Kenaikan harga minyak mentah dunia dan pergerakan positif minyak nabati pesaing mendorong penguatan harga CPO di pasar global dan domestik. Foto: Agricom
AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) kembali melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Senin (20/4/2026), didorong oleh lonjakan harga minyak mentah dunia serta sentimen positif dari pasar minyak nabati global.
Dilansir dari Reuters, harga kontrak acuan CPO untuk pengiriman Juli 2026 di Bursa Malaysia Derivatives tercatat naik RM34 per ton atau sekitar 0,76% menjadi RM4.484 per ton pada jeda perdagangan siang.
BACA JUGA:
- Harga CPO Malaysia Melemah, Tekanan Ekspor dan Energi Bayangi Pasar
- Harga CPO Tertekan: KPBN dan Bursa Malaysia Melemah di Tengah Lesunya Permintaan
Penguatan juga tercermin di pasar domestik. Harga CPO yang ditetapkan oleh PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) mencapai Rp15.195/kg pada Senin (20/4/2026). Angka ini naik Rp95/kg atau sekitar 0,63% dibandingkan harga penawaran tertinggi pada Jumat (17/4/2026) yang sebesar Rp15.100/kg.
Sentimen positif turut datang dari pergerakan minyak nabati lainnya. Di pasar Tiongkok, Bursa Dalian menunjukkan pemulihan setelah sebelumnya mengalami tekanan. Harga kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik tipis 0,06%, sementara kontrak minyak sawitnya menguat 0,34%.
Sementara itu, di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai juga mencatatkan kenaikan sebesar 0,81%, memberikan dukungan tambahan terhadap harga CPO di pasar global.
BACA JUGA:
- Mentan Amran: Program B50 Tak Ganggu Pasokan dan Harga Minyak Goreng
- Agrinas Palma Nusantara Dorong Hilirisasi Sawit Rakyat Berbasis Koperasi
Dari sisi energi, lonjakan harga minyak mentah dunia menjadi faktor pendorong utama. Harga minyak tercatat melonjak lebih dari 5% pada hari yang sama, dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi runtuhnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, menyusul insiden penyitaan kapal kargo Iran oleh pihak AS.
Ketegangan geopolitik tersebut turut memicu gangguan pada jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia.
BACA JUGA:
- Setelah Australia, India Minati Impor Pupuk Indonesia di Tengah Surplus Nasional
- Australia Lirik Impor Urea dari Indonesia, Kementan Prioritaskan Kebutuhan Domestik
Kenaikan harga minyak mentah ini secara langsung meningkatkan daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel. Kondisi tersebut mendorong peningkatan permintaan dari sektor energi alternatif, yang pada akhirnya menopang harga CPO di pasar internasional.
Dengan kombinasi faktor energi dan penguatan minyak nabati pesaing, prospek harga CPO dalam jangka pendek dinilai masih berpotensi stabil hingga menguat, meskipun tetap dibayangi dinamika geopolitik dan fluktuasi pasar global. (A3)