PM-AAS Dongkrak Produktivitas Padi 63,46%, Rata-rata Capai 10,34 Ton per Hektare


AGRICOM, JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong modernisasi pertanian melalui penerapan teknologi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperbaiki kesejahteraan petani. Salah satu inovasi yang kini dikembangkan adalah Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS), yang menunjukkan hasil positif di sejumlah sentra produksi padi.

Dilansir Agricom dari Kementan, Senin (31/8). Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan peningkatan produktivitas menjadi fokus berikutnya setelah Indonesia berhasil mencapai swasembada beras. Menurutnya, modernisasi pertanian harus diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan produksi, tetapi juga meningkatkan pendapatan petani.

“Alhamdulillah swasembada sudah tercapai. Sekarang pendekatannya adalah kesejahteraan. Itulah pentingnya teknologi,” kata Amran.

Ia menjelaskan PM-AAS dikembangkan selama sekitar dua tahun dengan mengombinasikan teknologi pertanian modern dan metode budidaya yang telah berkembang di Indonesia, termasuk sistem tanam jajar legowo.

Menurut Amran, penerapan teknologi tersebut berpotensi menghasilkan produktivitas hingga 10–12 ton per hektare. Karena itu, ia mendorong penerapan PM-AAS secara disiplin di tingkat petani.

 BACA JUGA: Mentan Amran Siapkan Alsintan untuk Puncak Papua, Bidik 500 Hektare Kopi Arabika

PM-AAS Integrasikan Teknologi Budidaya

Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Fadjry Djufry mengatakan PM-AAS dirancang sebagai paket teknologi budidaya yang mengintegrasikan peningkatan populasi tanaman dengan pengelolaan tanaman secara terpadu.

Paket tersebut mencakup penggunaan varietas unggul berdaya hasil tinggi, sistem tanam rapat dengan jajar legowo, pengelolaan air menggunakan metode alternate wetting and drying (AWD), pengendalian gulma, hama dan penyakit secara terpadu, serta pemupukan berdasarkan kebutuhan spesifik lokasi.

BACA JUGA: Kementan Dorong Transformasi Pertanian untuk Perkuat Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani

“PM-AAS tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga membangun sistem budidaya yang lebih efisien dan adaptif,” ujar Fadjry.

Ia menambahkan, efisiensi penggunaan air dan pengelolaan hara spesifik lokasi menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas lahan sekaligus meningkatkan kemampuan petani menghadapi perubahan iklim.

Untuk memastikan teknologi dapat diterapkan sesuai kondisi lapangan, BRMP melakukan pengujian di berbagai lokasi dan agroekosistem.

 BACA JUGA: Irigasi 2,4 Km Dibangun Kementan, Petani Cirebon Bisa Tanam Saat Kemarau

Produktivitas di Sejumlah Daerah Melonjak

Hasil penerapan PM-AAS mulai terlihat di sejumlah wilayah. Di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, misalnya, demplot PM-AAS seluas 100 hektare mencatat produktivitas sekitar 12,5 ton per hektare.

Bupati Polewali Mandar Samsul Mahmud mengatakan capaian tersebut meningkat signifikan dibandingkan produktivitas sebelumnya yang berada di kisaran 7–8 ton per hektare.

“Demplot PM-AAS 100 hektare, alhamdulillah tadi panen. Infonya 12,5 ton per hektare. Sebelumnya 7–8 ton per hektare,” kata Samsul.

Peningkatan produktivitas juga dirasakan petani di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan.

Petani bernama Abdullah mengatakan perubahan paling terasa pada jarak tanam dan penggunaan pupuk. Sebelum menerapkan PM-AAS, produktivitas lahannya berada di kisaran 5–6 ton per hektare, dengan capaian maksimal sekitar 7 ton.

Setelah mengikuti program tersebut, produktivitas meningkat hingga 11 ton per hektare.

“Karena adanya program pemerintah PM-AAS kami ikuti, sampai akhirnya kami mendapatkan hasilnya sampai 11 ton. PM-AAS menguntungkan,” ujarnya.

Petani lainnya di Sidrap, Anas, juga mengaku memperoleh hasil lebih tinggi. Dengan luas lahan 50 are, ia mendapatkan hampir 30 karung gabah, dibandingkan sebelumnya yang hanya sekitar 23–24 karung.

Sementara itu, Nurdin mengaku puas dengan hasil panen varietas Inpari 48 yang dibudidayakannya melalui PM-AAS. Hasil yang diperoleh mencapai 143, dibandingkan sebelumnya sekitar 120 atau bahkan lebih rendah.

“Mudah-mudahan adanya program pemerintah PM-AAS ini, petani-petani di seluruh Indonesia bisa mengikuti,” katanya.

 

Drone dan Drum Seeder Pangkas Biaya dan Tenaga

Modernisasi pertanian melalui PM-AAS juga mulai diterapkan di wilayah Merauke, Papua Selatan.

Petani asal Kampung Candarajaya, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Abdul Rohim, mengatakan penggunaan drum seeder atau paralon membuat proses penanaman lebih efisien dibandingkan metode tanam pindah.

Petani lainnya, Angga Dwi Hadianto, menyebut pemanfaatan teknologi baru yang dipadukan dengan drone turut mempercepat pekerjaan di lapangan sekaligus mengurangi kebutuhan tenaga kerja.

“Pertumbuhannya sudah terlihat lebih bagus dibanding cara lama. Kami juga lebih hemat tenaga karena penyemprotan menggunakan drone,” ujarnya.

 BACA JUGA: Kementan Kucurkan Rp55,65 Miliar untuk Kejar Swasembada Bawang Putih

Uji 2.000 Hektare di 15 Provinsi

Capaian di tingkat petani tersebut diperkuat oleh hasil pengujian multi-lokasi yang dilakukan BRMP.

Pada musim tanam pertama 2026 (MK-1), BRMP menguji PM-AAS pada lahan sekitar 2.000 hektare di 15 provinsi, dengan demfarm sedikitnya 100 hektare di setiap provinsi.

Dari 18 kabupaten di 13 provinsi yang telah memasuki masa panen, hasil ubinan Kerangka Sampel Analisis (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produktivitas rata-rata PM-AAS mencapai 10,34 ton gabah kering panen (GKP) per hektare.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata produktivitas praktik non-PM-AAS yang mencapai 6,32 ton GKP per hektare.

Artinya, terdapat tambahan produktivitas sekitar 4,02 ton per hektare, atau meningkat 63,46%.

Dari 18 lokasi yang telah dipanen, sebanyak 12 lokasi atau 66,7% berhasil mencapai produktivitas minimal 10 ton GKP per hektare. Di sejumlah lokasi lainnya, produktivitas PM-AAS berada pada kisaran 9–11 ton GKP per hektare.

 BACA JUGA: Mentan Amran Ancam Cabut Izin Importir Pakan yang Terbukti Mainkan Harga

Diuji Sejak 2025

BRMP telah mengembangkan PM-AAS secara intensif sejak awal 2025 melalui berbagai uji penerapan pada lokasi dan musim tanam yang berbeda.

Sebelum diformulasikan menjadi paket teknologi dengan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 8–9 atau siap diterapkan, teknologi tersebut terlebih dahulu diuji pada berbagai kondisi lahan.

Dalam pengujian awal, produktivitas 10 ton per hektare berhasil dicapai selama dua musim berturut-turut di Soppeng, Sulawesi Selatan. Pengujian kemudian diperluas ke berbagai ekosistem, mulai dari lahan irigasi teknis, irigasi nonteknis hingga lahan rawa.

Pengembangan teknologi ini menjadi penting di tengah produktivitas padi nasional yang relatif stagnan selama sekitar dua dekade. Produktivitas padi nasional selama periode tersebut berada di kisaran 5,3 ton GKG per hektare atau sekitar 6,3 ton GKP per hektare.

 

Produktivitas Harus Berujung pada Kesejahteraan

Mentan Amran menegaskan bahwa peningkatan produksi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan modernisasi pertanian. Teknologi harus mampu menekan biaya produksi dan meningkatkan pendapatan petani.

“Kalau disiplin, produksinya tidak akan di bawah delapan ton. Bisa 10 ton, bahkan 12 ton,” ujar Amran.

Menurutnya, jika produktivitas meningkat dan biaya usaha tani dapat ditekan, sektor pertanian akan semakin menarik secara ekonomi bagi petani.

“Kalau sawahnya satu hektare, rata-rata pendapatannya bisa sekitar Rp16,3 juta per bulan. Artinya di atas gaji pegawai,” katanya.

Dengan capaian produktivitas PM-AAS yang telah mencapai rata-rata 10,34 ton GKP per hektare dalam uji multi-lokasi, teknologi tersebut berpotensi menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan produktivitas padi nasional.

Modernisasi pertanian melalui PM-AAS tidak hanya diarahkan untuk memperkuat swasembada beras, tetapi juga membangun sistem produksi pangan yang lebih efisien, adaptif, dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP