Dok. Agricom/ Harga CPO di Bursa Malaysia turun 0,72% pada Kamis (18/6/2026) akibat pelemahan pasar energi dan minyak nabati global. Namun di Indonesia, harga tender KPBN naik 1,22% menjadi Rp15.335/kg, menunjukkan permintaan domestik yang tetap kuat.
AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia kembali bergerak melemah pada perdagangan Kamis (18/6/2026) di tengah tekanan dari penurunan harga minyak mentah dunia dan melemahnya harga minyak nabati pesaing di pasar global. Meski demikian, pasar domestik Indonesia justru mencatat penguatan harga dalam tender yang digelar PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN).
Berdasarkan perdagangan tengah hari di Bursa Malaysia Derivatives Exchange (BMD), kontrak berjangka CPO acuan untuk pengiriman September 2026 turun RM33 per ton atau sekitar 0,72 persen menjadi RM4.541 per ton. Pelemahan tersebut mencerminkan sentimen negatif yang masih membayangi pasar komoditas global, khususnya sektor energi dan minyak nabati.
BACA JUGA: Tender CPO KPBN Rabu (17/6) Berakhir Withdraw, Penawaran Tertinggi Rp15.150/Kg
Tekanan terhadap harga CPO Malaysia turut dipengaruhi oleh penurunan harga minyak mentah dunia yang berpotensi mengurangi daya tarik biodiesel berbasis minyak sawit. Selain itu, pelemahan harga minyak nabati pesaing juga memberikan tekanan tambahan terhadap pergerakan harga sawit di pasar berjangka.
Di tengah kondisi tersebut, harga CPO di pasar domestik Indonesia menunjukkan arah yang berbeda. Dalam tender yang diselenggarakan PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) pada Kamis (18/6/2026), harga CPO ditetapkan sebesar Rp15.335 per kilogram.
BACA JUGA: Mendag Busan Mengajak Industri Manufaktur Manfaatkan TEI 2026 untuk Perluas Pasar Ekspor
Harga tersebut meningkat Rp185 per kilogram atau sekitar 1,22 persen dibandingkan penawaran tertinggi pada tender sebelumnya, Rabu (17/6/2026), yang mencapai Rp15.150 per kilogram. Kenaikan ini menunjukkan bahwa permintaan di pasar domestik masih cukup solid meskipun pasar global sedang mengalami tekanan.
Dari sisi pasar internasional, sentimen negatif juga terlihat di bursa komoditas Tiongkok. Harga kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian turun 0,47 persen, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama terkoreksi lebih dalam hingga 0,99 persen.
BACA JUGA: Kementan: Pasokan Pangan Aman, Beras Tak Lagi Jadi Penyumbang Utama Inflasi
Sementara itu, di pasar Amerika Serikat, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) melemah 0,92 persen. Penurunan harga minyak kedelai di Dalian dan CBOT turut membebani sentimen pasar sawit karena kedua komoditas tersebut bersaing langsung dalam industri minyak nabati global.
Pelaku pasar kini mencermati perkembangan harga energi dunia, kebijakan biodiesel di negara-negara produsen utama, serta dinamika permintaan dari negara importir besar seperti India dan Tiongkok. Faktor-faktor tersebut diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan harga CPO dalam jangka pendek.
BACA JUGA: Nusa Horti 2026 Jadi Panggung Ekspor, Kementan Targetkan Indonesia Kuasai Pasar Hortikultura Dunia
Meski pasar global masih dibayangi tekanan eksternal, penguatan harga tender KPBN menunjukkan bahwa fundamental permintaan domestik Indonesia masih cukup kuat untuk menopang harga sawit nasional di tengah volatilitas pasar internasional. (A3)