Harga CPO global dan domestik kompak melemah, dipicu penurunan harga minyak mentah serta tekanan di pasar minyak nabati. Foto: Agricom
PALMOILMAGAZINE, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) kembali mengalami tekanan kuat di pasar global, seiring pelemahan harga minyak mentah dunia pasca kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Berdasarkan laporan Reuters, kontrak berjangka CPO acuan untuk pengiriman Juni 2026 di Bursa Malaysia Derivatives tercatat merosot signifikan pada perdagangan Rabu (8/4/2026). Harga turun sebesar RM150 per ton atau sekitar 3,15% menjadi RM4.615 per ton pada jeda perdagangan siang. Penurunan ini sekaligus memperpanjang tren pelemahan yang telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut.
BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Melemah Dua Hari Beruntun
Tekanan di pasar global turut berdampak pada harga domestik. Di Indonesia, harga CPO yang dipasarkan melalui PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) mengalami withdraw (WD). Penawaran tertinggi hanya mencapai Rp15.750/kg, turun Rp525/kg atau sekitar 3,23% dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang berada di level Rp16.275/kg.
Pelemahan ini tidak hanya terjadi pada CPO, tetapi juga merata di pasar minyak nabati lainnya. Di bursa Dalian, harga kontrak minyak kedelai tercatat turun 2,73%, sementara kontrak minyak sawit melemah hingga 3,76%. Tekanan serupa juga terlihat di Chicago Board of Trade, di mana harga minyak kedelai terkoreksi sebesar 3,63%.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Rabu (8/4) Berakhir WD, Bursa Malaysia Terkoreksi Ikuti Pelemahan Minyak Dunia
Kondisi ini menunjukkan kuatnya korelasi antara harga minyak nabati dan pergerakan minyak mentah global. Ketika harga energi melemah, daya tarik biofuel berbasis minyak nabati ikut menurun, sehingga memberikan tekanan tambahan pada harga CPO.
Di sisi lain, pemerintah Malaysia tengah mempertimbangkan perluasan implementasi program biodiesel berbasis sawit B20 secara bertahap ke seluruh wilayah. Kebijakan ini diharapkan dapat menjadi penopang permintaan domestik, meskipun tetap akan disesuaikan dengan dinamika harga minyak global.
Dengan situasi tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan harga energi dunia serta kebijakan biodiesel sebagai faktor utama yang akan menentukan arah pergerakan CPO dalam jangka pendek. (A3)