Kementan menempatkan 1.000 pompa air di 500 titik rawan kekeringan di Grobogan untuk menjaga standing crop dan menekan risiko penurunan produksi padi serta jagung selama musim kemarau.
AGRICOM, GROBOGAN — Kementerian Pertanian (Kementan) menyalurkan 1.000 unit pompa air ke Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, sebagai langkah antisipasi kekeringan yang berpotensi mengganggu pertanaman dan produksi pangan selama musim kemarau.
Pompa tersebut akan ditempatkan di 500 titik yang telah dipetakan sebagai wilayah rawan kekeringan. Intervensi ini diarahkan untuk memastikan ketersediaan air bagi tanaman yang masih berada di lahan (standing crop), sekaligus menjaga produktivitas petani dan mendukung keberlanjutan pertanaman selama musim kemarau.
BACA JUGA: Kementan Bangun 999 Jaringan Irigasi Tersier di Jabar-Banten Hadapi El Nino
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman beberapa saat lalu menegaskan mitigasi kekeringan harus dilakukan sejak dini. Pemerintah tidak ingin menunggu lahan pertanian mengering hingga berdampak terhadap produksi.
“Mitigasi harus dilakukan sebelum terjadi kekeringan. Jangan menunggu sawah kering baru bergerak. Semua sumber daya harus digerakkan agar air tetap tersedia, pertanaman tetap berlangsung, dan produksi pangan nasional tetap aman,” tegas Mentan Amran, dikutip Agricom dari laman Kementan, Rabu (16/9).
Kabupaten Grobogan menjadi salah satu wilayah prioritas karena memiliki potensi kekeringan pada lahan sawah tadah hujan mencapai 47.338 hektare. Daerah tersebut juga merupakan salah satu sentra produksi padi nasional.
BACA JUGA: Kementan Siapkan AUTP 100 Ribu Hektare untuk Lindungi Petani dari Risiko Gagal Panen
Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Andi Nur Alamsyah mengatakan penempatan pompa dilakukan berdasarkan pemetaan wilayah rawan kekeringan serta ketersediaan sumber air yang masih dapat dimanfaatkan.
“Pompanisasi menjadi salah satu instrumen utama mitigasi kekeringan di sektor pertanian. Kami memetakan wilayah yang memiliki potensi kekeringan sekaligus mengidentifikasi sumber air yang masih dapat dimanfaatkan,” kata Andi.
Dia mengatakan 1.000 pompa tersebut ditargetkan membantu menjaga pertanaman padi di Grobogan, termasuk mendukung percepatan tanam.
BACA JUGA: Kekeringan Ancam Lahan Pertanian, BRMP Kaltim Petakan Sumber Air untuk Irigasi
“Di Grobogan kami menyiapkan 1.000 unit pompa air yang akan ditempatkan pada titik-titik rawan kekeringan. Bantuan ini diharapkan mampu mengoptimalkan pemanfaatan sumber air yang tersedia sehingga standing crop tetap terjaga dan produksi padi tetap terpelihara meskipun menghadapi musim kemarau,” ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan Wakid Mutowal mengatakan saat ini terdapat sekitar 1.000 hektare tanaman padi yang mendekati masa panen dan berpotensi terdampak kekeringan. Selain itu, terdapat 1.394 hektare tanaman jagung berusia sekitar 85 hari setelah tanam (HST) yang juga masuk wilayah berisiko.
“Untuk tanaman padi ada sekitar 1.000 hektare menjelang panen yang terancam kekeringan. Jagung sekitar 1.394 hektare umur 85 HST yang terancam kekeringan. Meski demikian masih aman sampai panen, apalagi adanya intervensi pompanisasi ini,” jelas Wakid.
BACA JUGA: Kakao Tak Sekadar Biji, Hasil Samping Berpeluang Jadi Sumber Pendapatan Baru
Menurutnya, pemerintah daerah juga menyiapkan sumber air lokal untuk mendukung optimalisasi pompa. Salah satunya dengan mengidentifikasi potensi air tanah dangkal dan membangun sumur dangkal di sejumlah wilayah rawan kekeringan.
“Sumur tersebut menjadi sumber air bagi pompa bantuan Kementerian Pertanian untuk mengalirkan air ke lahan pertanian yang mulai mengalami kekeringan. Dengan pendekatan ini, bantuan pompa dapat dimanfaatkan secara optimal dan tepat sasaran,” ujarnya.
Petani penerima bantuan dari Poktan Margo Mulyo, Kecamatan Toroh, Nyomo, mengatakan pompa tersebut membantu petani yang selama ini bergantung pada curah hujan.
“Dulu kami hanya mengandalkan hujan. Saat kemarau datang, tanaman sering kekurangan air dan hasil panen menurun. Sekarang dengan adanya pompa bantuan, kami bisa mengambil air dari sumur maupun sumber air di sekitar sawah sehingga tanaman tetap terairi,” ungkapnya.
Kementan menyebut program pompanisasi di Grobogan menjadi bagian dari langkah mitigasi kekeringan sekaligus adaptasi sektor pertanian terhadap perubahan iklim. Pemerintah menargetkan intervensi tersebut dapat menjaga pertanaman, menekan risiko gagal panen, dan mempertahankan produksi pangan di tengah musim kemarau. (A3)








