Penguatan jaringan irigasi hingga ke lahan pertanian menjadi strategi Kementan menjaga produktivitas sawah dan menekan risiko gagal panen selama musim kemarau.
AGRICOM, BANDUNG — Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat infrastruktur pengairan pertanian di Jawa Barat dan Banten dengan membangun dan memelihara 999 unit jaringan irigasi tersier. Program ini ditujukan untuk memastikan pasokan air hingga ke lahan pertanian sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan di tengah musim kemarau yang bertepatan dengan fenomena El Nino.
Dilansir Agricom dari Kementan, Kamis (10/9). Penguatan jaringan irigasi tersebut menjadi salah satu fokus dalam Rapat Koordinasi dan Evaluasi Kegiatan Operasional dan Pemeliharaan (OP) Irigasi Tersier yang digelar di Bandung, Kamis (3/9/2026).
BACA JUGA: Mentan Amran Sidak Sawah Karawang, Targetkan Tanam Tiga Kali di Musim Kemarau
Direktur Irigasi Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan, Liferdi Lukman, mengatakan 999 unit jaringan irigasi tersier dialokasikan untuk Jawa Barat dan Banten melalui sejumlah skema anggaran.
Hingga saat ini, realisasi fisik kegiatan OP Irigasi Tersier telah mencapai 737 unit atau 73,77 persen. Sementara kegiatan yang bersumber dari Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian (BPLIP) mencapai 88,04 persen, atau 405 unit dari total alokasi 460 unit.
Adapun kegiatan yang bersumber dari anggaran aspirasi di Jawa Barat dan Banten masih dalam tahap verifikasi. Sejumlah lokasi kegiatan BPLIP juga tengah menjalani proses verifikasi setelah relokasi.
BACA JUGA: Mentan Amran: Produksi Beras Aman di Tengah El Nino, SPHP Ditambah 1 Juta Ton
Liferdi mengatakan penguatan jaringan irigasi menjadi semakin penting karena sebagian wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau yang berlangsung bersamaan dengan El Nino.
“Indonesia saat ini sudah memasuki musim kemarau yang bertepatan dengan El Nino, sehingga durasi kemarau di sejumlah wilayah cukup panjang, termasuk di Jawa Barat dan Banten.”
Menurut dia, ketersediaan air menjadi faktor utama dalam mempertahankan produktivitas pertanian. Karena itu, Kementan menyiapkan berbagai intervensi untuk menjaga pertanaman sekaligus menekan risiko gagal panen.
BACA JUGA: Agrinas Palma Nusantara Gelar Pasar Rakyat dan Cek Kesehatan Gratis di Labuhanbatu Utara
Pemanfaatan air permukaan dilakukan melalui perbaikan saluran tersier, pembangunan perpipaan, dan penggunaan pompa. Sementara untuk mengoptimalkan air tanah, pemerintah mendorong pembangunan sumur bor dan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT).
Kementan juga menyiapkan bantuan benih gratis bagi lahan yang mengalami gagal panen sehingga petani dapat segera kembali melakukan penanaman setelah kondisi memungkinkan.
Pandeglang Siapkan Antisipasi Kekeringan
Upaya pengamanan produksi juga dilakukan pemerintah daerah. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Pandeglang, Tanti Yulianti, mengatakan pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan.
Sekitar 300 hektare lahan di Pandeglang terindikasi mengalami kekeringan, sementara 19 hektare lainnya terdampak gagal panen.
BACA JUGA: 28 Persen Areal Kopi Berpotensi Kering, Kementan Perkuat Budidaya Adaptif Iklim
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pandeglang memperoleh alokasi 53 unit irigasi tersier dari Ditjen Lahan dan Irigasi Pertanian. Seluruh alokasi tersebut telah terealisasi 100 persen. Pemerintah daerah juga mengusulkan 101 unit pompanisasi untuk memperkuat pasokan air ke lahan pertanian.
“Petugas penyuluh kami bersama para petani rutin mengidentifikasi potensi sumber air tanah dan sumur bor agar lahan pertanian yang rentan kekeringan tetap terairi,” ujar Tanti.
Ia berharap dukungan pemerintah pusat terus diperkuat karena kemampuan anggaran daerah masih terbatas untuk menjangkau seluruh wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Kamis (10/9) Turun ke Rp15.666, CIF Rotterdam US$1.595
“Kami sangat mengharapkan dukungan penuh dari kementerian, khususnya Ditjen Lahan dan Irigasi Pertanian, mengingat keterbatasan anggaran daerah untuk menjangkau seluruh area yang mengalami kekeringan. Bantuan ini sangat dibutuhkan agar petani kami tetap bisa berproduksi,” katanya.
Irigasi Tersier Berbasis Digital
Dalam pelaksanaannya, kegiatan OP Irigasi Tersier dilakukan melalui skema Bantuan Pemerintah (Banpem) berbasis padat karya.
Mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 02 Tahun 2026, pengusulan kegiatan dilakukan melalui sistem e-Banper yang mengintegrasikan pendataan berbasis digitalisasi spasial. Data yang direkam mencakup titik koordinat, panjang saluran, hingga luasan jaringan irigasi.
BACA JUGA: Indonesia Kuasai 53,41% Pasar Pala Dunia, Tapi Ekspor Masih Terkendala Mutu
Penguatan jaringan irigasi juga dilakukan secara terpadu dengan Kementerian Pekerjaan Umum berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Irigasi.
Dalam pembagian tugas tersebut, Kementerian PU menangani jaringan irigasi primer dan sekunder, sedangkan Kementan berfokus pada penguatan jaringan tersier yang mengalirkan air hingga ke lahan pertanian.
Liferdi mengatakan efisiensi penggunaan air juga menjadi bagian penting dalam mempertahankan produktivitas selama musim kemarau. Salah satunya melalui penerapan Alternating Wetting and Drying (AWD) atau sistem pengairan macak-macak serta Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS).
Menurutnya, musim kemarau tidak selalu menjadi ancaman terhadap produksi. Dengan ketersediaan air yang memadai dan teknik budidaya yang tepat, intensitas sinar matahari yang lebih tinggi justru dapat mendukung pertumbuhan dan produktivitas tanaman.
“Air adalah faktor utama dalam pertanian. Karena itu, irigasi harus kita perbaiki dan pastikan air benar-benar sampai ke lahan pertanian agar petani bisa terus berproduksi,” tegas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Liferdi menambahkan, pemerintah meningkatkan dukungan anggaran untuk sektor irigasi hingga dua kali lipat sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan.
“Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, alokasi anggaran sektor irigasi ditingkatkan hingga dua kali lipat,” ujarnya.
Dengan penguatan jaringan pengairan dari tingkat primer hingga tersier, Kementan optimistis produktivitas sawah di Jawa Barat dan Banten dapat dipertahankan meski menghadapi tekanan musim kemarau.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi pemerintah mengawal produksi pangan nasional dan memperkuat kedaulatan pangan menuju Indonesia Emas 2045. (A3)


