AGRICOM, CIREBON — Penantian selama dua dekade akhirnya terjawab. Kelompok Tani Sumber Rezeki Tani di Desa Susukan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, kini mendapat bantuan infrastruktur irigasi perpipaan sepanjang 2.400 meter dari Kementerian Pertanian (Kementan).
Dilansir Agricom dari laman Kementan, Senin (24/8). Pembangunan jaringan irigasi tersebut diharapkan menjadi solusi atas keterbatasan akses air yang selama ini dihadapi petani. Dengan pasokan air yang lebih terjamin, lahan pertanian diharapkan tetap dapat berproduksi, termasuk saat memasuki musim kemarau.
Ketua Kelompok Tani Sumber Rezeki Tani, M. Saeproni, mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap kebutuhan petani di wilayahnya. Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman atas bantuan pembangunan infrastruktur pengairan tersebut.
BACA JUGA: Kementan Kucurkan Rp55,65 Miliar untuk Kejar Swasembada Bawang Putih
“Kami berterima kasih sekali kepada Bapak Presiden, terutama kepada Bapak Menteri Pertanian yang telah memberikan bantuan irigasi perpipaan sepanjang 2.400 meter. Ini sudah kami impikan sejak 20 tahun lalu,” ujar Saeproni.
Menurut Saeproni, persoalan ketersediaan air selama ini menjadi salah satu kendala utama dalam menjalankan kegiatan usaha tani. Kehadiran jaringan irigasi baru diharapkan dapat memberikan kepastian bagi petani dalam menentukan pola dan waktu tanam.
“Kami hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Menteri Pertanian dan jajarannya. Kami bersama teman-teman petani ingin sekali bertemu dengan Bapak Menteri Pertanian,” katanya.
BACA JUGA: Dari Labuan Bajo, Mentan Amran Lepas Truk Bantuan Pangan untuk Korban Bencana NTT
Perkuat Infrastruktur Air
Bantuan irigasi untuk petani di Cirebon merupakan bagian dari upaya Kementan memperkuat ketersediaan air pertanian di berbagai daerah. Pemerintah mempercepat pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur pengairan untuk menjaga produktivitas lahan, terutama ketika menghadapi musim kemarau dan risiko kekeringan.
Pada 2026, Kementan menargetkan pembangunan 89.600 unit kegiatan yang diproyeksikan mendukung pengairan sekitar 2,1 juta hektare lahan pertanian.
Program tersebut mencakup 17.400 unit Irigasi Perpompaan (Irpom) dan 3.500 unit Irigasi Perpipaan (Irpip). Pemerintah juga memperkuat akses air melalui program pompanisasi sebanyak 56.000 unit, yang ditargetkan dapat melayani sekitar 1,1 juta hektare lahan pertanian.
BACA JUGA: Mentan Amran Ancam Cabut Izin Importir Pakan yang Terbukti Mainkan Harga
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, ketersediaan air merupakan salah satu faktor utama dalam menjaga kesinambungan produksi pertanian. Pemerintah, kata dia, tidak ingin petani kehilangan musim tanam hanya karena keterbatasan pasokan air.
“Kita tidak boleh membiarkan petani kehilangan musim tanam karena kekurangan air. Karena itu, pemerintah memperkuat irigasi, pompanisasi, embung, hingga rehabilitasi jaringan irigasi agar air sampai ke lahan pertanian,” ujar Amran.
Menurut Amran, penguatan infrastruktur air juga menjadi bagian dari strategi menjaga produksi pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim. Ketersediaan air yang memadai diharapkan memungkinkan petani mempertahankan kegiatan budidaya sekaligus meningkatkan indeks pertanaman.
BACA JUGA: Mentan Amran dan UNESA Bangun Sentra Benih Kedelai, Targetkan Produktivitas hingga 5 Ton per Hektare
“Air adalah faktor penentu produksi. Karena itu, pompanisasi menjadi solusi cepat untuk memastikan sawah tetap mendapat pasokan air sehingga petani bisa terus tanam dan meningkatkan indeks pertanaman,” katanya. (A3)