Dok. Agricom/ Harga CPO KPBN turun tipis menjadi Rp 15.050/kg pada Jumat (5/6/2026), sejalan dengan pelemahan harga minyak sawit di Bursa Malaysia yang tertekan oleh koreksi pasar minyak nabati Tiongkok.
AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) yang dipasarkan melalui PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) mengalami koreksi tipis pada perdagangan Jumat (5/6/2026). Di saat yang sama, perdagangan CPO di Bursa Malaysia juga kembali melemah akibat tekanan dari pasar minyak nabati Tiongkok.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Agricom.id, harga CPO KPBN ditetapkan sebesar Rp 15.050 per kilogram, turun Rp 25 per kilogram atau sekitar 0,17% dibandingkan posisi Kamis (4/6/2026) yang mencapai Rp 15.075 per kilogram.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Kamis (4/6) Naik Tipis ke Rp15.075/Kg, Bursa Malaysia Justru Ditutup Melemah
Untuk penjualan secara franco, harga CPO di Kuala Tanjung dan Dumai ditetapkan sebesar Rp 15.050 per kilogram. Sementara itu, harga CPO franco Talang Duku berada di level Rp 14.850 per kilogram.
Adapun penawaran CPO franco Parindu dibuka pada harga Rp 14.700 per kilogram. Namun transaksi tidak terjadi atau berstatus withdraw (WD), dengan penawaran tertinggi tercatat sebesar Rp 14.550 per kilogram.
BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Terkoreksi 1%, Pasar Dibayangi Pelemahan Minyak Nabati Dalian
Sementara itu, sentimen pasar global turut memberikan tekanan terhadap pergerakan harga minyak sawit. Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Derivatives kembali mencatat pelemahan pada Jumat, memperpanjang tren penurunan untuk hari kedua berturut-turut.
Menurut laporan Reuters, tekanan utama berasal dari pelemahan pasar minyak nabati di Tiongkok. Namun, penurunan harga CPO Malaysia masih tertahan oleh penguatan harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) serta pelemahan nilai tukar ringgit Malaysia terhadap dolar Amerika Serikat.
BACA JUGA: Harga Karet SGX-SICOM Jumat (5/6) Turun, Namun Tetap Kokoh di Atas Rp41 Ribu per Kilogram
Pada sesi perdagangan pagi, kontrak CPO acuan pengiriman Agustus 2026 turun RM48 per ton atau sekitar 1,04% menjadi RM4.553 per ton.
Penurunan tersebut mengikuti pelemahan pasar minyak nabati di Bursa Dalian, Tiongkok. Harga kontrak minyak kedelai paling aktif di bursa tersebut tercatat turun 1,37%, sedangkan kontrak minyak sawit terkoreksi lebih dalam hingga 2,49%.
Sebaliknya, harga minyak kedelai di CBOT bergerak menguat sekitar 0,33%, sehingga membantu membatasi tekanan yang lebih besar terhadap harga CPO Malaysia.
Pelaku pasar menilai koreksi harga saat ini dipengaruhi aksi ambil untung setelah reli yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Selain itu, lemahnya pergerakan pasar minyak nabati di Tiongkok turut membebani sentimen perdagangan minyak sawit global.
BACA JUGA: Pemerintah Kaji Penyesuaian HET MINYAKITA, Seiring Perubahan Harga CPO
Di sisi lain, nilai tukar ringgit Malaysia yang melemah sekitar 0,5% terhadap dolar AS memberikan dukungan bagi pasar. Pelemahan mata uang tersebut membuat harga minyak sawit Malaysia menjadi lebih kompetitif di pasar ekspor karena lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Dengan kombinasi faktor eksternal tersebut, pergerakan harga CPO global diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek, seiring pelaku pasar mencermati perkembangan permintaan dari negara-negara konsumen utama serta dinamika pasar minyak nabati dunia. (A3)