Pelemahan harga CPO global dipicu tekanan harga minyak kedelai dan ketidakpastian kebijakan Indonesia, termasuk pajak ekspor dan implementasi biodiesel B50. Foto: Istimewa
AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global mengalami koreksi pada perdagangan Selasa (17/3/2026), mengakhiri tren penguatan yang berlangsung selama empat hari sebelumnya.
Mengacu laporan Reuters, pelemahan harga terjadi di Bursa Malaysia Derivatives, dipicu tekanan dari pergerakan harga minyak kedelai (soyoil) di Chicago serta ketidakpastian arah kebijakan strategis Indonesia.
Kontrak berjangka CPO acuan pengiriman Juni 2026 tercatat turun RM49 per ton atau sekitar 1,05% menjadi RM4.605 per ton pada sesi jeda siang.
Selain faktor eksternal, pasar juga dibayangi sentimen domestik Indonesia, khususnya terkait revisi pajak ekspor serta belum jelasnya implementasi mandatori biodiesel B50. Kebijakan ini mengatur campuran 50% biodiesel berbasis sawit dengan 50% solar, yang dinilai berpotensi memengaruhi permintaan domestik CPO.
Pergerakan minyak nabati global menunjukkan arah yang bervariasi. Di Bursa Dalian, kontrak soyoil melemah 1,33%, sementara kontrak minyak sawit turun tipis 0,18%. Sebaliknya, harga soyoil di Chicago Board of Trade justru menguat sekitar 1,05%.
Pelaku pasar kini menunggu kejelasan kebijakan Indonesia, terutama terkait pajak ekspor dan implementasi B50, yang diperkirakan akan menjadi faktor kunci dalam menentukan arah harga CPO dalam jangka pendek hingga menengah.
Sementara itu, harga CPO di dalam negeri yang ditetapkan oleh PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) juga mengalami penurunan. Pada Selasa (17/3/2026), harga ditetapkan sebesar Rp 15.825 per kg, turun Rp 65 per kg atau sekitar 0,41% dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang mencapai Rp 15.890 per kg. (A3)