Harga CPO KPBN Rabu (10/6) Naik ke Rp15.225/Kg, Bursa Malaysia Menguat Ditopang Prospek Ekspor

Harga CPO KPBN Rabu (10/6) Naik ke Rp15.225/Kg, Bursa Malaysia Menguat Ditopang Prospek Ekspor
Agricom.id

11 June 2026 , 12:04 WIB

Dok. Agricom/ Harga CPO KPBN naik Rp70/kg pada perdagangan Rabu (10/6/2026), sejalan dengan penguatan harga minyak sawit di Bursa Malaysia yang didukung membaiknya ekspor dan penurunan produksi.

 

AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) kembali menguat pada perdagangan Rabu (10/6/2026). Kenaikan harga domestik ini terjadi seiring menguatnya perdagangan CPO di Bursa Malaysia yang didukung oleh prospek ekspor yang membaik serta penurunan produksi minyak sawit Malaysia.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Agricom.id dari KPBN, harga CPO ditetapkan sebesar Rp15.225 per kilogram, naik Rp70 per kilogram atau sekitar 0,46 persen dibandingkan harga pada Selasa (9/6/2026) yang tercatat Rp15.155 per kilogram.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Selasa (9/6) Turun ke Rp15.155/Kg, Bursa Malaysia Tertekan Pelemahan Ekspor

Untuk transaksi pada hari tersebut, harga CPO Franco Dumai ditetapkan sebesar Rp15.225 per kilogram. Sementara itu, harga CPO Franco Teluk Bayur berada di level Rp15.095 per kilogram dan harga CPO FOB Talang Duku sebesar Rp15.025 per kilogram.

Di lokasi lainnya, harga CPO loco Parindu dibuka pada level Rp14.805 per kilogram. Namun proses penawaran berakhir withdraw (WD), dengan harga penawaran tertinggi tercatat hanya Rp8.000 per kilogram.

BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Rebound, Didukung Prospek Ekspor dan Turunnya Produksi Mei 2026

Selain CPO, harga Palm Kernel Oil (CPKO) Franco Dumai tercatat sebesar Rp25.573 per kilogram melalui mekanisme IBP. Adapun harga inti sawit (Palm Kernel/PK) Franco Belawan ditetapkan sebesar Rp12.475 per kilogram melalui mekanisme MM.

Di pasar global, perdagangan CPO di Bursa Malaysia Derivatives ditutup menguat pada Rabu (10/6/2026), setelah sempat mengalami tekanan pada sesi sebelumnya. Pelaku pasar merespons positif perkembangan fundamental industri sawit yang menunjukkan perbaikan dari sisi permintaan dan pasokan.

BACA JUGA: Kemendag Sosialisasikan Aturan Baru Ekspor SDA, Tata Kelola Ekspor Sawit Berubah Bertahap hingga 2027

Berdasarkan laporan Reuters, kontrak berjangka CPO acuan pengiriman Agustus 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik RM11 per ton atau sekitar 0,24 persen menjadi RM4.539 per ton pada penutupan perdagangan.

Kenaikan harga tersebut didorong oleh ekspektasi membaiknya ekspor minyak sawit Malaysia serta menurunnya produksi selama Mei 2026. Data terbaru dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menunjukkan produksi minyak sawit Malaysia mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, sehingga membantu menopang harga.

BACA JUGA: Tindak Lanjuti Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2026, Kemendag Terbitkan Tiga Aturan Tata Kelola Ekspor SDA Strategis

Meski demikian, MPOB juga melaporkan bahwa persediaan minyak sawit Malaysia meningkat untuk bulan kedua secara berturut-turut. Peningkatan stok terjadi karena penurunan ekspor selama Mei lebih besar dibandingkan penurunan produksi pada periode yang sama.

Pasar juga memperoleh sentimen positif dari data ekspor awal Juni. Survei perusahaan kargo menunjukkan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1–10 Juni 2026 diperkirakan meningkat antara 3,5 persen hingga 4,9 persen dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya. Kondisi ini dinilai sebagai indikasi awal pulihnya permintaan dari pasar internasional.

BACA JUGA: Harga Referensi Biji Kakao Juni 2026 Melonjak 17%, Dipicu Gangguan Logistik Global dan Turunnya Pasokan Nigeria

Sementara itu, pergerakan minyak nabati pesaing cenderung melemah. Harga kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian turun 0,05 persen, sedangkan kontrak minyak sawit Dalian terkoreksi 0,13 persen. Di pasar Amerika Serikat, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) juga turun tipis sebesar 0,01 persen.

Melemahnya harga minyak nabati pesaing membuat minyak sawit kembali memiliki daya saing yang lebih baik di pasar global. Dengan dukungan prospek ekspor yang membaik dan pasokan yang lebih ketat akibat penurunan produksi, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan stok dan ekspor sebagai penentu arah harga CPO dalam jangka pendek. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP