Harga karet SGX–SICOM naik menjadi 258,1 US cent/kg pada Rabu (21/10/2026), mendorong indikasi harga KKK 100% ke Rp46.241/kg meski rupiah menguat terhadap dolar AS. Perbaikan harga ini menjadi sinyal pemulihan harian, tetapi keberlanjutan tren masih bergantung pada permintaan, pasokan, dan dinamika pasar global.
AGRICOM, PALEMBANG — Harga karet acuan SGX–SICOM kembali menguat pada Rabu, 21 Oktober 2026. Harga naik menjadi 258,1 US cent/kg dari 256,2 US cent/kg pada Selasa (20/10/2026), sehingga indikasi harga karet dengan kadar karet kering (KKK) 100% meningkat Rp227 menjadi Rp46.241/kg.
Berdasarkan data yang disampaikan Rudi Arpian, Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Karet Indonesia (APKARINDO) Sumatera Selatan, penguatan harga tersebut terjadi ketika nilai tukar bergerak dari Rp17.960 menjadi Rp17.916 per dolar AS.
BACA JUGA: Harga Karet SGX–SICOM Selasa (20/10) Terkoreksi Tipis, Bertahan di Atas Rp46.000/kg
Kenaikan harga karet di pasar internasional mampu mengimbangi dampak perubahan kurs, sehingga indikasi harga dalam rupiah meningkat dibandingkan hari sebelumnya yang tercatat Rp46.014/kg.
“Penguatan ini menjadi sinyal pemulihan setelah harga karet mengalami koreksi tipis pada Selasa. Meski demikian, kenaikan dalam satu hari belum cukup untuk memastikan tren penguatan akan berlanjut,” kata Rudi, dalam keterangan yang diperoleh Agricom, Rabu (21/10).
Pergerakan harga selanjutnya masih dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain permintaan industri, kondisi ekonomi global, harga minyak, ketersediaan pasokan karet alam, serta dinamika nilai tukar. Faktor-faktor tersebut turut menentukan arah harga di pasar internasional dan dampaknya terhadap harga karet di tingkat domestik.
BACA JUGA: Harga Karet SGX–SICOM Senin 19 Oktober 2026 Naik Rp571, Jadi Rp46.055 per Kg
Harga Karet Berdasarkan Kadar Karet Kering
Berikut indikasi harga karet berdasarkan tingkat KKK pada Rabu, 21 Oktober 2026:
| Kadar Karet Kering (KKK) | Harga (Rp/kg) |
| 100% | 46.241 |
| 70% | 32.369 |
| 60% | 27.745 |
| 50% | 23.121 |
| 40% | 18.496 |
| 30% | 13.872 |
Sumber: SGX Sicom, Apkarindo Sumsel, diolah Agricom.
Bagi petani, kenaikan harga acuan internasional tidak otomatis mencerminkan harga bersih yang diterima di tingkat kebun. Nilai transaksi tetap dipengaruhi kadar karet kering, mutu bahan olah karet (bokar), biaya produksi, jalur pemasaran, ketepatan penimbangan, serta potongan yang diberlakukan dalam transaksi.
Karena itu, momentum penguatan harga perlu diikuti upaya menjaga kualitas bokar, menggunakan bahan pembeku yang dianjurkan, serta menghindari kontaminasi yang dapat menurunkan mutu dan nilai jual karet.
“Penguatan peran Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) juga penting untuk mendorong transparansi penimbangan, penerapan potongan yang wajar, dan persaingan antarpembeli yang sehat. Dengan demikian, perbaikan harga di pasar internasional diharapkan dapat memberikan manfaat lebih baik bagi petani karet,” pungkasnya.
Sebagai informasi, SGX-SICOM merupakan salah satu bursa komoditas utama di Asia yang memperdagangkan berbagai jenis karet alam. Bursa ini menjadi acuan bagi harga karet di pasar internasional, sehingga pergerakan harga di SGX Sicom sering kali mencerminkan kondisi pasar global.
Harga karet di Sicom SGX ini bisa menjadi acuan petani karet, selain harga patokan resmi yang dikeluarkan oleh Dinas Perkebunan setempat yang bisa jadi berbeda di setiap daerah. (A3)
