Harga CPO tertekan oleh ekspektasi kenaikan stok Malaysia, meski kontrak acuan masih membukukan penguatan mingguan dan permintaan global tetap relatif kuat.
AGRICOM, JAKARTA — Harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives melemah pada perdagangan Jumat (7/8/2026), tertekan ekspektasi peningkatan persediaan sawit Malaysia dan perlambatan permintaan ekspor. Namun, kontrak acuan masih mencatat penguatan secara mingguan.
Mengutip Reuters, kontrak CPO acuan pengiriman Oktober 2026 turun RM8 per ton atau sekitar 0,17% menjadi RM4.678 per ton. Secara mingguan, kontrak tersebut masih menguat 0,75%, sekaligus mencatat kenaikan mingguan keempat dalam lima pekan terakhir.
BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Melemah pada 6 Agustus 2026, Tertekan Pelemahan Minyak Mentah dan Kedelai
Tekanan terhadap harga muncul setelah survei Reuters memperkirakan persediaan minyak sawit Malaysia pada Juli 2026 meningkat ke level tertinggi dalam lima bulan.
Kenaikan stok diperkirakan terjadi karena pertumbuhan produksi lebih cepat dibandingkan laju permintaan. Meski demikian, konsumsi minyak sawit global masih dinilai relatif kuat sehingga memberikan dukungan terhadap harga.
Pelaku pasar kini menantikan data resmi produksi, persediaan, dan permintaan minyak sawit Malaysia dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang dijadwalkan dirilis pada 10 Agustus 2026.
BACA JUGA: Ketidakpastian Regulasi Bisa Hambat Investasi Sawit
Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk melihat keseimbangan pasokan dan permintaan sawit Malaysia serta memberikan petunjuk mengenai arah harga CPO selanjutnya.
Pada hari yang sama, lembaga survei kargo juga dijadwalkan merilis estimasi ekspor minyak sawit Malaysia untuk periode 1–10 Agustus. Perkembangan ekspor tersebut diperkirakan menjadi salah satu katalis utama pergerakan harga CPO dalam jangka pendek.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Withdraw Rp15.607/Kg, Bursa Malaysia Melemah
Harga CPO KPBN Turun
Di pasar domestik, harga CPO pada PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) mengalami withdraw (WD) pada Jumat (7/8/2026).
Penawaran tertinggi CPO tercatat Rp15.607 per kg, turun Rp43 per kg atau sekitar 0,27% dibandingkan penawaran tertinggi pada Kamis (6/8/2026) sebesar Rp15.650 per kg.
Pergerakan harga CPO KPBN tersebut sejalan dengan tekanan yang terjadi di pasar global, meski mekanisme perdagangan dan faktor pembentuk harga di pasar domestik berbeda dengan Bursa Malaysia.
BACA JUGA: Kebijakan DHE SDA 50% Perlu Pertimbangkan Likuiditas dan Daya Saing Industri Sawit
Minyak Nabati Bergerak Beragam
Sementara itu, pergerakan harga minyak nabati global berlangsung beragam.
Kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian menguat 0,27%, sedangkan kontrak minyak sawit di bursa yang sama turun 0,3%.
Di Chicago Board of Trade (CBOT), harga minyak kedelai tercatat naik sekitar 0,25%.
Pergerakan tersebut menunjukkan pasar minyak nabati global masih dipengaruhi oleh dinamika pasokan, permintaan, serta hubungan harga antara minyak sawit dan minyak nabati pesaingnya.
Dalam jangka pendek, pelaku pasar akan mencermati data MPOB dan perkembangan ekspor Malaysia untuk menilai apakah peningkatan produksi akan semakin memperbesar tekanan terhadap harga atau justru diimbangi oleh permintaan global yang tetap kuat. (A3)