
“Pengembangan kopi nasional harus memberikan nilai tambah nyata bagi pekebun. Kebijakan difokuskan pada peningkatan produktivitas kebun rakyat, peremajaan tanaman, penguatan pascapanen, serta percepatan hilirisasi agar ekspor tidak lagi didominasi bahan mentah,” ujar Mentan Amran, dikutip Agricom.id dari laman Ditjenbun, Rabu (18/2).
Hilirisasi Jadi Kunci
Pemerintah mendorong pengembangan industri roasting, produk kopi siap seduh, ekstrak kopi, hingga diversifikasi produk turunan lainnya. Langkah ini dinilai krusial untuk memperkuat posisi tawar kopi Indonesia di pasar global dan mengurangi ketergantungan pada ekspor biji mentah.
Dari sisi perdagangan, kinerja ekspor kopi Indonesia pada 2024 mencapai 316,7 ribu ton dengan nilai lebih dari US$1,63 miliar. Ke depan, penguatan akses pasar ekspor akan dilakukan melalui peningkatan konsistensi mutu, pemenuhan standar internasional, serta pengembangan produk olahan sesuai kebutuhan konsumen global.
BACA JUGA:
- Mentan Amran Ajak HIPMI Percepat Hilirisasi Pertanian
- Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 11–24 Februari 2026 Turun ke Rp 3.677,52/Kg
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menambahkan bahwa pemerintah juga mendorong praktik budidaya yang adaptif terhadap perubahan iklim, penguatan kelembagaan pekebun, serta peningkatan pendampingan teknis di lapangan.
Kemitraan antara pekebun dan industri pengolahan pun terus diperkuat untuk mempercepat transformasi hilirisasi di sentra-sentra produksi kopi.
Menurutnya, strategi terintegrasi dari kebun hingga industri pengolahan dalam negeri diharapkan mampu memperluas pasar, meningkatkan nilai tambah nasional, dan memperkuat kesejahteraan pekebun secara berkelanjutan hingga 2026.
Transformasi ini menjadi langkah strategis agar kopi Indonesia tidak hanya dikenal sebagai produsen bahan baku, tetapi juga sebagai pemain utama dalam industri kopi bernilai tambah tinggi di pasar global. (A3)