RSPO meningkatkan pemantauan titik panas dan koordinasi di lapangan menyusul kebakaran di sejumlah wilayah Indonesia yang berdampak terhadap masyarakat, satwa liar dan lingkungan.
AGRICOM, JAKARTA — Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) memperkuat pemantauan kebakaran di sejumlah wilayah Indonesia menyusul meningkatnya risiko akibat kondisi cuaca kering dan penguatan fenomena El Niño.
RSPO menyatakan kebakaran yang terjadi telah berdampak terhadap masyarakat, kesehatan publik, satwa liar dan mata pencaharian. Karena itu, organisasi tersebut mendorong penanganan yang cepat dan terkoordinasi untuk mencegah kebakaran meluas.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Jumat (25/9) Turun Rp515 Jadi Rp15.000/Kg, Bursa Malaysia Anjlok 2,07%
Sekretariat RSPO menggunakan sistem berbasis satelit Hotspot Hub dan FireWatch untuk memantau titik panas sekaligus memverifikasi kejadian kebakaran di dalam maupun sekitar konsesi perkebunan bersertifikat. Pemantauan tersebut dilakukan bersamaan dengan koordinasi langsung dengan anggota dan pihak terkait di lapangan.
RSPO menyebut sejumlah anggotanya menghadapi tantangan besar dalam menangani kebakaran. Prioritas utama diarahkan pada perlindungan masyarakat, pengendalian api, bantuan bagi komunitas terdampak serta koordinasi dengan otoritas kehutanan, organisasi penyelamat satwa dan lembaga swadaya masyarakat.
Kawasan yang memiliki tingkat kerentanan tinggi, termasuk habitat orangutan dan kawasan konservasi, menjadi perhatian khusus dalam penanganan tersebut.
BACA JUGA: Harga Referensi CPO September 2026 Naik 1,10% Jadi USD1.007,51 per Ton
RSPO Telusuri Penyebab Kebakaran
RSPO juga tengah berkomunikasi dengan anggota yang terdampak untuk mengetahui penyebab kebakaran. Setelah laporan lengkap diterima, organisasi tersebut akan menentukan langkah tindak lanjut berdasarkan standar RSPO.
Dalam standar RSPO, penggunaan api untuk pembukaan dan persiapan lahan dilarang. Standar tersebut juga mengatur upaya pencegahan dan penanganan kebakaran, pembakaran terbuka serta penggunaan api untuk pengendalian hama.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Turun Jadi Rp3.948,70/Kg di Periode 23–29 September 2026
RSPO menyebut kebakaran dapat disebabkan berbagai faktor, baik faktor alam maupun aktivitas manusia. Karena itu, perkebunan yang telah mendapatkan sertifikasi RSPO diwajibkan memiliki protokol pengelolaan kebakaran serta langkah pencegahan dan penanganan apabila terjadi kebakaran di dalam maupun sekitar areal perkebunan.
Anggota RSPO diharapkan merespons kebakaran yang terjadi hingga sekitar dua kilometer dari batas konsesi. Namun, dalam praktiknya, anggota sering memberikan bantuan hingga di luar batas tersebut untuk membantu masyarakat sekitar.
BACA JUGA: Dukung Inpres 11/2026, GAPKI Dorong Gotong Royong dan Kesiapsiagaan Cegah Karhutla
Keselamatan Pekerja Jadi Perhatian
Selain penanganan api, RSPO menempatkan keselamatan pekerja sebagai bagian penting dalam menghadapi kebakaran dan kabut asap.
Standar RSPO mengharuskan anggota memiliki prosedur kesehatan dan keselamatan kerja, termasuk memantau kualitas udara dan menyesuaikan aktivitas lapangan ketika tingkat polusi meningkat.
BACA JUGA: APHI dan GAPKI Dorong Protokol Bersama untuk Percepat Pemadaman Karhutla
Jika kualitas udara memburuk, pekerjaan fisik berat dapat dihentikan. Pekerja juga diwajibkan menggunakan perlengkapan perlindungan pernapasan sesuai dengan kondisi kualitas udara.
RSPO meminta anggota yang terdampak untuk terus melakukan pemantauan, patroli dan pelaporan kebakaran. Dukungan juga perlu diberikan kepada pekerja, masyarakat sekitar serta kegiatan konservasi yang terdampak kebakaran dan kabut asap.
BACA JUGA: Hari Tani Nasional 2026, Petani Sawit Tuntut B50 Libatkan Koperasi Pekebun
El Niño Tingkatkan Risiko Kebakaran
RSPO mengingatkan kondisi cuaca kering yang parah dan penguatan El Niño berpotensi meningkatkan risiko kebakaran. Kondisi tersebut membutuhkan penanganan yang melibatkan berbagai sektor.
RSPO mendorong peningkatan pemantauan dan patroli, pelaporan kejadian secara cepat serta dukungan kepada masyarakat dan kawasan konservasi yang terdampak.
Organisasi tersebut juga menyerukan kerja sama lintas batas yang transparan dan penguatan respons dini agar kebakaran dapat ditangani sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.
BACA JUGA: Asri Lambo Jadi Ketua Umum Perpekindo, Siap Perjuangkan Kesejahteraan Petani Kelapa Indonesia
RSPO menyampaikan apresiasi kepada relawan, petugas tanggap darurat dan berbagai organisasi yang terus bekerja di lapangan untuk melindungi masyarakat dan satwa liar.
Bagi industri sawit, pengendalian kebakaran menjadi persoalan yang tidak hanya berkaitan dengan keberlanjutan perkebunan. Penanganannya juga menyangkut keselamatan pekerja dan masyarakat, perlindungan satwa liar dan kawasan konservasi, serta keberlanjutan aktivitas ekonomi di sekitar perkebunan. (A3)


