Kementan menargetkan penambahan 600 ribu sapi perah indukan hingga 2029, disertai penguatan koperasi, produktivitas, pakan, pembiayaan, kesehatan hewan, dan kepastian penyerapan susu peternak.
AGRICOM, PASURUAN — Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat ekosistem persusuan nasional dengan mendorong peningkatan produksi susu peternak dalam negeri. Pemerintah menargetkan penambahan sedikitnya 600 ribu ekor sapi perah indukan hingga 2029 sebagai bagian dari upaya mempercepat terwujudnya swasembada susu nasional.
Dilansir Agricom dari Kementan, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, peningkatan produksi susu dalam negeri menjadi prioritas pemerintah. Menurutnya, selama peternak mampu memenuhi kebutuhan susu nasional, pemerintah akan mengutamakan penyerapan produksi dalam negeri.
BACA JUGA: Mentan Amran Percepat Lima Kawasan Peternakan Terintegrasi, Ditargetkan Rampung 2027
“Selama peternak mampu menghasilkan susu, kita tidak akan impor,” tegas Mentan Amran.
Penguatan persusuan nasional, kata Amran, tidak hanya diarahkan pada peningkatan populasi sapi perah. Pemerintah juga mendorong penguatan koperasi, produktivitas peternak, pembiayaan, ketersediaan pakan, hingga kepastian pasar agar peningkatan produksi dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda mengatakan, produksi susu segar dalam negeri saat ini baru memenuhi sekitar 20% kebutuhan nasional. Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya peluang pengembangan peternakan sapi perah sekaligus perlunya memperkuat peran peternak rakyat.
“Kita masih membutuhkan penambahan sapi perah dalam jumlah besar. Tetapi yang dibangun bukan hanya populasinya. Produktivitas, kesehatan hewan, pakan, pembiayaan, sampai kepastian penyerapan susu peternak juga harus disiapkan bersama,” ujar Agung saat mendampingi Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI ke Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Suka Makmur, Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Senin (28/9).
Target Tambah 600 Ribu Sapi Perah
Agung menyebut pemerintah menargetkan penambahan sedikitnya 600 ribu ekor sapi perah indukan hingga 2029. Penambahan populasi tersebut diharapkan memperkuat produksi susu nasional sehingga pada 2030 ketergantungan terhadap susu impor dapat ditekan secara signifikan.
Untuk mempercepat penambahan populasi sapi perah, pemerintah menyiapkan sejumlah dukungan bagi peternak, antara lain uang muka pembelian sapi, asuransi, pembangunan kandang, serta alat perah. Pembiayaan juga dapat diperkuat melalui skema perbankan.
BACA JUGA: Harga Referensi CPO Oktober 2026 Naik Jadi USD 1.042,15/MT, BK USD 178 dan PE USD 130,269 per MT
“Kita ingin peternak bisa menambah sapi tanpa harus menanggung seluruh biaya di awal. Karena itu, pemerintah menyiapkan skema dukungan yang lebih sesuai dengan karakter usaha sapi perah,” katanya.
Menurut Agung, peningkatan populasi sapi harus berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas. Ketersediaan pakan, kesehatan hewan, fasilitas produksi, dan kemampuan peternak menjadi faktor penting agar penambahan populasi benar-benar berdampak terhadap produksi susu nasional.
Koperasi Jadi Penghubung Peternak dan Industri
Selain meningkatkan populasi sapi, pemerintah menekankan pentingnya kepastian penyerapan susu peternak. Peningkatan produksi, menurut Agung, harus diikuti kesiapan industri dan pasar.
“Tidak boleh ada susu segar peternak yang tidak terserap. Kalau produksi ditingkatkan, industri dan pasarnya juga harus siap. Peternak perlu mendapat kepastian bahwa susu yang mereka hasilkan memiliki pasar,” tegasnya.
BACA JUGA: HR Biji Kakao Oktober 2026 Naik 7,49% Jadi USD 6.057,87, HPE USD 5.686 per MT, BK dan PE 7,5%
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto mengatakan penguatan koperasi menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian susu nasional. Koperasi dinilai memiliki posisi strategis dalam menghubungkan peternak dengan industri sekaligus memperkuat rantai pasok susu.
“Kami ingin melihat bagaimana rantai pasok susu berjalan, apa yang masih menjadi hambatan, serta dukungan apa yang diperlukan agar peternak, koperasi, industri, dan pemerintah dapat bergerak dalam satu ekosistem yang saling memperkuat,” ujar Titiek.
Menurutnya, KUTT Suka Makmur memiliki posisi strategis karena tidak hanya menghimpun dan memasarkan susu, tetapi juga memberikan dukungan kepada peternak melalui penyediaan pakan, pelayanan kesehatan hewan, dan pembiayaan.
BACA JUGA: Kementan Perkuat Pencegahan Karhutla Lewat PLTB dan Kelompok Tani Peduli Api
“Kemandirian susu nasional bukan sekadar persoalan menambah sapi, tetapi membangun ekosistem yang membuat peternak mampu menghasilkan susu secara produktif, efisien, dan berkelanjutan,” tegasnya.
KUTT Suka Makmur Naungi 2.000 Peternak
KUTT Suka Makmur saat ini menaungi lebih dari 2.000 peternak dengan populasi sekitar 8.700 ekor sapi perah. Koperasi tersebut menghasilkan sekitar 35 ton susu segar per hari.
Selain menghimpun dan memasarkan susu segar, KUTT Suka Makmur juga mengembangkan produk olahan susu serta menjalin kemitraan penyerapan susu dengan industri.
BACA JUGA: GAPKI Perkuat Pencegahan Karhutla, Fokus Pengawasan hingga Desa Sekitar Konsesi
Ketua KUTT Suka Makmur Evi Zainal Abidin mengatakan keberlanjutan usaha peternak sangat bergantung pada kemitraan yang sehat antara koperasi dan industri. Kepastian pasar akan memberikan ruang bagi peternak untuk meningkatkan produksi sekaligus mengembangkan skala usaha.
“Industri dan koperasi sudah selayaknya menjadi mitra strategis yang saling membesarkan. Kemitraan yang sehat akan membuka ruang agar peternak berkembang, koperasi semakin kuat, dan industri mendapatkan pasokan susu yang berkualitas,” ujar Evi.
BACA JUGA: Anggaran Kementan Rp28,02 Triliun pada 2027, Bawang Putih Jadi Prioritas Baru
Selain kepastian pasar, ketersediaan pakan menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan sapi perah. Karena itu, KUTT Suka Makmur terus mendorong pengembangan produk olahan susu sekaligus memperkuat penyediaan pakan bagi peternak.
“Sumber pakan dan bahan baku pakan menjadi salah satu kunci berkembangnya peternakan sapi perah di Indonesia. Kalau pakan tersedia dan kemitraan berjalan baik, peternak memiliki ruang yang lebih besar untuk meningkatkan produksi dan mengembangkan usahanya,” katanya.
Pasuruan Dorong Penguatan Pakan
Bupati Pasuruan Mochamad Rusdi Sutejo mengatakan pengembangan persusuan merupakan salah satu sektor penting bagi perekonomian masyarakat Kabupaten Pasuruan. Pemerintah daerah mendorong penguatan produksi, ketersediaan pakan, hingga kepastian penyerapan susu peternak.
“Pasuruan memiliki potensi sapi perah dan produksi susu yang besar. Tantangan kami adalah bagaimana produksi terus meningkat dengan dukungan pakan yang cukup, sekaligus memastikan susu peternak terserap dengan baik oleh koperasi dan industri,” ujar Rusdi.
BACA JUGA: Harga Karet SGX–SICOM Jumat (2/10) Naik Rp257 ke Rp45.581/Kg
Ia menambahkan, pemanfaatan lahan untuk hijauan dan bahan baku pakan perlu diperluas agar usaha sapi perah dapat berkembang secara berkelanjutan.
Dengan target penambahan 600 ribu sapi perah indukan hingga 2029, pemerintah tidak hanya mengejar peningkatan populasi ternak, tetapi juga membangun rantai pasok susu yang terintegrasi dari peternak, koperasi hingga industri. Penguatan produktivitas, pakan, pembiayaan, kesehatan hewan, dan kepastian pasar menjadi bagian penting untuk meningkatkan kontribusi produksi susu dalam negeri terhadap kebutuhan nasional. (A3)


