AGRICOM, JAKARTA — Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) berjangka di Bursa Malaysia Derivatives menguat pada perdagangan Jumat (4/9/2026). Penguatan tersebut membawa kontrak acuan mencatat kenaikan mingguan, di tengah kekhawatiran terhadap potensi dampak fenomena El Niño terhadap produksi sawit di Malaysia dan Indonesia.
Mengutip Reuters, kontrak berjangka CPO paling aktif untuk pengiriman November 2026 ditutup naik RM27 per ton atau 0,55% menjadi RM4.931 per ton.
Dalam sepekan, kontrak tersebut menguat sekitar 0,76%, sekaligus memulihkan sebagian penurunan yang terjadi pada pekan sebelumnya.
BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Turun pada 3 September 2026, KPBN Inacom Naik Tipis
Kekhawatiran terhadap kondisi cuaca dan potensi El Niño menjadi salah satu faktor yang menopang harga CPO. Fenomena tersebut berpotensi memengaruhi produksi sawit di dua negara produsen utama dunia, Malaysia dan Indonesia.
Namun, penguatan harga CPO di Bursa Malaysia terjadi ketika sejumlah minyak nabati pesaing justru bergerak melemah.
Di Bursa Dalian, kontrak minyak kedelai (soybean oil) yang paling aktif turun 0,19%, sedangkan kontrak minyak sawit melemah 0,39%. Sementara itu, harga minyak kedelai (soyoil) di Chicago Board of Trade (CBOT) terkoreksi 0,46%.
Harga CPO KPBN Inacom Turun
Berbeda dengan pasar berjangka Malaysia, harga CPO dalam tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) pada Jumat (4/9/2026) justru mengalami penurunan.
KPBN Inacom menetapkan harga CPO sebesar Rp16.025 per kg, turun Rp73 per kg atau sekitar 0,45% dibandingkan harga Kamis (3/9/2026) yang mencapai Rp16.098 per kg.
BACA JUGA: Dukung Inpres 11/2026, GAPKI Dorong Gotong Royong dan Kesiapsiagaan Cegah Karhutla
Perbedaan arah pergerakan tersebut menunjukkan bahwa harga CPO domestik dan pasar berjangka regional tidak selalu bergerak searah dalam perdagangan harian, karena dipengaruhi oleh dinamika pasokan, permintaan, nilai tukar, serta kondisi pasar minyak nabati global. (A3)







