Paviliun Campuspreneur di Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 menghadirkan usaha rintisan mahasiswa dengan potensi pasar internasional. Allikan Bandeng Asap menarik calon pembeli dari sejumlah negara dan mencatat permintaan pasokan hingga 28 ton per bulan dari Afrika, sementara usaha fesyen Betawi Boys dan produk kakao Bali juga menjajaki peluang ekspor.
AGRICOM, TANGERANG — Produk olahan ikan, fesyen berbasis budaya lokal, dan aneka olahan kakao karya wirausaha muda menjadi daya tarik Paviliun Campuspreneur dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten.
Paviliun yang digagas melalui program Kementerian Perdagangan (Kemendag) tersebut mempertemukan mahasiswa dan civitas academica dengan calon pembeli internasional. Sejumlah usaha rintisan yang tampil tidak hanya menawarkan produk unggulan, tetapi juga mulai membangun jaringan bisnis untuk memperluas pasar ekspor.
BACA JUGA: TEI 2026 Resmi Dibuka, Bidik Transaksi USD17,5 Miliar dan Perluas Pasar Ekspor
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengunjungi paviliun tersebut pada Sabtu (17/10/2026). Dalam kunjungannya, ia mencicipi bandeng asap tanpa duri produksi Allikan Bandeng Asap sekaligus berdialog dengan pemilik usaha, Sugandi dan Gevbry Ranti Ramadhani Simamora.
“Wah, ini enak sekali. Sudah ada buyer belum?” tanya Budi Santoso, yang akrab disapa Mendag Busan, dikutip Agricom dari Kemendag, Minggu (18/10).
“Kalau calon buyer, sudah, Pak,” jawab Gevbry sumringah. Pada TEI ke-41, produk Allikan Bandeng Asap, mitra binaan Institut Teknologi Kalimantan, ini telah berhasil menarik minat calon pembeli dari Malaysia, Jepang, Korea, hingga Brunei Darussalam. Usaha ini bahkan mencatat permintaan pasokan hingga 28 ton per bulan dari Afrika serta menerima rata-rata empat letter of intent (LoI) setiap harinya. Allikan Bandeng Asap mengikuti TEI ke-41 pada 14—18 Oktober 2026.
BACA JUGA: Mendag Busan Dorong UMKM Manfaatkan AI untuk Perluas Pasar Ekspor di TEI 2026
“Buyer-nya di-follow up, ya. Supaya transaksinya bisa terealisasi,” ujar Mendag Busan memberi semangat. Menurutnya, ketertarikan calon pembeli harus segera ditindaklanjuti agar peluang yang ada dapat berlanjut menjadi kerja sama konkret, terutama bagi peserta yang sudah mengantongi Letter of Intent (LoI).
Beralih ke stan berikutnya, kreativitas anak muda dalam mengembangkan produk lokal ditunjukkan oleh Betawi Boys. Merek fesyen yang dikembangkan Septo Hidayatullah, mahasiswa Universitas Esa Unggul, Jakarta, ini memadukan gaya berpakaian modern dengan unsur budaya Betawi sekaligus mengolah limbah botol plastik sebagai suvenir.
Tak sekadar bisnis, usaha ini juga membawa misi sosial berupa pemberdayaan masyarakat. Dalam hal ini, Betawi Boys melibatkan mantan narapidana dan mantan pengguna narkotika dalam proses produksinya. “Selama pameran ini, kami sudah menjajaki peluang ekspor dengan calon buyer dari Malaysia dan Republik Senegal. Semoga bisa segera terealisasi,” ungkap Septo penuh antusias.
BACA JUGA: Perjanjian Dagang ASEAN dan ASEAN Plus Buka Peluang Ekspor Produk Indonesia ke Pasar Asia Pasifik
Semangat membawa produk lokal ke pasar internasional juga ditunjukkan oleh I Ketut Bagus Adi, mahasiswa Bina Nusantara University Alam Sutera asal Bali. Ia mengolah kakao dari kebun dan fasilitas lokal di Bali menjadi beragam produk, mulai dari cokelat batangan, cokelat bubuk, biji kakao, hingga mentega kakao yang dihasilkan dari ekstraksi lemak biji kakao.
Melalui pendampingan Campuspreneur, Bagus berhasil memperluas jejaring internasional dengan menandatangani nota kesepahaman (MoU) bersama perwakilan dari Tokyo, Jepang. Usahanya juga memperoleh LoI dari buyer Australia di ajang TEI ke-41.
“Saya senang sekali ikut serta di Paviliun Campuspreneur. Selain bisa ketemu langsung dengan buyer, saya juga bisa bertemu dengan sesama mahasiswa yang memiliki pandangan yang sama tentang ekspor,” ungkap Bagus.
BACA JUGA: Asa Ekspor UMKM Tumbuh dari Paviliun Pilihan Busan di TEI 2026
Melihat antusiasme para wirausaha muda tersebut, Mendag Busan menyampaikan rasa bangganya atas keberanian generasi muda Indonesia bersaing di tingkat global. Melalui Campuspreneur, Kemendag terus membuka ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan ide bisnis, memperluas jejaring, dan mempersiapkan produk lokal agar mampu menembus pasar dunia. “Saya bangga sekali dengan anak-anak muda Indonesia karena memiliki visi meningkatkan ekspor dan mendukung pembangunan nasional,” kata Mendag Busan. (A3)







