INSTIPER dan BGA meluncurkan traktor otonom pemupuk sawit berbasis teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi biaya hingga 60 persen dan kapasitas kerja mencapai 30 hektare per hari. Foto: Instiper untuk Agricom.id
AGRICOM, KOTAWARINGIN TIMUR, KALTENG – Tim Riset Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) Yogyakarta bersama PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA) menghadirkan inovasi baru di sektor perkebunan melalui peluncuran Autonomous Intermittent Fertilizer Spreader, sebuah traktor otonom untuk pemupukan kelapa sawit yang dirancang meningkatkan efisiensi dan presisi aplikasi pupuk.
Peluncuran teknologi tersebut dilakukan di kebun BGA Group Region 3, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Sabtu (25/4/2025). Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi tim riset INSTIPER dan BGA yang dipimpin Rengga Arnalis Renjani, dengan dukungan pendanaan dari Plantation Fund Management Agency (BPDP) melalui program Grant Riset Sawit (GRS) 2024.
BACA JUGA: INSTIPER Cetak Lulusan Siap Kerja, 56 Mahasiswa SDM PKS Jalani Uji Kompetensi Asisten Kebun
Teknologi ini merupakan hasil kolaborasi tim riset INSTIPER Yogyakarta dan BGA yang dipimpin Rengga Arnalis Renjani dengan dukungan dana Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melalui program Grant Riset Sawit (GRS) 2024.
Alat berbasis traktor otonom ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan ketepatan pemupukan melalui sistem intermittent atau pemberian pupuk secara berselang. Dengan dukungan navigasi presisi, sensor, dan kecerdasan buatan, alat mampu mendeteksi tanaman sawit dengan akurasi hingga 98 persen sehingga aplikasi pupuk lebih tepat sasaran.
Ketua tim peneliti sekaligus dosen Fakultas Teknologi Pertanian INSTIPER, Rengga Arnalis Renjani, mengatakan pengembangan alat ini merupakan bagian dari upaya mendorong transformasi perkebunan berbasis riset dan inovasi.
BACA JUGA: INSTIPER Kenalkan Malam Batik Berbasis Sawit kepada Pengrajin Batik Tamansari
Menurutnya, sistem intermittent menjadi pembeda utama dari spreader konvensional karena mampu menekan kehilangan pupuk akibat penyebaran yang tidak tepat sasaran.
“Traktor otonom ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi serta ketepatan pemupukan melalui sistem intermittent, yaitu pemberian pupuk secara berselang. Hal ini berbeda dengan traktor spreader pada umumnya yang menyebarkan pupuk sepanjang waktu sehingga bisa saja pupuk jatuh tidak tepat sasaran sehingga mampu mengurangi kehilangan pupuk (losses,” kata Rengga, dalam keterangan yang diterima Agricom.id, Senin (27/4).
Dalam implementasinya, alat ini mampu beroperasi secara mandiri mengikuti jalur yang telah diprogram sebelumnya. Selain itu, pupuk hanya disebarkan tepat di area tanaman, berbeda dengan metode konvensional yang dilakukan secara merata. Hal ini menjadikan penggunaan pupuk lebih efisien dan sesuai dengan kebutuhan agronomis tanaman.
Berdasarkan hasil uji coba lapangan, kapasitas kerja alat mencapai hingga 30 hektare per hari, meningkat signifikan dibandingkan metode manual yang hanya sekitar 2,8 hektare per hari. Dari sisi biaya, penggunaan teknologi ini mampu menekan biaya pemupukan dari Rp96.053 menjadi Rp39.500 per hektare, atau terjadi efisiensi hingga sekitar Rp56 ribu per hektare atau 60 persen. Dengan demikian, potensi penghematan dapat mencapai Rp374 juta per tahun, dengan periode balik modal sekitar 1,6 tahun.
Secara teknis, alat ini memiliki kapasitas hopper sebesar 300 kilogram dengan jangkauan sebar pupuk antara 5 hingga 15 meter. Traktor ini juga kompatibel dengan berbagai jenis pupuk, seperti NPK, dolomit, kieserite, dan rock phosphate.
Komite Litbang BPDP, Prof. Didiek Hadjar Goenadi, menilai inovasi ini menjadi langkah penting dalam mendorong mekanisasi di industri sawit nasional. “Teknologi ini memungkinkan pemupukan lebih presisi dibandingkan cara manual, terutama di tengah kenaikan harga pupuk dan keterbatasan tenaga kerja,” ujarnya.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kalteng Naik, Periode I April Capai Rp3.897/Kg
Dari perspektif industri, BGA menyambut positif penerapan teknologi ini. Project Mechanization Department Head BGA, Yogi Akbar Hermansyah, mengatakan bahwa inovasi tersebut menjadi solusi atas kelemahan metode konvensional yang masih menggunakan pola sebar merata (blanket).
“Dengan sistem autonomous dan pemupukan terarah, efisiensi meningkat sekaligus lebih sesuai dengan kebutuhan agronomis tanaman,” tambah Yogi yang juga merupakan anggota tim peneliti.
Yogi menambahkan, “Penggunaan teknologi ini juga meningkatkan aspek keselamatan kerja, karena operator tidak berinteraksi langsung dengan pupuk, sehingga resiko paparan bahan kimia dapat ditekan”.
Peluncuran alat ini menjadi bagian dari penguatan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan industri dalam mendorong modernisasi serta daya saing sektor perkebunan kelapa sawit Indonesia. (A3)