Harga Gabah Naik, Petani Kolaka Mulai Menabung Emas


AGRICOM, JAKARTA — Kebijakan pemerintah menaikkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah mulai menunjukkan dampak di tingkat petani. Di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, peningkatan harga gabah disebut ikut mendorong kesejahteraan petani, bahkan memunculkan kebiasaan baru untuk menyimpan sebagian pendapatan dalam bentuk emas.

Dilansir Agricom dari Kementan, Jumat (28/8). Bupati Kolaka Amri menyampaikan kondisi tersebut kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam audiensi kepala daerah di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Senin (24/8/2026).

“Dengan harga gabah hari ini di Kabupaten Kolaka, kami menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat. Dampaknya terasa ke petani,” kata Amri.

Menurut Amri, peningkatan kesejahteraan terlihat dari perubahan pola pengelolaan pendapatan petani. Jika sebelumnya hasil panen lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kini sebagian petani mulai memiliki ruang untuk menabung.

“Petani kami punya kebiasaan menabung dengan emas. Ini salah satu tanda bahwa kesejahteraan mereka meningkat,” ujarnya.

 BACA JUGA: Mentan Amran Siapkan Alsintan untuk Puncak Papua, Bidik 500 Hektare Kopi Arabika

Produksi Padi Kolaka Melonjak

Selain berdampak terhadap pendapatan petani, berbagai kebijakan dan dukungan pemerintah pusat juga disebut mendorong peningkatan produksi padi di Kolaka.

Produksi padi yang pada periode 2020–2024 berada di kisaran 47 ribu ton meningkat menjadi sekitar 73 ribu ton pada 2025. Artinya, terjadi tambahan produksi sekitar 26 ribu ton.

Peningkatan tersebut turut memperkuat ketersediaan pangan di daerah. Pada 2025, penyerapan beras oleh Perum Bulog di Kolaka disebut mencapai sekitar 20 ribu ton.

“Kami punya existing sekitar 9 ribu hektare persawahan. Bahkan di beberapa wilayah bisa sampai lima sampai enam kali panen dalam dua tahun,” kata Amri.

 BACA JUGA: Kementan Dorong Transformasi Pertanian untuk Perkuat Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani

HPP Gabah Perkuat Posisi Petani

Amri menilai kebijakan harga gabah juga memberikan posisi tawar yang lebih kuat kepada petani ketika berhadapan dengan tengkulak.

Harga yang lebih baik membuat petani memiliki pilihan lebih luas dalam menentukan kepada siapa hasil panennya akan dijual.

“Ini fakta di lapangan, kebijakan harga gabah dari pemerintah pusat membantu menekan tengkulak,” ujarnya.

Namun, peningkatan produksi perlu diikuti dengan penguatan infrastruktur pascapanen. Salah satu persoalan yang masih dihadapi Kolaka adalah panjangnya rantai pasok karena sebagian gabah harus dikirim keluar daerah, termasuk ke Sidrap, Sulawesi Selatan, sebelum kembali masuk ke Kolaka dalam bentuk beras.

Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah mengusulkan pembangunan Rice Milling Unit (RMU) yang terintegrasi dengan lumbung pangan.

Pemkab Kolaka mengaku telah menyiapkan lahan bersertifikat seluas 4 hektare untuk pembangunan fasilitas tersebut.

“Kami sudah siapkan tanah, sudah ada sertifikat. Kalau berkenan, kami minta dukungan RMU, lumbung pangan dan RMU yang terintegrasi. Lahannya kami siapkan 4 hektare,” kata Amri.

 BACA JUGA: Harga Karet SGX-SICOM Kembali Naik Pada Kamis (27/8), Tertinggi Rp41.655/Kg

Mentan Amran Minta Kolaka Segera Koordinasi dengan Bulog

Menanggapi usulan tersebut, Menteri Pertanian Amran meminta Pemkab Kolaka segera berkoordinasi dengan Perum Bulog dan memastikan kesiapan lahan.

“Segera koordinasi dengan Bulog. Yang penting tanahnya ada untuk tahun 2027,” kata Amran.

Amran menegaskan pemerintah akan terus memperkuat dukungan dari sisi produksi hingga pascapanen. Dengan demikian, peningkatan produksi pertanian tidak berhenti pada kegiatan panen, tetapi dapat menghasilkan nilai tambah dan pendapatan yang lebih besar bagi petani.

Sebelumnya, Kementan juga telah memberikan dukungan sarana produksi kepada Kolaka berupa combine harvester, pompa air, traktor roda empat (TR4), dan traktor roda dua (TR2).

Bantuan tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi usaha tani sekaligus menjaga momentum peningkatan produksi padi di daerah.

Bagi Pemkab Kolaka, penguatan sektor pertanian menjadi bagian penting dari strategi ekonomi daerah. Pertambangan tetap dipertahankan sebagai salah satu penggerak ekonomi, sementara pertanian didorong menjadi sumber kesejahteraan masyarakat yang semakin kuat. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP