Harga CPO Bursa Malaysia menguat di seluruh kontrak setelah ditopang kenaikan harga minyak mentah dan minyak nabati. Ekspor Malaysia yang melonjak hingga 58,3% pada paruh pertama Oktober serta prospek biodiesel B50 Indonesia menopang sentimen, meski stok Malaysia mencapai rekor 3,51 juta ton.
AGRICOM, JAKARTA — Harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives menguat pada penutupan perdagangan Selasa (20/10/2026). Kenaikan didukung oleh menguatnya harga minyak mentah dan minyak nabati, serta membaiknya prospek permintaan ekspor.
Dilansir dari Bernama, kontrak CPO November 2026 naik RM80 menjadi RM4.595 per ton. Kontrak Desember 2026 menguat RM66 menjadi RM4.732 per ton, sedangkan kontrak Januari 2027 naik RM51 menjadi RM4.817 per ton.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Selasa (20/10) Naik Rp108 Jadi Rp15.158/kg, Bursa Rotterdam Bervariasi
Penguatan juga terjadi pada kontrak berjangka lainnya. Kontrak Februari 2027 naik RM41 menjadi RM4.898 per ton, kontrak Maret 2027 meningkat RM32 menjadi RM4.968 per ton, dan kontrak April 2027 bertambah RM24 menjadi RM5.017 per ton.
Aktivitas perdagangan turut meningkat. Volume perdagangan mencapai 142.270 lot, naik dari 106.846 lot pada Senin (19/10/2026). Sementara itu, posisi terbuka (open interest) bertambah menjadi 334.160 kontrak dari sebelumnya 332.357 kontrak.
BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Berakhir Bervariasi, Kontrak November Turun ke RM4.515 per Ton
Produksi dan Risiko El Niño Topang Harga CPO
David Ng, pedagang independen dari Iceberg X Sdn Bhd, menilai prospek perlambatan produksi minyak sawit menjelang akhir tahun menjadi salah satu faktor pendukung harga. Kekurangan tenaga kerja yang masih berlangsung serta potensi gangguan cuaca akibat El Niño pada 2027 juga menjadi perhatian pasar.
Menurutnya, harga CPO memiliki area dukungan langsung di kisaran RM4.770–RM4.785 per ton. Sementara itu, area resistensi diperkirakan berada pada RM4.800–RM4.820 per ton.
BACA JUGA: Harga Referensi CPO Oktober 2026 Naik Jadi USD 1.042,15/MT, BK USD 178 dan PE USD 130,269 per MT
Prospek tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar masih mencermati keseimbangan antara potensi pengetatan pasokan dan perkembangan permintaan minyak sawit di pasar global.
Ekspor Malaysia Melonjak, Permintaan India Menguat
Dari sisi permintaan, pengiriman minyak sawit Malaysia menunjukkan peningkatan signifikan pada awal Oktober. Dilansir Trading Economics, berdasarkan laporan lembaga survei kargo, ekspor minyak sawit Malaysia pada paruh pertama Oktober meningkat sekitar 43,2% hingga 58,3% dibandingkan periode yang sama pada bulan sebelumnya.
Kenaikan pengiriman tersebut memperkuat ekspektasi permintaan ekspor. Permintaan dari India, salah satu importir utama minyak sawit dunia, juga menjadi perhatian menjelang perayaan hari besar keagamaan yang berpotensi meningkatkan kebutuhan minyak nabati.
BACA JUGA: BPDP Promosikan Sawit, Kelapa, dan Kakao di TEI 2026, Raih Penghargaan Booth Terbaik Ketiga
Selain faktor ekspor, kenaikan harga minyak mentah dunia turut mendukung daya saing minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel. Pergerakan harga minyak nabati di Bursa Dalian, China, juga memberikan dukungan bagi pasar minyak sawit.
Kebijakan Biodiesel Indonesia Jadi Perhatian
Di Indonesia, harga referensi CPO untuk Oktober 2026 naik 3,44% menjadi US$1.042,15 per ton. Perkembangan ini menjadi salah satu indikator penting dalam kebijakan perdagangan minyak sawit nasional.
Pelaku pasar juga mencermati rencana penerapan mandatori biodiesel B50 di Indonesia. Jika diterapkan, kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan penyerapan minyak sawit untuk kebutuhan energi domestik dan memengaruhi ketersediaan pasokan untuk ekspor.
BACA JUGA: IPOC 2026: GAPKI Bahas Harga Sawit 2027, Ketahanan Pangan dan Energi di Tengah Geopolitik Global
Namun, potensi penguatan harga masih menghadapi tantangan dari tingginya persediaan di Malaysia. Stok minyak sawit negara tersebut tercatat mencapai rekor 3,51 juta ton pada September, seiring meningkatnya produksi selama periode puncak panen musiman.
Besarnya persediaan menjadi faktor yang dapat membatasi kenaikan harga lebih lanjut. Karena itu, arah pasar CPO selanjutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan ekspor, tingkat produksi, kebijakan biodiesel, dan perubahan stok di negara produsen utama.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Senin (19/10) Naik Jadi Rp15.050/kg, Bursa Malaysia Ditutup Bervariasi
Harga CPO KPBN Inacom Naik Rp108/kg
Di pasar domestik, harga CPO dalam tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) Inacom naik Rp108/kg atau 0,72% menjadi Rp15.158/kg pada Selasa (20/10/2026).
Harga tersebut meningkat dibandingkan hasil tender Senin (19/10/2026) sebesar Rp15.050/kg. Kenaikan harga KPBN Inacom sejalan dengan penguatan harga CPO di pasar berjangka Malaysia pada hari yang sama.
BACA JUGA: 70 Petani Sawit Morowali Utara Belajar Mengolah Limbah Menjadi Pupuk Organik
Harga CPO Bursa Malaysia Derivatives, 20 Oktober 2026
| Kontrak | Harga Penutupan (RM/ton) | Perubahan (RM/ton) |
| November 2026 | 4.595 | +80 |
| Desember 2026 | 4.732 | +66 |
| Januari 2027 | 4.817 | +51 |
| Februari 2027 | 4.898 | +41 |
| Maret 2027 | 4.968 | +32 |
| April 2027 | 5.017 | +24 |
Sumber: Bernama, diolah Agricom.
(A3)