Harga Referensi Biji Kakao Juni 2026 Melonjak 17%, Dipicu Gangguan Logistik Global dan Turunnya Pasokan Nigeria

Harga Referensi Biji Kakao Juni 2026 Melonjak 17%, Dipicu Gangguan Logistik Global dan Turunnya Pasokan Nigeria
Agricom.id

01 June 2026 , 00:43 WIB

Dok. Istimewa/ Harga Referensi dan Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao periode Juni 2026 meningkat signifikan seiring kenaikan biaya logistik global akibat penutupan Selat Hormuz serta berkurangnya pasokan dari Nigeria.

 

AGRICOM, JAKARTA – Pemerintah menetapkan Harga Referensi (HR) biji kakao untuk periode Juni 2026 sebesar USD 3.832,17 per metrik ton (MT). Angka tersebut meningkat USD 563,48 per MT atau 17,24% dibandingkan periode sebelumnya.

Kenaikan HR tersebut turut mendorong peningkatan Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao menjadi USD 3.511 per MT, naik USD 549 per MT atau 18,53% dibandingkan periode Mei 2026.

BACA JUGA: Harga Referensi Biji Kakao Periode Mei 2026 Naik, HPE Tembus USD 2.963/MT

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Tommy Andana, menjelaskan bahwa lonjakan harga kakao dipengaruhi oleh gangguan rantai pasok global, terutama setelah penutupan Selat Hormuz yang menyebabkan biaya logistik internasional meningkat tajam.

“Ada kenaikan pada HR dan HPE biji kakao karena ditutupnya Selat Hormuz yang mengakibatkan peningkatan biaya logistik, biaya asuransi, dan bahan bakar. Selain itu, penurunan suplai dari Nigeria ikut mendorong kenaikan HR dan HPE biji kakao,” ujar Tommy dalam keterangan resmi yang diterima Agricom.id, Jumat (29/5).

Dengan kenaikan tersebut, pemerintah menetapkan Bea Keluar (BK) biji kakao sebesar 7,5% untuk periode Juni 2026. Penetapan tersebut mengacu pada PMK Nomor 38 Tahun 2024 sebagaimana telah diubah melalui PMK Nomor 68 Tahun 2025.

BACA JUGA: Harga Referensi CPO Juni Turun 1,91 Persen, PE Dipatok USD 128,69 per MT dan BK USD 148 per MT

Sementara itu, tarif Pungutan Ekspor (PE) biji kakao juga ditetapkan sebesar 7,5%, sesuai ketentuan dalam PMK Nomor 69 Tahun 2025 junto PMK Nomor 9 Tahun 2026.

Selain kakao, pemerintah juga melakukan penyesuaian terhadap sejumlah komoditas kehutanan. Untuk produk kulit, tidak terdapat perubahan HPE dibandingkan periode sebelumnya. HPE untuk keping kayu (chipwood), kayu olahan dengan luas penampang 1.000–4.000 mm² dari jenis sungkai, serta kayu olahan khusus jenis merbau dengan luas penampang 4.000–10.000 mm² juga tetap tidak berubah.

Di sisi lain, HPE getah pinus untuk Juni 2026 ditetapkan sebesar USD 980 per MT, meningkat USD 64 per MT atau 6,99% dibandingkan Mei 2026 yang tercatat sebesar USD 916 per MT.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Jumat (29/5) Melonjak 7,7%, Namun Seluruh Tender Masih Withdraw

Kenaikan juga terjadi pada HPE sejumlah produk kayu, termasuk kayu veneer yang berasal dari hutan alam maupun hutan tanaman. Selain itu, HPE kayu olahan dengan luas penampang 1.000–4.000 mm² dari jenis meranti, merbau, rimba campuran, eboni, serta jenis hutan tanaman seperti akasia, sengon, balsa, dan eukaliptus turut mengalami peningkatan.

Sebaliknya, pemerintah mencatat penurunan HPE pada beberapa produk kehutanan lainnya, seperti kayu lapis untuk kotak kemasan (wooden sheet for packing box), kayu keping atau pecahan (wood in chips or particle), serta kayu olahan berpenampang 1.000–4.000 mm² dari jenis jati, pinus, gmelina, dan karet.

Ketentuan mengenai HR dan HPE biji kakao, produk kulit, produk kayu, serta getah pinus tersebut tercantum dalam Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 1414 Tahun 2026 tentang Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar serta tarif layanan Badan Layanan Umum.

BACA JUGA: Harga Karet SGX-Sicom Akhir Pekan Melonjak, Tembus Rp40 Ribu per Kg

Kenaikan tajam harga kakao pada Juni 2026 menunjukkan bagaimana faktor geopolitik dan gangguan rantai pasok global masih menjadi penentu utama pergerakan harga komoditas dunia. Di tengah meningkatnya biaya logistik dan terbatasnya pasokan dari negara produsen utama, pasar kakao global diperkirakan tetap menghadapi tekanan harga dalam jangka pendek. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP