RSPO Tegaskan Komitmen Transparansi dan Akuntabilitas dalam Penanganan Krisis Kebakaran di Indonesia

AGRICOM
Dok. Agricom / CEO RSPO, Joseph D’Cruz, menyerukan kepada seluruh Anggota Bersertifikat RSPO untuk secara aktif menyuarakan komitmen mereka dengan menunjukkan data, fakta, serta bukti nyata atas tindakan yang telah dilakukan dalam upaya pencegahan dan penanganan kebakaran, yang didukung oleh sistem RSPO.
CEO RSPO, Joseph D’Cruz, menyerukan kepada seluruh Anggota Bersertifikat RSPO untuk secara aktif menyuarakan komitmen mereka dengan menunjukkan data, fakta, serta bukti nyata atas tindakan yang telah dilakukan dalam upaya pencegahan dan penanganan kebakaran, yang didukung oleh sistem RSPO.

AGRICOM, JAKARTA – Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) menegaskan komitmennya terhadap transparansi dan akuntabilitas dalam menangani krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Organisasi tersebut menyatakan akan memperkuat pengawasan terhadap konsesi bersertifikat sekaligus mendorong seluruh anggotanya menunjukkan bukti nyata pelaksanaan pencegahan dan penanganan kebakaran.

Komitmen tersebut menjadi salah satu sorotan utama dalam Roundtable Conference on Sustainable Palm Oil (RT2026) yang berlangsung pada 3 November 2026. Pertemuan tahunan ini mempertemukan para pemangku kepentingan industri sawit global untuk membahas langkah konkret memperkuat keberlanjutan di tengah meningkatnya tekanan lingkungan, dinamika geopolitik, dan perubahan pasar internasional.

Bacaan Lainnya

BACA JUGA: RSPO Dorong Respons Terpadu Hadapi Kebakaran dan Asap di Indonesia

CEO RSPO Joseph D’Cruz menegaskan bahwa industri kelapa sawit tidak seharusnya menghindari pengawasan publik. Sebaliknya, seluruh pelaku industri perlu menunjukkan keterbukaan dan kesediaan mempertanggungjawabkan praktik operasionalnya.

“Kami bukan industri yang berusaha menghindari pengawasan. Kami adalah sebuah kemitraan yang melakukan pemantauan terhadap diri kami sendiri secara lebih ketat dibandingkan pihak mana pun yang melakukan pengawasan terhadap kami,” ujar D’Cruz dalam pidato utamanya, yang dihadiri Agricom, Selasa (3/11) di Jakarta.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kondisi karhutla Indonesia yang semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan analisis citra satelit Nusantara Atlas, kebakaran telah melanda lebih dari 1,9 juta hektare wilayah Indonesia selama Januari hingga September 2026, di tengah fenomena El Niño yang tergolong sangat kuat.

BACA JUGA: RSPO Tegaskan Toleransi Nol Pembakaran, Perketat Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Jelang RT2026

Konsesi Bersertifikat Terdampak Lebih Rendah

Mengacu pada data pemantauan satelit Nusantara Atlas dan TreeMap, RSPO menyebut sekitar 14.500 hektare atau 0,8% dari total luas area terbakar terkonfirmasi berada di dalam konsesi bersertifikat RSPO.

Angka tersebut menjadi dasar bagi RSPO untuk menegaskan bahwa konsesi yang menerapkan standar sertifikasi keberlanjutan memiliki tingkat keterpaparan kebakaran yang jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata industri.

BACA JUGA: Harga Referensi CPO November 2026 Turun 6,07% Jadi US$978,90/MT, BK Ditetapkan US$124 dan PE 12,5%

Namun, RSPO menegaskan bahwa temuan tersebut tidak berarti seluruh konsesi bersertifikat terbebas dari risiko kebakaran. Organisasi ini tetap akan menindaklanjuti indikasi kebakaran yang dinilai tidak lazim melalui mekanisme pemantauan dan investigasi.

D’Cruz mengungkapkan, salah satu konsesi yang teridentifikasi saat ini telah menjadi subjek pengaduan melalui Sistem Pengaduan RSPO. Sementara itu, konsesi lainnya akan terus dicermati untuk memastikan kepatuhan terhadap standar dan ketentuan keberlanjutan.

RSPO juga menyampaikan bahwa berdasarkan hasil analisis yang dipaparkan, tidak ditemukan area terbakar di perkebunan petani swadaya bersertifikat, meskipun sejumlah kelompok petani berada di wilayah yang turut terdampak kebakaran.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Jumat (30/10) Naik Jadi Rp15.125/Kg, Bursa Malaysia Menguat hingga RM65 per Ton

Hingga saat ini, menurut D’Cruz, belum terdapat data maupun bukti yang menunjukkan bahwa unit bersertifikat RSPO secara sengaja melakukan pembakaran lahan.

Meski demikian, tantangan pembuktian dan pengawasan tetap menjadi pekerjaan penting bagi seluruh anggota RSPO, terutama dalam memastikan bahwa komitmen keberlanjutan benar-benar diterapkan di lapangan.

D’Cruz meminta anggota RSPO tidak hanya mengandalkan sertifikasi sebagai bukti kepatuhan, tetapi juga aktif menyampaikan data, fakta, serta dokumentasi tindakan pencegahan dan penanganan kebakaran.

BACA JUGA: Harga Referensi Kakao November 2026 Anjlok 7,33% Jadi US$5.613,60 per Ton, BK dan PE Ditetapkan 7,5%

Menurutnya, sikap diam ketika industri menghadapi kritik justru dapat memperbesar ruang bagi informasi yang tidak akurat untuk membentuk persepsi publik.

Ia mengingatkan bahwa upaya membangun sistem keberlanjutan selama dua dekade terakhir harus dipertahankan melalui keterbukaan dan tanggung jawab bersama.

 

Petani Swadaya Jadi Bagian Penting Transformasi Sawit

Selain isu karhutla, RT2026 juga menyoroti peran strategis petani swadaya dalam membangun rantai pasok minyak sawit berkelanjutan.

Petani swadaya menghasilkan hampir separuh produksi minyak sawit Indonesia. Indonesia juga menjadi rumah bagi sekitar 77% petani swadaya bersertifikat RSPO di seluruh dunia. Kondisi tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat penting pengembangan sertifikasi dan pemberdayaan petani kecil dalam rantai pasok global.

BACA JUGA: Harga Karet SGX–SICOM 2 November 2026 Turun Rp625 Jadi Rp44.468/Kg, Petani Diminta Waspada

Dalam konferensi tahun ini, RSPO memberikan pengakuan kepada 45 kelompok petani swadaya baru dari Kolombia, Indonesia, Malaysia, Peru, dan Thailand yang berhasil menyelesaikan proses sertifikasi awal.

Pengakuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas keterlibatan petani swadaya dalam sistem perdagangan minyak sawit berkelanjutan, sekaligus meningkatkan peluang mereka memperoleh manfaat ekonomi dari praktik produksi yang bertanggung jawab.

Salah satu perkembangan penting datang dari India. Patanjali Foods Limited, perusahaan yang bergerak di bidang produk konsumen dan jaringan ritel, untuk pertama kalinya membeli Kredit RSPO untuk Minyak Sawit Berkelanjutan Bersertifikat Petani Swadaya atau Independent Smallholder Certified Sustainable Palm Oil (IS-CSPO Credits).

BACA JUGA: Astra Agro Lestari Resmi Jadi Anggota RSPO, Bidik Sertifikasi Sawit Berkelanjutan

Pembelian tersebut menjadikan Patanjali Foods Limited sebagai merek pertama di India yang mendukung petani swadaya melalui mekanisme Kredit RSPO.

Inisiatif ini memperlihatkan bahwa mekanisme kredit keberlanjutan dapat menjadi salah satu instrumen untuk menghubungkan komitmen pembeli dengan peningkatan kapasitas dan kesejahteraan petani swadaya.

 

Perluas Akses Pasar melalui Kredit RSPO

RSPO juga kembali menyelenggarakan Independent Smallholder Business Matching untuk mempertemukan kelompok petani swadaya dengan perusahaan dan pembeli Kredit RSPO.

Forum tersebut membuka peluang kolaborasi komersial, terutama dengan perusahaan yang berinvestasi dalam program pemberdayaan petani jangka panjang dan sertifikasi melalui pembelian kredit keberlanjutan.

BACA JUGA: Pengamat Sebut Mafia Pangan Tidak Ada, Mentan Amran: “Ini Mafianya!”

Dalam kesempatan yang sama, RSPO memberikan penghargaan kepada sejumlah anggota dengan kinerja terbaik dalam pembelian Kredit Petani Swadaya selama periode November 2025 hingga September 2026.

Tiga pembeli terbesar Kredit Petani Swadaya adalah Kao Corporation, Nestlé S.A., dan Unilever PLC. Sementara itu, Lakeland Dairies Co-operative Society Limited memperoleh pengakuan sebagai pembeli baru dengan kinerja unggul.

Adapun Pitak Palm Oil Company Limited menerima penghargaan sebagai pembeli terbesar Tandan Buah Segar (TBS) Bersertifikat.

BACA JUGA: Karhutla Kalimantan Tengah Soroti Rantai Pasok Sawit Global

Melalui RT2026 yang mengusung tema Strong Foundations – Impact in Action, RSPO menekankan bahwa keberlanjutan industri sawit tidak cukup hanya diukur dari kepatuhan terhadap standar dan ketertelusuran rantai pasok.

Dampak nyata terhadap perlindungan hutan, keanekaragaman hayati, pengendalian perubahan iklim, penghormatan hak masyarakat, serta peningkatan kesejahteraan petani harus menjadi tolok ukur utama.

Bagi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, tantangan berikutnya adalah memastikan komitmen tersebut diwujudkan melalui tindakan terukur di lapangan. Transparansi data kebakaran, pengawasan konsesi, serta keterlibatan petani swadaya menjadi bagian penting dalam menjaga kredibilitas industri sawit berkelanjutan di pasar global.  (A3)

Pos terkait