Kenaikan harga minyak nabati pesaing dan rencana peningkatan mandat biodiesel Indonesia mendorong penguatan harga CPO global, meski dibayangi potensi lonjakan produksi. Foto: Agricom
AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali mencatat penguatan untuk sesi kedua berturut-turut pada perdagangan Selasa (21/4/2026). Kenaikan ini didorong oleh menguatnya harga minyak nabati pesaing di pasar global serta dukungan kebijakan biodiesel Indonesia, meski ekspektasi peningkatan produksi masih menjadi faktor penahan laju kenaikan.
Sebagaimana dilansir dari Reuters, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Juli 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup naik RM63 per ton atau menguat 1,44% menjadi RM4.561 per ton metrik. Sepanjang sesi perdagangan, harga sempat melonjak hingga 2,45%—menyentuh level tertinggi dalam lebih dari sepekan—sebelum akhirnya memangkas sebagian penguatannya menjelang penutupan.
BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Menguat, Didukung Lonjakan Minyak Mentah dan Sentimen Positif Global
Sejalan dengan pasar global, harga CPO domestik juga menunjukkan tren kenaikan. Di PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN), harga CPO ditetapkan sebesar Rp15.250/kg pada Selasa (21/4/2026), naik Rp55/kg atau sekitar 0,36% dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang berada di level Rp15.195/kg.
Penguatan harga CPO turut dipengaruhi oleh pergerakan positif minyak nabati lain. Di Bursa Dalian, harga kontrak minyak kedelai paling aktif tercatat naik 1,90%, sementara kontrak minyak sawit melonjak lebih tinggi sebesar 3,33%. Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga menguat 0,62%.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Senin (20/4) Naik Ke Rp15.195/kg, Didorong Lonjakan Minyak Dunia
Secara umum, pergerakan harga CPO sangat dipengaruhi dinamika harga minyak nabati pesaing, mengingat komoditas ini bersaing ketat dalam pangsa pasar minyak nabati global. Ketika harga minyak kedelai dan minyak nabati lainnya menguat, CPO cenderung mengikuti arah yang sama.
Dari sisi fundamental, sentimen positif juga datang dari Indonesia sebagai produsen dan eksportir CPO terbesar dunia. Pemerintah berencana meningkatkan mandat campuran biodiesel berbasis sawit menjadi 50% (B50) mulai 1 Juli 2026, dari saat ini sebesar 40% (B40). Kebijakan ini diperkirakan akan meningkatkan konsumsi domestik sekaligus mengurangi pasokan ekspor ke pasar global.
BACA JUGA: Harga Karet SGX–SICOM Selasa (21/4) Menguat Tajam, Rebound ke Rp35.086 per Kg
Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati potensi peningkatan produksi di negara-negara produsen utama yang dapat membatasi ruang penguatan harga ke depan. Dengan demikian, pergerakan harga CPO diperkirakan tetap fluktuatif, mengikuti keseimbangan antara sentimen permintaan dan prospek pasokan global. (A3)