Meski Indonesia menjadi salah satu produsen karet terbesar dunia, harga acuan global justru terbentuk di Singapura melalui bursa SGX/SICOM. Faktor transparansi, likuiditas, dan kepercayaan pasar menjadi alasan utamanya. Ilustrasi: Agricom, Sumber: Sekjen Apkarindo, Rudi Arpian.
AGRICOM, JAKARTA — Di kalangan petani karet Indonesia, pertanyaan mengenai mengapa harga karet dunia ditentukan di Singapura terus menjadi perbincangan. Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil karet alam terbesar di dunia dengan jutaan petani menggantungkan hidup pada komoditas tersebut.
Fenomena ini dinilai sering memunculkan kesalahpahaman di tingkat petani, seolah-olah Singapura menjadi pihak yang “menguasai” harga karet global. Padahal, menurut pelaku industri dan asosiasi petani, posisi Singapura lebih sebagai pusat perdagangan dan keuangan komoditas internasional.
BACA JUGA: Harga Karet SGX-Sicom Menguat Tipis di Akhir Pekan, Bertahan Dekati Rp40 Ribu
Sekretaris Jenderal DPW APKARINDO Sumatera Selatan, H. Rudi Arpian, menjelaskan bahwa harga acuan karet dunia saat ini mengacu pada perdagangan di Singapore Commodity Exchange (SICOM) yang kini berada di bawah Singapore Exchange (SGX).
Menurutnya, Singapura dipercaya pasar internasional bukan karena menjadi produsen karet terbesar, melainkan karena memiliki ekosistem perdagangan yang dinilai netral, transparan, dan likuid.
“Singapura bukan produsen besar karet, tetapi menjadi pusat perdagangan komoditas dunia yang dipercaya pasar internasional,” ujarnya, dalam keterangan yang diterima Agricom.id, Minggu (24/5).
BACA JUGA: Harga Karet SGX-Sicom Kamis (21/5) Turun Tipis, Masih Bertahan di Atas Rp39 Ribu/Kg
Ia menjelaskan, pasar global menjadikan harga SGX/SICOM sebagai acuan karena transaksi dilakukan secara terbuka dan real time, serta melibatkan banyak trader internasional, lembaga keuangan, perusahaan ban global, hingga eksportir besar dunia.
Selain menjadi pusat perdagangan kontrak berjangka karet, Singapura juga memiliki infrastruktur yang kuat dalam bidang logistik, pergudangan ekspor, sistem pembayaran internasional, hingga layanan perbankan global.
Kondisi tersebut membuat perusahaan ban besar dunia seperti Michelin, Bridgestone, dan Goodyear menggunakan harga SGX sebagai referensi utama dalam transaksi karet internasional.
Di tingkat petani, harga bahan olah karet rakyat (bokar) sebenarnya dihitung dari harga SGX yang kemudian dikurangi berbagai komponen biaya seperti ongkos angkut, biaya pengolahan, margin pabrik, hingga potongan mutu.
Karena itu, ketika harga SGX naik, harga bokar di tingkat petani umumnya ikut mengalami kenaikan beberapa hari kemudian. Namun kenaikan tersebut tidak selalu maksimal apabila kualitas bokar dinilai rendah.
Faktor mutu menjadi salah satu penentu utama harga yang diterima petani. Bokar dengan kadar karet kering (KKK) tinggi biasanya memperoleh harga lebih baik dibanding bokar yang tercampur atau memiliki kadar air tinggi akibat perendaman.
BACA JUGA: Kolaborasi APKARINDO Sumsel dan JICA Uji Coba Teknologi Pengendalian Penyakit Gugur Daun Karet
APKARINDO mengimbau petani untuk terus meningkatkan kualitas bokar dengan menggunakan bahan pembeku yang dianjurkan serta menghindari praktik pencampuran maupun perendaman yang dapat menurunkan mutu karet.
Menurut Rudi Arpian, pemahaman terhadap mekanisme pasar global menjadi penting agar petani tidak mudah terpengaruh isu yang menyesatkan terkait fluktuasi harga karet.
Ia juga menilai ke depan negara-negara produsen utama seperti Indonesia, Thailand, dan Malaysia sebenarnya memiliki peluang membangun bursa karet ASEAN sendiri.
BACA JUGA: APKARINDO Tagih Janji Mentan: Replanting dan Hilirisasi Aspal Karet Jangan Berhenti di Wacana
Namun upaya tersebut membutuhkan tata kelola yang kuat, sistem perdagangan yang transparan, serta tingkat kepercayaan tinggi dari pasar internasional.
“Petani perlu memahami bagaimana mekanisme harga terbentuk agar bisa lebih fokus meningkatkan kualitas hasil kebun dan memperkuat posisi dalam rantai perdagangan,” katanya.
Sebagai salah satu produsen utama dunia, Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan daya tawar sektor karet nasional, terutama apabila kualitas produksi dan tata niaga terus diperbaiki secara berkelanjutan. (A3)