Kementan mendorong hilirisasi perkebunan dimulai dari penguatan produksi, produktivitas dan kualitas bahan baku di tingkat pekebun agar nilai tambah lebih besar tercipta di dalam negeri.
AGRICOM, JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pengembangan hilirisasi perkebunan dimulai dari sektor hulu, dengan memperkuat produksi, produktivitas, kualitas, dan kontinuitas bahan baku di tingkat pekebun. Langkah tersebut dinilai penting agar industri pengolahan memiliki pasokan bahan baku yang memenuhi kebutuhan volume dan mutu secara berkelanjutan.
Sejumlah komoditas perkebunan dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan melalui hilirisasi, antara lain tebu, kakao, kelapa, kopi, kelapa sawit, lada, pala, jambu mete, cengkeh, dan teh.
BACA JUGA: Kementan Siapkan Rp2,3 Triliun untuk Hilirisasi Perkebunan pada 2027
Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Heru Tri Widarto, mengatakan kesiapan hilirisasi tidak cukup diukur dari besarnya produksi suatu komoditas. Ketersediaan bahan baku, luas areal, produktivitas, kualitas, kesiapan pekebun dan kelembagaan, teknologi pengolahan hingga pasar produk turunan juga menjadi faktor penentu.
“Hilirisasi harus dimulai dari hulu. Bahan baku yang cukup, berkualitas dan tersedia secara berkelanjutan menjadi fondasi agar industri hilir dapat berkembang. Karena itu, peningkatan produktivitas dan kualitas di tingkat pekebun menjadi bagian penting dari strategi hilirisasi perkebunan,” ujar Heru, dikutip Agricom dari laman Ditjenbun, Senin (21/9).
Menurut Heru, peluang hilirisasi berbeda pada setiap komoditas. Kakao, misalnya, dapat diolah menjadi cocoa butter, cocoa powder, cocoa liquor atau cocoa mass, hingga berbagai produk pangan berbasis cokelat.
BACA JUGA: Kakao Tak Sekadar Biji, Hasil Samping Berpeluang Jadi Sumber Pendapatan Baru
Kelapa memiliki pilihan produk turunan yang lebih beragam, mulai dari minyak kelapa, virgin coconut oil (VCO), santan, kelapa parut kering, gula kelapa, arang dan karbon aktif hingga produk berbasis sabut dan tempurung.
Pada komoditas kopi, hilirisasi dapat diarahkan ke produk seperti roasted coffee, kopi bubuk dan kopi instan, serta berbagai produk pangan dan nonpangan berbasis kopi.
Sementara itu, tebu dapat dikembangkan menjadi gula konsumsi, gula industri, etanol atau bioetanol. Produk samping seperti molases dan bagas juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
BACA JUGA: Harga Referensi Kakao September 2026 Naik 3,89% Jadi USD5.635,76 per Ton
Komoditas lainnya juga memiliki peluang hilirisasi sesuai karakteristiknya. Cengkeh, misalnya, dapat diolah menjadi minyak cengkeh dan eugenol. Lada dapat dikembangkan menjadi lada bubuk, oleoresin dan produk pangan, sedangkan jambu mete berpotensi menghasilkan kacang mete dan cashew nut shell liquid (CNSL).
Pala juga dapat dikembangkan melalui produksi minyak pala, oleoresin serta berbagai produk pangan berbasis biji dan fuli.
Produktivitas Pekebun Jadi Fondasi
Heru menegaskan, nilai tambah dari hilirisasi tidak hanya ditentukan oleh jenis komoditas, tetapi juga tingkat pengolahan, teknologi, efisiensi produksi, skala usaha, kualitas bahan baku dan pasar produk akhir.
Karena itu, strategi hilirisasi perlu disesuaikan dengan karakteristik komoditas dan wilayah sentra produksi.
BACA JUGA: 28 Persen Areal Kopi Berpotensi Kering, Kementan Perkuat Budidaya Adaptif Iklim
“Tidak semua komoditas bisa menggunakan pendekatan yang sama. Yang penting adalah melihat potensi wilayah, kesiapan bahan baku, produk turunan yang prospektif dan pasar yang tersedia. Dari sisi Kementan, kita memastikan hulunya semakin kuat,” jelas Heru.
Menurut dia, tantangan hilirisasi di sejumlah komoditas masih mencakup skala dan sebaran produksi, kontinuitas pasokan, produktivitas yang belum seragam, kualitas bahan baku, teknologi pengolahan, pembiayaan serta akses pasar.
Tantangan tersebut menjadi semakin penting karena sebagian besar perkebunan Indonesia dikelola oleh rakyat. Penguatan produktivitas dan kualitas pekebun, dengan demikian, menjadi bagian penting dalam membangun rantai pasok industri yang lebih kuat.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau 16–22 September 2026 Turun Rp17,54/Kg
“Kalau hulunya kuat, industri akan lebih mudah mendapatkan bahan baku yang memenuhi kebutuhan dari sisi volume, kualitas dan kontinuitas. Sebaliknya, pekebun juga membutuhkan kepastian pasar dan hubungan usaha yang memberikan manfaat ekonomi. Jadi, keduanya harus dibangun secara seimbang,” kata Heru.
Kementan juga mendorong penguatan kelembagaan pekebun, korporasi pekebun, kemitraan dan pengembangan kawasan perkebunan. Konsolidasi produksi melalui kelembagaan dinilai dapat membantu memenuhi kebutuhan bahan baku industri secara lebih efisien.
Di sisi lain, pekebun didorong untuk tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah. Mereka juga diharapkan memiliki peluang untuk masuk ke proses penciptaan nilai tambah melalui pengembangan unit pengolahan di tingkat pekebun maupun kawasan.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Jumat (18/9) Turun Jadi Rp15.708/Kg, Bursa Malaysia Ikut Melemah
“Tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan produk olahan di dalam negeri. Hilirisasi harus memberikan dampak ekonomi yang lebih besar kepada pekebun. Karena itu, peningkatan produktivitas, kualitas, kelembagaan dan akses terhadap rantai nilai menjadi bagian yang tidak terpisahkan,” ujar Heru.
Untuk memperkuat fondasi tersebut, Kementan berfokus pada peningkatan produktivitas, pengembangan kawasan, penyediaan benih unggul dan bermutu, peningkatan kualitas hasil, penguatan kelembagaan serta pembangunan ekosistem produksi perkebunan.
Sementara kebijakan investasi, pembiayaan, insentif dan kemudahan berusaha dilakukan melalui sinergi lintas kementerian dan lembaga sesuai kewenangannya.
BACA JUGA: Harga Karet SGX-SICOM Jumat (18/9) Naik Lagi Jadi Rp42.235/Kg
Dorong Nilai Tambah di Dalam Negeri
Arah tersebut sejalan dengan kebijakan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman yang mendorong hilirisasi pertanian agar komoditas nasional tidak berhenti sebagai bahan mentah.
Menurut Amran, penguatan hilirisasi diperlukan untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian sekaligus memperkuat daya saing produk Indonesia.
“Kita ingin hasil pertanian tidak berhenti sebagai bahan mentah. Nilai tambah harus kita dorong di dalam negeri sehingga membuka peluang usaha, memperkuat industri dan memberikan manfaat yang lebih besar kepada petani dan pekebun,” ujar Amran.
Amran juga menekankan peningkatan produktivitas sebagai salah satu kunci penguatan sektor pertanian dari hulu. Produksi yang lebih tinggi dengan kualitas yang baik akan memperkuat pasokan bahan baku dan mendukung pengembangan industri pengolahan.
“Produktivitas harus kita tingkatkan. Kalau produksinya kuat, bahan baku tersedia, kualitasnya baik, maka industri akan tumbuh dan daya saing kita semakin kuat,” lanjutnya.
Kementan memastikan pengembangan hilirisasi perkebunan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan karakteristik masing-masing komoditas.
Penguatan tersebut mencakup penggunaan benih bermutu, penerapan budi daya yang baik, peningkatan produktivitas, pengendalian organisme pengganggu tanaman, peningkatan mutu hasil, penguatan kelembagaan pekebun hingga ketelusuran sesuai kebutuhan masing-masing komoditas.
Aspek standardisasi produk, sertifikasi, perdagangan, investasi dan akses pasar juga terus diperkuat melalui sinergi dengan kementerian dan lembaga terkait.
Heru mengatakan pendekatan tersebut diarahkan agar produk perkebunan Indonesia mampu memenuhi kebutuhan industri domestik sekaligus memiliki daya saing di pasar global.
“Arah kita jelas, dari hulu ke hilir. Kita perkuat produksi dan produktivitas pekebun, jaga kualitas dan kontinuitas bahan baku, kemudian kita hubungkan dengan industri. Dengan begitu, nilai tambah tercipta di dalam negeri dan manfaatnya semakin besar dirasakan oleh pekebun,” pungkas Heru. (A3)
