AGRICOM, JAKARTA – Sektor agribisnis Indonesia memiliki modal besar untuk tumbuh. Keragaman komoditas, luasnya pasar domestik, dan peluang perdagangan internasional membuka ruang bagi pertanian dan perkebunan untuk menjadi penggerak ekonomi nasional. Namun, kekayaan sumber daya saja tidak cukup. Tantangan sesungguhnya adalah mengubah potensi tersebut menjadi produk bernilai tambah, memperkuat daya saing, dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Peluang itu tercermin dalam penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Hingga akhir September, pameran ini mencatat pendaftaran buyer dari 113 negara dan 1.533 ekshibitor, dengan target potensi transaksi USD17,5 miliar. Sektor pangan, minuman, dan produk pertanian menjadi kelompok peserta terbesar, menunjukkan besarnya peluang komoditas Indonesia untuk menjangkau pasar global.
Meski demikian, besarnya minat buyer internasional belum otomatis menjamin keberhasilan ekspor. Potensi transaksi harus ditindaklanjuti menjadi kontrak yang terealisasi, dengan dukungan kualitas produk, harga yang kompetitif, kepastian pasokan, dan konsistensi pemenuhan standar. Artinya, promosi perdagangan perlu berjalan beriringan dengan pembenahan kapasitas produksi dan kesiapan pelaku usaha.
Di sinilah penguatan sektor hulu dan hilir menjadi penting. Peningkatan produksi harus diikuti kemampuan mengolah komoditas menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Pengembangan kopi Toraja, misalnya, tidak cukup bertumpu pada kualitas biji, tetapi juga membutuhkan keterampilan pengolahan, tenaga barista, inovasi produk, dan keterlibatan generasi muda. Pendekatan ini membuka peluang agar nilai ekonomi kopi dinikmati lebih luas oleh pelaku usaha di daerah asalnya.
Prinsip serupa berlaku dalam pengembangan tebu untuk mendukung industri bioetanol. Rencana perluasan areal hingga satu juta hektare menunjukkan upaya menghubungkan sektor perkebunan dengan agenda ketahanan energi nasional. Namun, keberhasilannya bergantung pada kesesuaian lahan, produktivitas, ketersediaan benih bermutu, dan kepastian penyerapan bahan baku. Perluasan areal harus menjadi bagian dari ekosistem industri yang terencana, bukan sekadar mengejar target luasan.
Di tengah upaya memperkuat produksi dan hilirisasi, dinamika harga komoditas juga perlu menjadi perhatian. Pergerakan harga karet SGX–SICOM, kenaikan harga referensi biji kakao, dan perubahan harga referensi minyak kelapa sawit mentah (CPO) memperlihatkan bahwa agribisnis tidak terlepas dari gejolak pasar. Karena itu, daya saing tidak hanya ditentukan oleh volume produksi, tetapi juga efisiensi biaya, kualitas hasil, akses informasi pasar, dan posisi tawar petani. Kenaikan harga acuan internasional pun tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan di tingkat produsen.
BACA JUGA: IPOC 2026: GAPKI Bahas Harga Sawit 2027, Ketahanan Pangan dan Energi di Tengah Geopolitik Global
Selain persoalan pasar, kepercayaan konsumen menjadi fondasi yang tidak boleh diabaikan. Temuan ketidaksesuaian pada sekitar 90% sampel beras fortifikasi yang diuji laboratorium oleh Kementerian Pertanian, sebagaimana diberitakan dalam edisi ini, menegaskan pentingnya pengawasan terhadap mutu dan klaim produk. Nilai tambah harus diwujudkan melalui manfaat yang nyata, bukan sekadar label yang meningkatkan harga jual.
Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa penguatan agribisnis membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Pemerintah perlu memastikan kebijakan dan dukungan infrastruktur berjalan efektif, dunia usaha harus memperkuat inovasi serta kepastian pasar, sementara petani membutuhkan akses yang lebih baik terhadap teknologi, pembiayaan, dan kemitraan yang adil.
AGRICOM memandang bahwa masa depan agribisnis Indonesia tidak cukup ditentukan oleh besarnya produksi atau nilai ekspor. Ukuran keberhasilan yang lebih mendasar adalah kemampuan menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat daya saing secara berkelanjutan, dan memastikan manfaat pertumbuhan dirasakan oleh petani serta masyarakat. Dengan fondasi tersebut, sektor pertanian dan perkebunan dapat berkontribusi lebih besar terhadap ketahanan pangan dan energi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Dapatkan Emagazine Agricom edisi Oktober 2026 untuk informasi lengkap.
