AGRICOM, JAKARTA — Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang diperdagangkan melalui PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) kembali menguat pada Kamis (20/8/2026). Harga CPO ditetapkan sebesar Rp15.925/kg, naik Rp170/kg atau sekitar 1,08% dibandingkan penawaran tertinggi pada perdagangan Rabu (19/8/2026) sebesar Rp15.755/kg.
Berdasarkan informasi KPBN, harga CPO Franco Dumai ditetapkan Rp15.925/kg. Sementara itu, harga FOB Talang Duku berada di level Rp15.675/kg dan Franco Teluk Bayur sebesar Rp15.725/kg.
Untuk FOB Palembang, harga tercatat Rp15.700/kg. Adapun sejumlah lokasi lainnya mengalami penarikan penawaran atau withdrawn (WD).
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Withdraw 19 Agustus 2026, Bursa Malaysia Ditutup Menguat
Di Loco PKS Kembayan, harga tercatat Rp15.425/kg dengan penawaran tertinggi Rp15.350/kg. Selanjutnya, Loco PKS Parindu berada di Rp15.535/kg dengan penawaran tertinggi Rp15.450/kg.
Sementara itu, harga Loco PKS Ngabang tercatat Rp15.550/kg, dengan penawaran tertinggi mencapai Rp15.450/kg.
BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Menguat, Kontrak Februari 2027 Tembus RM5.071 per Ton
Bursa Malaysia Ikut Menguat
Penguatan harga CPO domestik berlangsung sejalan dengan tren positif di pasar global. Harga kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives kembali menguat dan mencapai level tertinggi dalam sekitar 20 bulan.
Pasar minyak sawit mendapat dukungan dari meningkatnya permintaan bahan bakar nabati, penerapan program mandatori biodiesel B50 di Indonesia, serta kekhawatiran terhadap potensi gangguan produksi akibat penguatan fenomena El Niño.
BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Tembus Level Tertinggi Sejak April
Mengutip Bloomberg, harga kontrak berjangka minyak sawit di Bursa Malaysia sempat melonjak 1,7% menjadi RM4.977 per ton pada perdagangan Kamis. Level tersebut menjadi harga intrahari tertinggi sejak Desember 2024.
Penguatan tersebut mencerminkan meningkatnya perhatian pasar terhadap kemungkinan pengetatan pasokan minyak sawit global. Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia terus meningkatkan penyerapan CPO di dalam negeri melalui program B50.
Kebijakan tersebut diperkirakan akan mengarahkan lebih banyak CPO untuk kebutuhan energi domestik. Dengan meningkatnya konsumsi dalam negeri, volume minyak sawit yang tersedia untuk pasar ekspor berpotensi berkurang.
BACA JUGA: Harga Referensi CPO Agustus Turun ke USD 996,52/MT, Bea Keluar dan Pungutan Ekspor Ikut Disesuaikan
Di sisi lain, risiko cuaca yang dapat memengaruhi produksi perkebunan menjadi faktor tambahan yang diperhatikan pasar. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa keseimbangan pasokan dan permintaan minyak sawit global dapat semakin ketat.
Dengan kombinasi kenaikan harga KPBN dan penguatan kontrak berjangka di Bursa Malaysia, pasar CPO memasuki perdagangan akhir pekan dengan sentimen yang relatif positif. (A3)