AGRICOM, BANDUNG — Produk cokelat bubuk dan karbon aktif asal Indonesia membuka peluang ekspansi ke pasar Timur Tengah setelah PT Visi Indonesia Parama menandatangani kesepakatan bisnis dengan perusahaan asal Arab Saudi, Bassam Salem Abdullah Fotis Company. Nilai kerja sama yang dituangkan dalam nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) tersebut mencapai USD 197.305, atau sekitar Rp3,5 miliar.
Dilansir Agricom dari Kementerian Perdagangan (Kemendag). MoU ditandatangani oleh Managing Director PT Visi Indonesia Parama Lukman Nurjaman dan Managing Director Bassam Salem Abdullah Fotis Company, Bassam Salem, di Bandung, Jawa Barat, pada Senin (10/8/2026).
Kesepakatan tersebut merupakan tindak lanjut dari program penjajakan bisnis atau business matching yang difasilitasi Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Jeddah pada Desember 2025 dan Maret 2026.
BACA JUGA: Harga Referensi Biji Kakao Agustus Melonjak 36,66%, HPE Tembus USD 5.064/MT
Penandatanganan kerja sama turut disaksikan secara virtual oleh perwakilan Konsulat Jenderal Republik Indonesia, ITPC Jeddah, Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekspor dan Jasa Perdagangan (PPEJP) Kementerian Perdagangan, Direktorat Pengembangan Ekspor Produk Primer (PEPP) Kemendag, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Fajarini Puntodewi mengatakan kerja sama tersebut menunjukkan produk Indonesia memiliki kapasitas produksi dan kualitas yang mampu bersaing di pasar internasional.
“Kerja sama bisnis antara PT Visi Indonesia Parama dan Bassam Salem Abdullah Fotis Company menunjukkan bahwa kemampuan produksi dan kualitas produk Indonesia sudah mumpuni untuk bersaing di pasar internasional,” ujar Fajarini.
Ia berharap kesepakatan tersebut menjadi pintu awal bagi semakin luasnya penetrasi berbagai komoditas unggulan Indonesia ke pasar Timur Tengah.
BACA JUGA: Kemendag Perkuat Ekosistem Ekspor di Sulawesi, Papua, dan Maluku
ITPC Jeddah Dorong Tindak Lanjut Business Matching
Kepala ITPC Jeddah Bagas Haryotejo mengatakan produk Indonesia tetap memiliki daya saing di pasar Timur Tengah, meskipun kawasan tersebut menghadapi berbagai tantangan akibat situasi geopolitik dan konflik.
Menurutnya, ITPC Jeddah terus mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon pembeli potensial agar kegiatan business matching tidak berhenti pada tahap perkenalan, tetapi berlanjut menjadi kerja sama dan transaksi nyata.
“ITPC mendorong agar setiap kegiatan business matching menghasilkan tindak lanjut yang konkret. Kunjungan buyer ke fasilitas produksi merupakan langkah untuk membangun kepercayaan, menyesuaikan kualitas produk secara langsung sesuai dengan permintaan buyer, sekaligus mempercepat realisasi transaksi,” ujar Bagas.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 12-18 Agustus 2026 Melemah, Turun ke Rp3.941,29 per Kg
Sebelum penandatanganan MoU, Bassam Salem melakukan kunjungan langsung ke fasilitas produksi PT Visi Indonesia Parama di Bandung. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari proses untuk melihat kemampuan produksi dan memastikan kualitas produk sesuai dengan kebutuhan pasar tujuan.
Bassam mengapresiasi fasilitasi yang dilakukan Kementerian Perdagangan, mulai dari proses business matching hingga kunjungan langsung ke Indonesia.
Menurutnya, produk Indonesia memiliki kombinasi kualitas yang baik dan harga yang kompetitif. Ia berharap kerja sama tersebut dapat berkembang menjadi kemitraan jangka panjang, termasuk membuka peluang pemasaran produk Indonesia lainnya ke Timur Tengah dan Afrika.
“Produk Indonesia memiliki kualitas yang bagus dengan harga yang kompetitif. Kami berharap kerja sama jangka panjang ini dapat terus dibangun dan kami bisa memperluas varian produk lain yang dapat dibawa ke pasar Timur Tengah dan Afrika,” ujarnya.
BACA JUGA: Mentan Amran dan UNESA Bangun Sentra Benih Kedelai, Targetkan Produktivitas hingga 5 Ton per Hektare
Peluang Kemitraan Jangka Panjang
Managing Director PT Visi Indonesia Parama Lukman Nurjaman menyambut positif kunjungan buyer asal Arab Saudi tersebut. Menurutnya, kunjungan langsung ke fasilitas produksi memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk memperlihatkan kapasitas produksi, proses pengolahan, dan standar kualitas produk kepada calon mitra.
Selain itu, kunjungan tersebut juga membuka peluang untuk menawarkan produk lain yang berpotensi dikembangkan untuk pasar ekspor.
“Melalui kunjungan ini, buyer dapat melihat langsung proses produksi hingga standar kualitas untuk memenuhi spesifikasi yang diinginkan. Kami berharap kerja sama dapat berjalan dengan baik dan berkembang menjadi kemitraan jangka panjang,” kata Lukman.
BACA JUGA: Harga Referensi CPO Agustus Turun ke USD 996,52/MT, Bea Keluar dan Pungutan Ekspor Ikut Disesuaikan
Perdagangan Indonesia-Arab Saudi Terus Tumbuh
Hubungan perdagangan antara Indonesia dan Arab Saudi juga menunjukkan nilai yang signifikan. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, total perdagangan nonmigas kedua negara tercatat mencapai USD 1,68 miliar.
Dari jumlah tersebut, ekspor Indonesia ke Arab Saudi mencapai USD 1,02 miliar, sementara impor Indonesia dari Arab Saudi sebesar USD 665,10 juta.
Pada 2025, total perdagangan nonmigas Indonesia dan Arab Saudi tercatat sebesar USD 3,94 miliar. Ekspor Indonesia mencapai USD 2,89 miliar, sedangkan impor sebesar USD 1,06 miliar, sehingga Indonesia membukukan surplus perdagangan nonmigas senilai USD 1,82 miliar.
Produk utama Indonesia yang diekspor ke Arab Saudi antara lain kendaraan dan komponennya, lemak dan minyak hewani atau nabati, kapal laut, berbagai produk makanan olahan, serta kayu dan produk turunannya.
Sementara itu, Indonesia mengimpor sejumlah produk dari Arab Saudi, termasuk garam, belerang dan kapur, plastik dan produk plastik, bahan kimia organik, berbagai produk kimia, serta buah-buahan.
Kerja sama antara PT Visi Indonesia Parama dan Bassam Salem Abdullah Fotis Company diharapkan dapat menambah peluang bagi produk Indonesia untuk memperluas pasar di Timur Tengah, sekaligus membuka jalan bagi pengembangan ekspor ke kawasan Afrika. (A3)