Di Bawah Batang Sawit, Air Meresap 6 Kali Lebih Cepat

Di Bawah Batang Sawit, Air Meresap 6 Kali Lebih Cepat
Agricom.id

07 June 2026 , 15:41 WIB

Kelapa sawit disebut pencuri air. Tapi bagaimana jika sains justru menemukan hal yang sebaliknya — bahwa tepat di bawah batang sawit, tanah bekerja jauh lebih keras menyerap air? Dan bahwa di jalur tempat pelepah kering ditumpuk, tersimpan kekuatan diam yang bisa menjadi kunci pengelolaan air terbaik di seluruh hamparan kebun?

Ts. Dr. Muhamad Askari

Diaspora Indonesia, Dosen Senior Fakulti Pertanian Lestari, Universiti Malaysia Sabah, dan Pakar Hidrologi Pertanian.

 

AGRICOM, JAKARTA - Kelapa sawit sudah terlanjur menanggung reputasi sebagai “pencuri air”. Namanya disebut setiap kali sungai mengering, setiap kali sumur warga harus digali lebih dalam, setiap kali musim kemarau terasa lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya. Tapi bagaimana jika sains justru menemukan hal yang sebaliknya — bahwa tepat di bawah batang sawit, tanah bekerja jauh lebih keras menyerap air daripada tanah di manapun di sekitarnya? Dan bahwa di sepanjang jalur tempat pelepah kering ditumpuk, tersimpan kekuatan diam yang justru bisa menjadi kunci pengelolaan air terbaik di seluruh hamparan kebun?

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Jumat (5/6) Turun Tipis ke Rp 15.050/Kg, Bursa Malaysia Melemah Akibat Tekanan Pasar Tiongkok

Lingkaran Gelap yang Bukan Penyakit

Pernahkah Anda memperhatikan lingkaran gelap di pangkal batang pohon sawit di kebun yang sudah tua? Warnanya lebih pekat dari tanah di sekelilingnya, teksturnya lebih lembut, dan ia seperti mengelilingi batang layaknya selendang tipis yang melingkar di atas tanah. Banyak orang mengira itu bekas penyakit, atau tanda kelebihan pupuk yang tumpah. Tapi para peneliti punya nama lain untuknya: litter marks — bayangkan ini sebagai “karpet organik alami” yang terbentuk dari pelepah kering, serasah daun, dan sisa-sisa organik yang telah bertahun-tahun jatuh dan membusuk tepat di sekeliling batang.

Sebuah tim peneliti internasional yang dipimpin oleh penulis yang Ketika itu bekerja sebagai dosen di Universiti Teknologi Malaysia Johor Bahru dan ilmuwan dari Jepang, Amerika Serikat, dan Brasil, memutuskan untuk menyelidiki lingkaran yang selama ini sering diabaikan itu. Penulis bersama mahasiswa S3 bimbingannya turun ke sebuah perkebunan sawit berumur 18 tahun di Johor, Malaysia, membawa alat pengukur infiltrasi khusus — sebuah piringan berdiameter 20 sentimeter yang diletakkan di atas tanah lalu diisi air secara terkendali, mirip seperti dokter yang mengetes seberapa cepat tubuh pasien menyerap cairan infus lewat selang. Alat itu, yang disebut tension disc infiltrometer, mengukur satu hal dengan sangat teliti: seberapa cepat air benar-benar meresap masuk ke dalam tanah di bawahnya.

BACA JUGA: PP 24 Ekspor SDA : Margin dan kewenangan BUMN menentukan harga sebagai beban berat bagi stabilitas ekosistem sawit.

Hasil pengukuran itu dipublikasikan dalam jurnal Geoderma — salah satu jurnal ilmu tanah paling terkemuka di dunia. Dan angka yang tersimpan di dalamnya membuat para peneliti itu tersenyum kecil. Kecepatan air meresap ke dalam tanah di zona batang sawit ternyata enam kali lebih tinggi dibandingkan tanah di area terbuka di antara dua pohon. Bukan dua kali. Bukan tiga kali. Enam kali.

“Kecepatan air meresap di zona batang sawit enam kali lebih tinggi dibandingkan tanah di area terbuka antar pohon.”

 

Dua Takdir dari Setetes Hujan yang Sama

Untuk memahami mengapa angka itu bisa terjadi, bayangkan sebuah adegan sederhana: hujan deras baru saja turun di atas kebun sawit. Jutaan tetes air jatuh bersamaan dari langit — tapi nasib mereka masing-masing ternyata tidak sama, hanya karena mereka mendarat di tempat yang berbeda.

Sebagian tetes hujan mendarat di pelepah-pelepah sawit yang membentang lebar seperti payung raksasa. Air itu tidak langsung jatuh ke tanah. Ia mengalir pelan-pelan mengikuti lengkungan pelepah, menyusuri pangkal tangkai, lalu menetes perlahan tepat di sekeliling batang pohon — persis seperti air hujan yang mengalir di sepanjang tepi atap seng dan menetes tenang di ujungnya. Proses inilah yang para ilmuwan sebut stemflow, atau secara harfiah “aliran batang”. Dan di titik pendaratan itulah, tepat di atas karpet organik gelap yang sering kita abaikan, tanah menerima air itu dengan tangan terbuka.

BACA JUGA: SPKS Tolak Kenaikan Harga Jual Minyak Goreng MINYAKITA, Penggunaan Dana BPDP Harusnya Dialokasikan Bagi Rakyat Indonesia

Mengapa tanah di sana begitu ramah dan “kehausan” terhadap air? Karena selama 18 tahun, ia sudah dipersiapkan secara alami. Kandungan bahan organiknya — bayangkan ini sebagai “kompos alami” yang membuat tanah gembur dan hidup — tercatat 13 kali lebih tinggi dibandingkan tanah di area terbuka antara dua pohon. Porositasnya, yakni jumlah ruang kosong di antara butiran tanah tempat air bisa masuk dan tersimpan, lebih besar hingga 10 persen. Perbedaannya persis seperti antara menyiramkan air ke atas spons cuci piring yang baru dibeli — lembut, penuh pori, dan langsung menyedot — versus menuangkan air ke atas bata yang sudah dilapisi cat: satu menyerap, yang lain menolak.

Sementara itu, tetes-tetes hujan yang jatuh di area terbuka antara dua batang pohon mendapat nasib yang sama sekali berbeda. Di sinilah kendaraan pengangkut buah hilir-mudik dua kali sebulan, rodanya meninggalkan tekanan yang secara bertahap memadatkan tanah seperti adonan tepung yang terus-menerus ditekan dan ditindih. Kandungan bahan organiknya hanya berkisar antara 0,086 hingga 0,134 persen — tipis sekali dibandingkan dengan 0,290 hingga 1,159 persen di zona batang. Akibatnya, tanah yang padat itu berperilaku seperti permukaan jalan beraspal menolak hujan: airnya tidak meresap ke bawah, melainkan mengalir deras di permukaan, mengikis lapisan tanah paling subur, dan membawa lumpur itu hanyut ke saluran drainase.

BACA JUGA: Harga Referensi Biji Kakao Juni 2026 Melonjak 17%, Dipicu Gangguan Logistik Global dan Turunnya Pasokan Nigeria

 

Tiga Wajah Tanah yang Tidak Pernah Kita Sadari

Selama ini kebanyakan dari kita membayangkan tanah di dalam satu blok kebun sawit sebagai sesuatu yang seragam. Satu jenis tanah, satu karakter, satu nasib. Seperti mengira semua halaman dalam satu buku memiliki warna yang sama. Padahal sains menunjukkan gambaran yang jauh lebih berwarna dan lebih dramatis dari itu.

Di dalam satu hamparan kebun sawit yang sama, ada tiga zona tanah dengan kepribadian yang sangat berbeda — dan ketiganya ditentukan bukan oleh warisan alam, melainkan sepenuhnya oleh cara manusia memperlakukan tanahnya setiap hari.

Yang pertama adalah tanah di bawah batang pohon: zona stemflow dengan resapan enam kali lebih cepat dan karpet organik paling kaya, yang tercipta diam-diam selama bertahun-tahun tanpa ada yang sengaja membangunnya. Yang kedua adalah jalur panen — tanahnya terus memadat dan semakin enggan menyerap air setiap musimnya. Dan yang ketiga adalah zona yang paling jarang dibahas, padahal ia menyimpan potensi yang sangat besar: jalur pelepah, atau yang di lapangan sering disebut frond avenue — lajur tempat pelepah-pelepah kering hasil pemangkasan rutin ditumpuk secara teratur di antara barisan pohon.

BACA JUGA: Harga Karet SGX-SICOM Jumat (5/6) Turun, Namun Tetap Kokoh di Atas Rp41 Ribu per Kilogram

 

“Tempat Sampah” yang Hampir Menyamai Hutan

Sekelompok peneliti dari Institut Pertanian Bogor, bekerja sama dengan tim dari Universitas Göttingen di Jerman, memutuskan untuk mengukur langsung apa yang sesungguhnya terjadi di dalam tanah di bawah tumpukan pelepah itu. Mereka turun ke lapangan di Provinsi Jambi, Sumatra — salah satu kawasan dengan pertumbuhan perkebunan sawit paling pesat di Indonesia — dan melakukan pengukuran infiltrasi menggunakan alat infiltrometer cincin ganda, yang bekerja seperti dua cincin kaleng bersusun yang ditancapkan ke tanah: air dituangkan ke dalamnya, lalu para peneliti mengukur seberapa cepat air itu menghilang ke lapisan tanah di bawahnya.

Yang mereka temukan, dan yang kemudian dipublikasikan dalam jurnal internasional Sustainability of Water Quality and Ecology, adalah sebuah urutan yang langsung mematahkan banyak asumsi yang selama ini kita pegang. Tanah di jalur panen terbuka hanya mampu menyerap air dengan laju 3 sentimeter per jam — hampir seperti menyiram air di atas tanah liat kering. Kebun karet sedikit lebih baik di angka 7,8 sentimeter per jam. Lalu tiba-tiba ada lompatan yang sangat besar: tumpukan pelepah sawit mencapai 30 sentimeter per jam. Dan hutan sekunder yang belum terganggu duduk di puncak tangga dengan 47 sentimeter per jam.

BACA JUGA: Hari Susu Nusantara 2026: Wamentan Sudaryono Dorong Revolusi Susu Nasional, Produksi dan Konsumsi Jadi Kunci Sukses MBG

Itu berarti tanah di bawah tumpukan pelepah kering menyerap air 10 kali lebih cepat dari tanah sawit biasa di jalur panen terbuka. Jarak antara kemampuan tumpukan pelepah dan kemampuan hutan sekunder hanyalah 17 sentimeter per jam — selisih yang, dalam dunia hidrologi yakni ilmu yang mempelajari perjalanan air di alam dan di dalam tanah, tergolong sangat tipis. Lajur yang selama ini kita anggap tidak lebih dari “tempat pembuangan sampah organik” ternyata adalah zona resapan air paling produktif kedua di seluruh kebun.

Rahasianya sama persis dengan rahasia di zona batang: bahan organik. Pelepah yang menumpuk di lajur itu membusuk perlahan, mengurai menjadi senyawa organik yang menggemburkan tanah, membuka ruang-ruang kecil di antara butiran tanahnya, dan mengundang cacing tanah serta jutaan mikroorganisme tak kasat mata yang kerjanya seperti tukang gali terowongan mikro di dalam tanah. Setiap terowongan kecil itu adalah jalur kilat bagi air hujan untuk meresap jauh ke bawah — alih-alih berlomba-lomba mengalir di permukaan dan hanyut sia-sia ke parit drainase.

“Jalur pelepah yang sering dianggap sekadar “tempat sampah organik” ternyata menyerap air 10 kali lebih cepat dari jalur panen terbuka — hampir menyamai kemampuan hutan sekunder.”

BACA JUGA: Kementan dan BUMN Perkuat Hilirisasi Ayam di Bone, Peternak Rakyat Jadi Pilar Swasembada Pangan

 

Percobaan yang Mengubah Jalur Panen Menjadi Jalur Resapan

Temuan mengejutkan dari Jambi itu memancing pertanyaan yang lebih berani dan lebih praktis: jika pelepah terbukti mampu mengubah “tempat sampah organik” menjadi zona resapan yang hampir setara hutan, apa yang akan terjadi jika pelepah itu juga dihamparkan di jalur panen yang sudah sangat padat dan keras?

Pertanyaan itu dijawab secara langsung melalui penelitian yang dilakukan di Universiti Putra Malaysia. Selama sembilan bulan penuh, para peneliti mengamati dua jalur panen yang berdampingan: satu jalur dibiarkan seperti biasanya tanpa perlakuan apapun, dan jalur lainnya secara rutin diberi hamparan pelepah sawit — bahkan dalam jumlah paling minimal sekalipun, sekitar 9,2 kilogram per pohon per tahun.

Hasilnya konsisten dan tidak terbantahkan. Jalur yang tidak diberi pelepah tetap keras, tetap padat, seperti jalan yang tidak pernah istirahat. Tapi jalur yang dihampar pelepah mulai berubah pelan-pelan, seperti tanah yang diberi kesempatan untuk bernapas dan pulih kembali. Kecepatan air meresap ke dalam tanah, yang semula hanya berkisar antara 1,2 hingga 7,2 sentimeter per jam, melompat menjadi antara 14,70 hingga 27,00 sentimeter per jam setelah sembilan bulan. Itu adalah peningkatan antara empat hingga lebih dari dua puluh kali lipat — dari tanah yang hampir menolak air menjadi tanah yang menyerapnya dengan antusias. Bayangkan jika mobil Anda yang tadinya tersendat macet total di persimpangan tiba-tiba bisa melaju bebas di jalan tol — begitulah perubahan yang dialami oleh setiap tetes air yang mencoba meresap ke dalam tanah itu.

Pelepah yang membusuk secara konsisten meningkatkan kandungan bahan organik tanah di lapisan 0 hingga 15 sentimeter — “zona kehidupan” terpenting bagi akar tanaman — sebesar 0,32 hingga 0,83 persen. Dan seiring bahan organik itu naik, kemampuan tanah menyimpan cadangan air juga meningkat secara terukur. Tanah yang tadinya berperilaku seperti wadah bocor kini mulai berperilaku seperti spons yang menyerap dan menyimpan: menerima air saat hujan lebat, lalu melepaskannya pelan-pelan kepada akar sawit saat musim kemarau paling membutuhkannya.

 

Tiga Angka yang Berbicara Lebih Keras dari Seribu Argumen

Jika kita letakkan ketiga temuan besar itu berdampingan, gambarannya menjadi sangat terang dan sangat sulit dibantah. Di zona batang pohon, kecepatan konduktivitas air jenuh tanah — yakni kecepatan maksimum air meresap ketika tanah sudah benar-benar jenuh — mencapai 0,1605 hingga 0,1738 sentimeter per menit, enam kali lebih tinggi dari zona terbuka antar pohon. Di zona tumpukan pelepah, laju resapan air mencapai 30 sentimeter per jam, sepuluh kali lebih tinggi dari jalur panen terbuka yang hanya 3 sentimeter per jam. Dan jalur panen yang dirawat dengan hamparan pelepah selama sembilan bulan mampu meningkatkan daya resapnya hingga 27 sentimeter per jam.

Tiga angka, dari tiga penelitian berbeda, di tiga lokasi yang berbeda — tapi semuanya menunjuk ke satu kesimpulan yang sama. Kuncinya adalah bahan organik. Bukan pupuk kimia mahal, bukan rekayasa drainase yang membutuhkan alat berat, bukan intervensi teknologi futuristik. Melainkan materi yang sudah diproduksi secara gratis oleh kebun itu sendiri setiap harinya — sekitar 24 pelepah per pohon per tahun — dan yang selama ini terlalu sering tidak dioptimalkan penempatannya.

 

Apa Artinya Semua Ini untuk Sungai di Hilir?

Tim dari Institut Pertanian Bogor dan Universitas Göttingen tidak berhenti pada angka-angka infiltrasi di lapangan. Mereka melangkah lebih jauh dengan mensimulasikan dampaknya dalam skala yang jauh lebih besar menggunakan model SWAT — sebuah perangkat lunak simulasi hidrologi yang diakui secara internasional, yang bekerja seperti “kebun virtual” di dalam komputer tempat para ilmuwan bisa menguji “bagaimana jika” tanpa harus menunggu puluhan tahun di lapangan.

Hasilnya berbicara langsung kepada kepentingan kita semua. Pengelolaan tumpukan pelepah secara aktif dan konsisten di seluruh kebun dapat mengurangi total air limpasan permukaan — air hujan yang tidak sempat meresap ke tanah dan mengalir deras di atasnya, membawa lumpur, meluap ke sawah tetangga — sebesar 10 persen di skala daerah aliran sungai. Pengurangan 10 persen pada puncak banjir bisa berarti perbedaan antara sawah yang terendam dan sawah yang selamat, antara jembatan yang bertahan dan jembatan yang hanyut. Dan jika dikombinasikan dengan pembangunan kolam-kolam penampung sedimen sederhana — cukup 20 unit per hektare, tanpa teknologi canggih apapun — pengurangan aliran permukaan itu bisa mencapai 31 persen. Tiga puluh satu persen lebih banyak air yang meresap tenang ke dalam tanah dan mengisi cadangan air untuk musim kemarau.

Yang membuat semua ini semakin berharga adalah satu fakta sederhana: bahannya sudah ada di dalam kebun. Biayanya hampir nol. Yang perlu diubah hanyalah kebiasaan.

“Dengan hanya mengubah cara penempatan pelepah, limpasan banjir di skala daerah aliran sungai bisa berkurang hingga 31 persen. Tanpa biaya tambahan. Tanpa teknologi baru.”

 

Pertanyaan yang Lebih Tepat untuk Setiap Pemilik Kebun

Satu kebun sawit, ternyata, bukanlah satu hamparan tanah yang seragam. Ia adalah mosaik tiga wajah tanah yang hidup berdampingan tanpa kita sadari: zona batang pohon yang diam-diam bekerja enam kali lebih keras menyerap air, jalur pelepah yang tanpa disadari sudah menjadi benteng pertahanan hidrologi terbaik kedua di seluruh kebun, dan jalur panen yang perlahan dan tak terhindarkan bergerak menuju tanah yang keras dan kedap jika tidak dijaga dengan baik.

Ketiga wajah itu bukan takdir yang ditulis oleh alam dan tidak bisa diubah. Ia adalah hasil dari pilihan-pilihan kecil yang dibuat setiap hari di lapangan: ke mana pelepah diletakkan setelah dipangkas, apakah jalur panen sesekali diberi jeda dari lintasan kendaraan, apakah ada tangan yang cukup sabar untuk menghampar pelepah bekas panen di lajur yang sudah mulai mengeras. Ketika pelepah dipindahkan dari kebun untuk dijual ke industri lain, atau dibiarkan menumpuk hanya di satu sudut kebun alih-alih dihampar merata di sepanjang lajur yang paling membutuhkannya, kebun itu perlahan kehilangan satu-satunya mesin pengolah tanah yang paling andal — mesin yang bekerja gratis, tanpa listrik, tanpa operator, dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu, sepanjang tahun.

Maka pertanyaan yang sesungguhnya perlu dijawab oleh setiap pemilik kebun — baik petani swadaya dengan dua hektare di pinggiran Jambi maupun manajer estate dengan puluhan ribu hektare di Kalimantan — bukanlah “apakah sawit saya rakus air?” Pertanyaan yang lebih tepat, dan jawabannya jauh lebih berguna, adalah ini: berapa persen lahan saya yang sudah berperilaku seperti jalur pelepah yang sehat, dan berapa persen yang sudah berperilaku seperti jalur panen yang keras? Jawabannya tidak perlu dicari dengan kalkulus rumit. Cukup dengan berjalan kaki menyusuri kebun setelah hujan deras, dan perhatikan dengan jujur di mana air menggenang lama dan di mana ia menghilang dengan cepat. Itu sudah cukup untuk menentukan apakah kebun itu masih akan subur dan produktif dua puluh tahun dari sekarang — dan apakah sungai di hilirnya masih akan mengalir tenang bagi anak-cucu yang akan mewarisinya.

 

Catatan Ilmiah 

Artikel ini mengacu pada temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Geoderma (Abd Rashid et al., 2015); jurnal Sustainability of Water Quality and Ecology (Tarigan et al., 2016); serta penelitian Universiti Putra Malaysia tentang pengelolaan pelepah sawit dan kondisi fisik tanah perkebunan (Mohd Ali Aman, 1997).


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP