AGRICOM, Yogyakarta — Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) Yogyakarta meluncurkan Sekolah Kopi Nusantara (SKN) sebagai bagian dari upaya memperkuat pengembangan sumber daya manusia dan ekosistem industri kopi nasional.
Peluncuran SKN berlangsung di GRHA INSTIPER, Sabtu (5/9/2026), bersamaan dengan kegiatan ceramah motivasi bagi mahasiswa baru dan civitas akademika dalam rangka penyambutan tahun akademik 2026/2027. Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Prof. Dr. Ir. H. Rachmat Pambudy, MS.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor INSTIPER Dr. Ir. Harsawardana, M.Eng. mengatakan kehadiran Menteri PPN/Kepala Bappenas menjadi momentum penting bagi 1.135 mahasiswa baru untuk memperoleh wawasan mengenai peran generasi muda dalam pembangunan nasional.
BACA JUGA: 28 Persen Areal Kopi Berpotensi Kering, Kementan Perkuat Budidaya Adaptif Iklim
“Bidang perkebunan memiliki peranan krusial terhadap pembangunan Indonesia, mulai dari sumbangan terhadap devisa negara, menciptakan lapangan kerja, serta mendukung pembangunan di remote area,” kata Harsawardana, dalam keterangan resmi yang diterima Agricom, Sabtu (5/9/2026).
Menurutnya, mahasiswa yang memilih INSTIPER diharapkan dapat menjadi sumber daya manusia unggul yang berperan aktif dalam pengembangan sektor perkebunan dan kehutanan Indonesia.
Sementara itu, Rachmat Pambudy mendorong mahasiswa baru menjadikan pendidikan tinggi sebagai ruang untuk membangun kompetensi, karakter, dan kesiapan menghadapi dunia kerja serta berbagai persoalan nyata di masyarakat.
BACA JUGA: Kementan Siapkan Rp2,3 Triliun untuk Hilirisasi Perkebunan pada 2027
“Indonesia membutuhkan kalian, generasi muda yang siap berkarya membangun Indonesia. Bidang perkebunan dan kehutanan merupakan bidang yang terus berkembang dan telah mendukung pembangunan Indonesia,” ujarnya.

Bangun Ekosistem Pendidikan Kopi
Selain memberikan ceramah motivasi, kehadiran Rachmat Pambudy juga menjadi bagian dari peluncuran Sekolah Kopi Nusantara. Program tersebut dirancang INSTIPER sebagai ekosistem pembelajaran yang mengintegrasikan pendidikan formal dan nonformal untuk memenuhi kebutuhan SDM industri kopi dari hulu hingga hilir.
Peluncuran ditandai dengan menuangkan kopi hasil roasting secara bersama-sama ke dalam mesin grinder. Prosesi tersebut menjadi simbol kolaborasi berbagai pihak dalam pengembangan Sekolah Kopi Nusantara.
Program ini melibatkan Dewan Kopi Indonesia, INSTIPER, serta Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) sebagai bagian dari pengelolaannya.
Sekolah Kopi Nusantara mengembangkan jalur pendidikan nonformal melalui tiga tingkatan program, yakni Micro Skill Program selama 3–5 hari, Applied Coffee Skills selama 10–12 hari, dan Professional Coffee Academy selama 10–12 minggu.
Pembelajaran dirancang berbasis kompetensi dengan komposisi 25% teori dan 75% praktik.
BACA JUGA: Dukung Inpres 11/2026, GAPKI Dorong Gotong Royong dan Kesiapsiagaan Cegah Karhutla
Sementara pada jalur formal, pengembangan kompetensi dilakukan secara bertingkat melalui D1 AKPY STIPER, D3 Politeknik Industri Perkebunan (PIP STIPER), dan S1 INSTIPER.
Struktur tersebut memungkinkan peserta mengembangkan kompetensi mulai dari tingkat operator terampil dan supervisor unit hingga menjadi analis, perancang, dan inovator dalam sistem kopi berkelanjutan.
Dr. Ir. Purwadi menjelaskan, Sekolah Kopi Nusantara dirancang untuk menjawab kebutuhan SDM perkopian secara menyeluruh.
BACA JUGA: Harga Karet SGX-Sicom Jumat (4/9) Turun Rp203, Tertinggi Rp40.958 per Kg
“Peserta tidak hanya belajar tentang budidaya, tetapi juga pengolahan, mutu, roasting, brewing, barista, hingga bisnis kopi,” jelasnya.
Kurikulum Terintegrasi
Kurikulum SKN mencakup berbagai kompetensi, mulai dari Fondasi Kopi Nusantara dan Profesionalisme, Agroekosistem dan Pembentukan Kebun, Produksi Kopi Berkelanjutan, Panen dan Pengolahan Pascapanen, hingga Mutu dan Traceability.
Materi juga mencakup Roasting dan Sensori, Brewing dan Espresso, Barista dan Operasi Layanan, Bisnis dan Rantai Nilai Kopi, serta Immersi Industri dan Proyek Akhir.
BACA JUGA: Anggaran Kementan Rp28,02 Triliun pada 2027, Bawang Putih Jadi Prioritas Baru
Untuk mendukung pembelajaran, ekosistem pendidikan SKN memanfaatkan fasilitas yang dimiliki YPKPY/INSTIPER. Fasilitas tersebut antara lain SEAT Ungaran untuk pembelajaran sektor hulu, Pilot Plant Pengolahan Hasil Perkebunan untuk pengolahan dan pengembangan mutu, serta INSTIPER Lab Coffee untuk pembelajaran sektor hilir seperti brewing, espresso, sensori, layanan, dan bisnis kopi.
Pembelajaran juga dirancang menghubungkan perguruan tinggi dengan dunia industri dan kebutuhan masyarakat melalui kegiatan kampus, praktik lapangan, proyek industri, serta asesmen berbasis bukti kompetensi.
Salah satu keunggulan konsep SKN adalah keterhubungan antara jalur pendidikan nonformal dan formal. Kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan nonformal dapat diakumulasi dan direkognisi untuk dilanjutkan ke jenjang pendidikan formal melalui mekanisme Recognition of Prior Learning (RPL).
Dengan model tersebut, Sekolah Kopi Nusantara diharapkan berkembang bukan sekadar sebagai pusat pelatihan, tetapi menjadi ekosistem pembelajaran yang menghasilkan SDM profesional sekaligus mendorong inovasi dan penguatan industri kopi nasional.
Peluncuran SKN bersamaan dengan penyambutan mahasiswa baru juga menegaskan arah pendidikan INSTIPER yang semakin dekat dengan kebutuhan industri, teknologi, dan persoalan nyata di sektor pertanian serta agroindustri. (A3)



