AGRICOM, KARAWANG — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke areal persawahan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Senin (31/8/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan air dan pompanisasi mampu menjaga aktivitas tanam petani tetap berjalan di tengah musim kemarau.
Dilansir Agricom dari Kementan, Selasa (1/9/2026). Dalam sidak tersebut, Amran mengecek kondisi lahan, ketersediaan sumber air, hingga pemasangan dan pemanfaatan pompa untuk mengairi persawahan. Ia menemukan sumber air di sekitar lahan masih tersedia dalam jumlah cukup, namun distribusinya ke sejumlah sawah belum optimal.
Menurut Amran, kondisi tersebut harus segera ditangani agar air yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk memperluas areal tanam.
BACA JUGA: PM-AAS Dongkrak Produktivitas Padi 63,46%, Rata-rata Capai 10,34 Ton per Hektare
“Ada dua, kita kirim pompa karena kekeringan. Ada juga karena tidak bisa tanam seperti sekarang. Ada air, air melimpah, tetapi di sini tidak bisa tanam. Hari ini kita bisa tanam, sebelah sudah tanam,” ujar Amran.
Ia menegaskan, pengecekan langsung ke lapangan penting dilakukan untuk memastikan bantuan pemerintah benar-benar terpasang dan memberikan manfaat bagi petani.
“Kunjungan ini untuk melihat langsung apa benar pompa sudah dipasang, apa benar yang kekeringan ini sudah dipasang pompa. Ternyata benar. Makanya terima kasih kepada jajaran. Kita cek langsung, jangan dicek dari Jakarta,” katanya.
BACA JUGA: Harga Gabah Naik, Petani Kolaka Mulai Menabung Emas
Dorong Indeks Pertanaman Naik
Amran mengatakan optimalisasi sumber air melalui pompanisasi menjadi salah satu strategi pemerintah untuk menjaga lahan pertanian tetap produktif sepanjang tahun. Dengan ketersediaan air yang memadai, lahan yang sebelumnya hanya dapat ditanami dua kali dalam setahun diharapkan bisa ditingkatkan menjadi tiga kali tanam.
“Ini harus kita resonansikan ke seluruh Indonesia. Dulu tanam dua kali, bisa tiga kali. Nanti kita sisir seluruh Jawa dan luar Jawa. Kita sisir semua yang ada sumber air, kita pasangkan pompa,” ujar Amran.
Karawang dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan indeks pertanaman (IP) sekaligus produksi padi. Di lokasi yang dikunjungi, terdapat sekitar 3.000 hektare lahan yang dinilai masih dapat dioptimalkan melalui pengelolaan air.
BACA JUGA: Mentan Amran Siapkan Alsintan untuk Puncak Papua, Bidik 500 Hektare Kopi Arabika
Peningkatan frekuensi tanam tersebut, menurut Amran, juga berpotensi meningkatkan pendapatan petani karena lahan dapat menghasilkan lebih banyak dalam satu tahun.
Selain indeks pertanaman, pemerintah melihat peluang untuk meningkatkan produktivitas padi. Saat ini produktivitas di lokasi tersebut berada di kisaran tujuh ton per hektare.
“Produksinya petani tujuh ton. Ini bisa naik 12 ton, 11 ton dengan metode baru,” kata Amran.
BACA JUGA: Irigasi 2,4 Km Dibangun Kementan, Petani Cirebon Bisa Tanam Saat Kemarau
Musim Kemarau Tetap Bisa Produktif
Amran menilai musim kemarau tidak selalu menjadi hambatan bagi peningkatan produksi padi selama kebutuhan air tanaman dapat dipenuhi. Bahkan, kondisi cuaca yang lebih cerah dinilai dapat mendukung proses fotosintesis tanaman.
“Ini ditanami di saat musim kering. Bahkan kalau ditanami musim kering, itu produksinya bisa 10 ton, bisa 9 ton. Kenapa? Fotosintesis itu penuh,” ujarnya.
Ia juga menyoroti dampak program pompanisasi yang telah dijalankan pemerintah terhadap produksi padi di Pulau Jawa. Menurutnya, pemasangan sekitar 100.000 unit pompa sebelumnya telah berkontribusi terhadap tambahan produksi sekitar 2,8 juta ton gabah di Jawa.
“Dulu kita pasangkan pompa kurang lebih 100 ribu. Hasilnya adalah meningkat untuk Jawa saja 2,8 juta ton gabah. Hampir tiga juta ton,” jelas Amran.
Atas dasar itu, pemerintah akan terus memetakan wilayah yang memiliki sumber air tetapi belum dimanfaatkan secara optimal untuk pertanian. Pompanisasi akan diperkuat di Jawa maupun luar Jawa untuk menjaga lahan tetap produktif, khususnya selama musim kemarau.
BACA JUGA: Kementan Perkuat Infrastruktur Irigasi di Karawang untuk Jaga Produksi Padi Saat Musim Kemarau
Kolaborasi Lintas Instansi
Amran mengapresiasi kolaborasi Kementerian Pertanian dengan Kementerian Pekerjaan Umum, pemerintah daerah, TNI, Polri, serta jajaran teknis di lapangan dalam mempercepat pengelolaan sumber daya air untuk pertanian.
“Saya mau mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dirjen SDA, luar biasa, Pak Menteri PU. Saya kagum pada Dirjen SDA. Terima kasih, ini adalah putra terbaik bangsa,” ujarnya.
Amran menekankan bahwa penyelesaian persoalan pertanian harus dilakukan dengan melihat kondisi secara langsung di lapangan. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan setiap kebijakan dan program menghasilkan tindakan nyata yang dirasakan petani.
BACA JUGA: Kementan dan Pemda Perkuat Mitigasi Kekeringan, Pastikan Pertanaman Padi Gunungkidul Tetap Produktif
“Kita jangan sibuk berdebat, rapat, dan seterusnya. Kita lihatlah langsung lapangan ini,” tegasnya.
Dengan optimalisasi sumber air, penguatan pompanisasi, percepatan tanam, dan peningkatan produktivitas, pemerintah menargetkan lahan pertanian tetap produktif meski menghadapi musim kemarau.
Dari Karawang, target peningkatan indeks pertanaman dari dua kali menjadi tiga kali tanam menjadi salah satu langkah pemerintah untuk memperkuat produksi padi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. (A3)