Dukungan premi dan pelatihan mendorong petani meningkatkan produktivitas, kualitas, serta akses pasar kakao berkelanjutan. Foto: Cargill untuk Agricom.id
AGRICOM, JAKARTA – Cargill terus memperkuat pengadaan kakao bersertifikat di Indonesia dengan menyalurkan premi senilai sekitar Rp38,8 miliar kepada lebih dari 7.800 petani yang tergabung dalam program sertifikasi Rainforest Alliance. Insentif ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam membangun rantai pasok kakao yang berkelanjutan dan transparan.
Dari total premi tersebut, sekitar Rp35 miliar disalurkan kepada petani di Sulawesi Tengah, sementara Rp3,8 miliar dialokasikan untuk petani di Nusa Tenggara Timur (NTT). Premi ini diberikan di luar pendapatan utama dari penjualan biji kakao dan dikaitkan dengan kepatuhan terhadap standar keberlanjutan internasional.
BACA JUGA: Harga Referensi Biji Kakao Periode April 2026 Anjlok 21 Persen Akibat Lonjakan Pasokan
Program ini tidak hanya berfokus pada insentif finansial, tetapi juga mencakup pelatihan, sertifikasi, serta penerapan sistem keterlacakan. Melalui pendekatan tersebut, petani didorong untuk meningkatkan produktivitas, menjaga kualitas hasil panen, serta memperluas akses ke pasar global.
Director Sustainability Food APAC Cargill, Brook Chang, menegaskan bahwa dukungan kepada petani merupakan fondasi penting dalam membangun rantai pasok yang tangguh. Menurutnya, investasi pada pelatihan dan sertifikasi memungkinkan petani meningkatkan pendapatan sekaligus memperkuat keandalan pasokan bagi industri.
BACA JUGA: Pemkab Lima Puluh Kota Tancap Gas Revitalisasi Kakao, Targetkan 2 Juta Bibit Hibrida pada 2026
“Memberikan dukungan kepada petani sangat penting dalam membangun rantai pasok kakao yang tangguh dan transparan. Melalui investasi pada pelatihan, sertifikasi, serta pembayaran premi yang terkait dengan standar keberlanjutan terverifikasi, kami dapat membantu petani untuk meningkatkan pendapatan dan produktivitas, sekaligus memperkuat keterlacakan dan keandalan pasokan bagi pelanggan dan mitra kami,” ungkapnya, dalam keterangan yang diterima Agricom.id, ditulis Kamis (23/4).
Di Sulawesi Tengah, program ini mendukung lebih dari 5.600 petani, di mana lebih dari 600 petani adalah perempuan. Antara Mei 2023 hingga Februari 2026, sekitar 16.000 metrik ton biji kakao bersertifikat Rainforest Alliance diperoleh dari petani di Kabupaten Parigi Moutong, Poso, dan Morowali Utara.
BACA JUGA: Dorong Kesejahteraan Petani, Pemda Aceh Utara Luncurkan Gerakan Kakao Bangkit
Di Flores, program ini melibatkan 2.200 petani, dengan sekitar 2.000 metrik ton biji kakao bersertifikat Rainforest Alliance yang diperoleh antara Oktober 2022 hingga Februari 2026 dari petani di Kabupaten Ende, Sikka, Manggarai Timur, dan Flores Timur. Biji kakao bersertifikat ini menjadi bagian dari rantai pasok kakao global Cargill, yang mendukung berbagai pelanggan di sektor makanan dan minuman.
Penyaluran premi ini dilakukan melalui kegiatan Farmer Field Days yang menjadi wadah pertukaran pengetahuan, pembelajaran langsung, serta apresiasi bagi petani berprestasi. Di Sulawesi Tengah, kegiatan ini diselenggarakan di Poso dan dihadiri oleh sekitar 1.000 petani.
Program ini dilaksanakan melalui kemitraan dengan PT Rayner Anugrah Kemurahan (PT RAK), yang dipimpin oleh Ferdy Wongkar, seorang pedagang kakao yang memegang sertifikat Rainforest Alliance dan telah bekerja sama dengan Cargill sejak 2018 untuk mendukung petani kakao dalam memenuhi persyaratan sertifikasi.
BACA JUGA: Wamentan Sudaryono Pimpin Tanam Padi Serentak Nasional di Jambi
Melalui kemitraan ini, petani mendapatkan pelatihan praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices), pendampingan dan bantuan teknis, serta akses ke sistem keterlacakan digital. PT RAK juga mengelola enam kebun percontohan dan lima pembibitan yang menghasilkan hingga 30.000 bibit kakao untuk mendukung rehabilitasi dan penanaman kembali.
“Melalui pelatihan dan dukungan yang kami terima, kami belajar bagaimana mengelola kebun dengan lebih baik, mulai dari penggunaan bibit berkualitas hingga penerapan teknik budidaya yang lebih tepat. Hal ini membantu kami meningkatkan hasil panen dan kualitas kakao. Dengan pendampingan yang berkelanjutan dan persyaratan pasar yang lebih jelas, petani menjadi lebih percaya diri dalam menjaga kebun dan memperkuat pendapatan mereka dari waktu ke waktu,” ujar Ferdy Wongkar, pedagang kakao sekaligus pemegang sertifikat Rainforest Alliance.
Sertifikasi Rainforest Alliance yang digunakan oleh petani dalam program ini mendukung transparansi di seluruh rantai pasok kakao melalui pencatatan di tingkat kebun, keterlacakan, dan verifikasi independen. Hal ini memungkinkan kakao dari petani peserta sertifikasi memenuhi persyaratan pasar global dan menjaga akses yang konsisten ke pembeli.
BACA JUGA: Hadapi Kemarau 2026, Kementan Andalkan Pompanisasi dan Pupuk untuk Jaga Produksi
“Upaya dan dedikasi para petani tercermin dalam proses produksi kakao, mulai dari perawatan tanaman hingga pemilihan biji kakao, serta penerapan praktik pengelolaan kebun yang konsisten. Sertifikasi menyediakan kerangka dengan kriteria yang jelas untuk praktik pertanian dan keterlacakan, guna mendukung penerapan di sepanjang rantai pasok. Dalam program ini, premi merupakan insentif tambahan bagi petani yang berpartisipasi dalam program sertifikasi Rainforest Alliance dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan,” dijelaskan Lukmansyah, Team Manager Cocoa, Rainforest Alliance Indonesia.
Mustofa Tohan, SP, MP., Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, menambahkan, “Kolaborasi seperti ini mendukung upaya peningkatan kesejahteraan petani dan penguatan sektor kakao Indonesia. Melalui peningkatan produktivitas dan perluasan akses ke pasar yang memiliki keterlacakan, program seperti ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani sekaligus berkontribusi pada pembangunan ekonomi daerah.”
Setelah beroperasi di Indonesia selama lebih dari 50 tahun, Cargill terus bekerja sama dengan para mitra untuk mendukung petani, memperkuat komunitas pedesaan, dan memperluas pengadaan kakao yang dapat ditelusuri di berbagai wilayah penghasil kakao.
Upaya ini mencerminkan dedikasi jangka panjang Cargill terhadap Indonesia sebagai salah satu negara asal kakao penting di kawasan Asia-Pasifik dan dalam rantai pasok kakao global. (A3)