Harga acuan karet SGX–SICOM melemah menjadi 258,6 sen AS per kg. Dengan kurs Rp17.809 per dolar AS, harga indikatif KKK 100% turun dibandingkan Rabu (14/10), ketika mencapai Rp46.295 per kg.
AGRICOM, PALEMBANG — Harga acuan karet berdasarkan perdagangan Singapore Exchange–SICOM (SGX–SICOM) pada Kamis (15/10/2026) turun Rp241 per kg menjadi Rp46.054 per kg untuk kadar karet kering (KKK) 100%. Sehari sebelumnya, harga indikatif tercatat Rp46.295 per kg.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Karet Indonesia (APKARINDO) Sumatera Selatan, Rudi Arpian, menyampaikan bahwa harga tersebut mengacu pada pergerakan SGX–SICOM sebesar 258,6 sen AS per kg dengan kurs Rp17.809 per dolar AS.
BACA JUGA: Harga Karet SGX–SICOM Rabu (14/10) Melorot Rp973 Jadi Rp46.295 per Kg
“Harga acuan tersebut melemah dari 259,5 sen AS per kg pada Rabu (14/10). Pada saat yang sama, kurs bergerak dari Rp17.840 menjadi Rp17.809 per dolar AS. Penguatan rupiah terhadap dolar AS turut memengaruhi nilai konversi harga dalam mata uang domestic,” ujar Rudi, dalam keterangan yang diperoleh Agricom, Kamis (15/10).
Meski mengalami penurunan, pergerakan harga dalam satu hari belum cukup untuk menunjukkan arah tren pasar karet secara keseluruhan. Pelaku usaha dan petani perlu mencermati perkembangan harga berjangka, permintaan industri, kondisi ekonomi global, serta pergerakan harga minyak dunia yang dapat memengaruhi dinamika pasar karet.
BACA JUGA: 10 UMKM Raih UKM Pangan Award 2026, Kemendag Buka Akses ke Ritel Modern
Mutu Bokar dan Transparansi Transaksi Tetap Penting
Di tengah perubahan harga pasar Rudi mengingatkan, petani karet di Sumatera Selatan perlu mempertahankan mutu bahan olah karet (bokar) agar hasil penjualan tetap kompetitif. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menjaga kadar karet kering, menggunakan bahan pembeku sesuai anjuran, serta menghindari pencampuran kotoran, tatal, kayu, dan bahan lain yang menurunkan kualitas.
Penguatan kelembagaan petani melalui Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) juga berperan penting dalam memperbaiki posisi tawar. Persaingan antarpembeli, keterbukaan informasi harga, penimbangan yang jujur, serta penjelasan potongan transaksi dapat membantu petani memperoleh harga yang lebih wajar.
BACA JUGA: TEI 2026 Resmi Dibuka, Bidik Transaksi USD17,5 Miliar dan Perluas Pasar Ekspor
“Dengan demikian, pergerakan harga SGX–SICOM perlu diikuti dengan perbaikan kualitas produksi dan tata niaga di tingkat lokal. Kombinasi keduanya menjadi salah satu faktor penting agar perubahan harga acuan dapat diterjemahkan menjadi penerimaan yang lebih baik bagi petani karet,” pungkasnya.
Rincian Harga Karet Berdasarkan KKK
Berdasarkan harga indikatif KKK 100% sebesar Rp46.054 per kg, berikut perkiraan harga karet untuk berbagai tingkat kadar karet kering:
| Kadar Karet Kering (KKK) | Harga Indikatif |
| 100% | Rp46.054/kg |
| 70% | Rp32.238/kg |
| 60% | Rp27.632/kg |
| 50% | Rp23.027/kg |
| 40% | Rp18.422/kg |
| 30% | Rp13.816/kg |
Sumber: SGX Sicom, Apkarindo Sumsel, diolah Agricom.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Rabu (14/10) Naik Rp175 Jadi Rp14.950/kg, Bursa Malaysia Menguat Tiga Hari Beruntun
Sebagai informasi, SGX-SICOM merupakan salah satu bursa komoditas utama di Asia yang memperdagangkan berbagai jenis karet alam. Bursa ini menjadi acuan bagi harga karet di pasar internasional, sehingga pergerakan harga di SGX Sicom sering kali mencerminkan kondisi pasar global.
Harga karet di Sicom SGX ini bisa menjadi acuan petani karet, selain harga patokan resmi yang dikeluarkan oleh Dinas Perkebunan setempat yang bisa jadi berbeda di setiap daerah. (A3)
